Darling in the Franxx (First Arc) – Review: Drama Dalam Kokpit Mecha

User Rating: 7

[Artikel dibawah mengandung spoiler Darling in the Franxx hingga episode 14, dan potensi spoiler untuk seri Kiznaiver]

Walaupun agak terlambat, tetapi biar saya mulai dulu dengan mengatakan kalau cour/arc pertama serial Darling in The Franxx sudah selesai, dan sekarang serial Darlifra sendiri sudah memasuki cour kedua dengan dua episode terbarunya. Episode ke-14 yang baru keluar sendiri ngebawain kehebohan tersendiri kedalam fandom Darlifra,

Darling in The Franxx merupakan proyek kolaborasi antara studio TRIGGER dan studio A-1. Menceritakan tentang dunia post-apocalypse, di mana manusia hidup dalam kubah bergerak, dan keberadaan mereka diancam oleh mkahluk buas raksasa yang disebut Klaxosaur. Untuk melawan makhluk itu, anak-anak remaja dibesarkan dan dilatih secara khusus untuk mengendalikan robot raksasa yang disebut FRANXX. Protagonis cerita ini adalah Hiro, seorang remaja Squad 13 yang terus menerus gagal dalam tes pilot FRANXX, hingga ia bertemu perempuan misterius dengan code name Zero Two.

Sejujurnya buat saya sendiri, serial animasi yang satu ini kurang memenuhi ekspektasi. Kenapa? Karena nama studio TRIGGER yang tertera langsung ngebuat semua bayangan tentang seri ini bakal punya banyak adegan pertarungan antar mecha setipe Gurren Lagann, dan komedi lebay ala Kill la Kill atau Space Patrol Luluko. Apalagi pas desainer mecha Gurren Lagann juga ambil andil dalam pembuatan anime ini.

Kemudian, baru saya ingat kalau ini adalah projek kolaborasi sama studio A-1. Studio yang kondang dengan anime-anime drama dan slice of life yang diterima sama kalangan otaku. sebut saja Ano Hana yang sukses buat jutaan orang menangis. Karena tidak sepenuhnya merupakan proyek satu studio, akan sangat memungkinkan kalau masing-masing studio membawa keunikannya sendiri. TRIGGER dengan aksinya, dan A-1 dengan cerita dramanya.

Bukan Pertama Kali

Tidak bermaksud melimpahkan seluruh efek drama ini kepada A-1, TRIGGER sendiri sebenarnya sudah pernah bereksperimen dengan genre drama dan slice of life. Pada tahun 2016 lalu, mereka merilis anime berjudul Kiznaiver.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anime Kiznaiver sendiri bercerita tentang sekelompok anak muda yang dikumpulkan oleh seorang karakter cewek misterius. Mereka dipaksa untuk ikut berpartisipasi dalam program ‘Kizuna system’. Sebuah program dimana masing-masing anggota dipaksa untuk merasakan rasa sakit anggota lainnya, untuk dapat memahami satu sama lain, sehingga semua partisipan dapat hidup berdampingan.

Ada banyak persamaan antara Kiznaiver dengan anime Darlifra ini, selain salah satunya adalah sama-sama memiliki aspek science-fiction, Darlifra dan Kiznaiver juga menonjolkan interaksi antar karakter, serta membangun jalan cerita cinta segitiga diantaranya.

Akan tetapi, latar cerita yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat Kiznaiver dapat lebih diterima dari aspek drama. Berbeda dengan Darling in The Franxx, yang mengambil latar post-apocalypse, dimana sisa keberadaan manusia berusaha bertahan hidup dari monster Klaoxsaurs yang mengincar kegiatan pertambangan. Drama antar karakter yang muncul akan memiliki banyak hubungan dengan situasi dunia tersebut, terlebih ketika kita mengetahui kalau pilot-pilot FRANXX merupakan anak yang dididik untuk melawan monster-monster tersebut.

Dengan fokus hubungan antar karakter, world-building jadi minim

Pada episode lima dan enam, terlihat perbedaan Squad 13 (kelompok Hiro, dkk) dengan Squad dari Plantation lain. FRANXX yang dimiliki Squad 13 terlihat lebih variatif, dan hubungan antar anggota Squad terasa lebih fleksibel, sementara Squad dari Plantation lain lebih kaku dan memiliki desain FRANXX yang relatif sama.

Keunikan Squad 13, dalam aspek mecha dan hubungan antar karakter ini terlihat seperti memiliki clue tentang rencana besar yang sepertinya sedang disiapkan oleh para orang dewasa di Plantation. Tapi, minimnya interaksi antar orang dewasa sendiri, membuat penonton hanya bisa mengira-ngira aspek cerita itu lewat kacamata para angota Squad. Hal ini yang mungkin membuat satu cour ini ramai dengan ‘perang tikung’ satu karakter dengan karakter yang lain.

Kemunculan orang dewasa sebagian besar hanya sebagai pengamat. Visualisasi gaya hidup mereka hanya tampak di scene ini tanpa penjelasan lebih lanjut.

Walau baper, tetap decent

Setelah panjang lebar mempermasalahkan aspek drama yang terasa memborgol keseluruhan aspek cerita, bukan berarti Darling in the Franxx gagal sebagai anime mecha. Dalam sekuen aksi seperti pada episode 6, terlihat gaya animasi yang sangat mirip dengan Gurenn Lagann.

Strelizia perlu di nerf dan kasih Franxx lainnya kesempatan unjuk gigi.

Untuk perkembangan antar karakterpun, saat ini pasangan Hiro-Zero Two kembali menjadi fokus utama. Dengan terkuaknya Masa lalu Zero Two bersama Hiro, tinggal menunggu waktu terkuaknya misteri-misteri yang belum terjawab sebelumnya, seperti ras ‘iblis’ macam apa Zero Two? Apa mereka memiliki hubungan dengan kemunculan Klaoxsaurs? serta apa yang direncanakan orang dewasa dengan ‘keunikan’ para anggota Squad 13?

 

Bonus: The Neverending Waifu War (Again)

Episode 14 tiba-tiba jadi buah bibir di internet karena konklusi dari episode sebelumnya nggak diharapkan para fans. Zero-Two dan Hiro yang akhirnya inget masa lalu mereka tiba-tiba pecah, dan hubungan mereka makin dijauhi berkat anggota Squad 13 (yang dipimpin Ichigo) dengan dalih melindungi Hiro dari Zero Two yang sudah membunuh banyak rekan pilot.

Fandom tiba-tiba jadi ramai dengan meme yang kebanyakan mendiskreditkan Ichigo. Berbagai akun sosmed meposting status yang isinya mencaci staf produksi, membatalkan pemesanan SHF Ichigo, hingga isu surat kaleng untuk seiyuu Ichigo: Ichinose Kana. Meski belakangan diketahui kalau kabar terkait surat kaleng ini ternyata hoax.

Waifu War, entah itu sejak jaman Rei vs Asuka, sampai Chitoge vs Onodera selalu memecah fandom jadi dua kubu dengan argumen ‘waifu x is sh*t, waifu y is better’. Walau oke-oke aja kalau kalian punya karakter yang difavoritkan, lebih baik kalau tidak ada aksi radikal seperti mengancam staff produksi, sebenci apapun kalian terhadap jalan ceritanya.

 

Summary
Unique, but not for everyone. Tiga belas episode pertama Darling in the Franxx memilih untuk lebih menonjolkan hubungan emosional antar karakter, serta drama cerita cinta segitiga. Tema cerita Darling in the Franxx mungkin terlalu baper untuk penonton yang lebih mencari aksi pada genre yang bersangkutan. Jika kamu lebih menyukai tema militer dan aksi, season baru Full Metal Panic, lebih cocok untukmu.
Good
  • Art ala TRIGGER yang khas, terutama bagi para penggemarnya.
  • Fokus pada pengembangan karakter membuat penonton akrab dengan para tokoh di dalamnya.
Bad
  • World-building dikorbankan demi perkembangan antar karakter.
  • minim aksi untuk standar TRIGGER
7
Good
Written by
Pencari gem anime terbaik setiap season, cita-citanya yang paling besar adalah jadi karakter OP di seri isekai.

Is the Story Interesting?

2 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>