Captain Tsubasa, Inspirasi dan Semangat Sepak Bola Jepang

Anime Tsubasa yang tayang 1983 ini kemudian menginspirasi banyak orang di dunia untuk bisa sukses sepertinya dalam sepak bola.

Berlari di tengah lapangan rumput yang hijau

Bola di kakinya

Bergulir dengan lincah

 

Lari, lari, lari (lari, lari, lari)

Tendang dan berlari

Dengan tendangan halilintar dia cetak gol

 

Saat itu, dialah

Pahlawan kita

 

Anak Indonesia angkatan 1990-an tentu familiar sama lirik lagu di atas. Yup, itu adalah lirik lagu opening dari anime Captain Tsubasa versi bahasa Indonesia yang pernah ditayangkan oleh beberapa televisi swasta nasional di awal tahun 2000-an.

Di jaman itu, siapa sih yang nggak kenal sama “Pasangan Emas” dari SD Nankatsu, Oozora Tsubasa dan Taro Misaki? Penyerang andalan SD Meiwa, Kojiro Hyuga yang terkenal dengan jurus “Tendangan Harimau”? Dan juga tentu saja kiper nomor satu SD Shutetsu, Genzo Wakabayashi? Pasti pada kenal dong, bahkan coba meniru gaya mereka.

Tsubasa dan kawan-kawannya diciptakan oleh mangaka Yoichi Takahashi pada tahun 1981. Sang mangaka terinspirasi untuk membuat sebuah komik bertema sepak bola setelah menyaksikan Piala Dunia 1978 yang diselenggarakan di Argentina melalui layar televisi. Dalam wawancara dengan Nippon.com, Takahashi menyebutkan bahwa sejak itu ia mulai melakukan riset terhadap sepak bola, sebuah olahraga yang sangat asing di Jepang pada saat itu. Pada tahun 1970 sampai 1980-an, sepak bola bukanlah olahraga terkenal di Jepang, pamornya jauh tertinggal dibandingkan baseball yang bisa dibilang olahraga nasional di sana.

Namun, situasi tersebut langsung berubah ketika manga-nya, Captain Tsubasa terbit. Perlahan tapi pasti, anak-anak Jepang mulai tertarik dengan sepak bola dan memiliki mimpi yang sama dengan Tsubasa, menjadi yang terbaik dalam sepak bola.

Kepopuleran Tsubasa nggak lepas dari “jurus-jurus” yang menjadi ciri khas dalam cerita di manga-nya. Misalnya “Tendangan Jarak Jauh” yang menjadi teknik andalan Tsubasa, “Tendangan Harimau” milik Hyuga, hingga trik-trik akrobatik (yang udah pasti nggak mungkin dilakukan dalam pertandingan nyata) milik Tachibana Bersaudara.

Cerita juga menjadi salah satu faktor kepopuleran manga ini. Dalam kisahnya kita bisa melihat bagaimana perkembangan Tsubasa dan kawan-kawannya, dari sekumpulan bocah SD yang mengikuti turnamen nasional, sampai bisa meniti karir ke panggung sepak bola profesional dan membawa Jepang bersaing di kompetisi tingkat dunia.

Captain Tsubasa sebenarnya bukan manga pertama yang mengangkat tema sepak bola. Sebelumnya publik Jepang sudah mengenal The Red-Blooded Eleven karya Ikki Kajiwara dan Downtown Samurai karya Shinji Mizushima di tahun 1968. Namun, Tsubasa adalah manga sepak bola pertama yang berhasil meraih tingkat kepopuleran di tingkat internasional, sejajar dengan Dragon Ball atau Doraemon. Bahkan bisa menginspirasi orang-orang untuk bermain sepak bola.

Tsubasa juga lah yang membuka jalan bagi manga bertema sepak bola berikutnya seperti Offside, Shoot, maupun Whistle hingga judul-judul tersebut bisa diterima oleh publik Jepang.

Kepopuleran Captain Tsubasa pun disebut-sebut menjadi pemicu kebangkitan sepak bola Jepang. Tahun 1992, 11 tahun setelah “kelahiran” Tsubasa, Jepang menyelenggarakan  J-League, liga sepak bola pertama di Jepang dan 10 tahun kemudian, seperti yang kita semua ketahui, Jepang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama dengan Korea Selatan.

Meski begitu, kepopuleran Tsubasa ternyata nggak selalu membawa efek positif. Penonton setia sang kapten tentu hafal posisi favorit Tsubasa saat bertanding, gelandang serang alias posisi nomor 10, berposisi tepat di belakang penyerang dan menjadi playmaker utama dalam tim.

Oleh karena itu, hampir seluruh penonton Tsubasa berusaha bermain seperti sang kapten, yang berimbas pada keseimbangan tim nasional Jepang saat ini. Yap, karena Tsubasa, Jepang dipenuhi pemain tengah yang berkualitas, tapi terus kesulitan untuk mencari penyerang murni dan pemain bertahan yang mumpuni untuk tim nasionalnya.

Shinji Kagawa, pesepakbola Jepang yang terinspirasi Tsubasa untuk menjadi yang terbaik. Ia sukses bersama Manchester United dan Borussia Dortmund, yang merupakan klub sepak bola papan atas Eropa.

Bahkan, kalau kita melihat deretan pemain Jepang berhasil tembus ke Liga Eropa didominasi oleh pemain berposisi gelandang serang. Sebut saja Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura, Shinji Kagawa, Keisuke Honda, hingga Shinji Okazaki yang musim lalu berhasil meraih gelar Liga Inggris bersama Leicester City.

Nggak cuma berhenti di tanah kelahirannya, kepopuleran sang kapten pun terus meningkat ketika manga dan anime-nya mulai disiarkan di luar Jepang. Selain Indonesia, Tsubasa juga ditayangkan di daerah Timur Tengah dengan judul Captain Majed, daerah Amerika Selatan dengan judul Supercampeones. Fans di Amerika mengenal tayangan ini dengan judul Flash Kicker. Sementara di Eropa Captain Tsubasa tayang dengan nama Oliver and Benji, di mana Oliver adalah Tsubasa sementara Benji adalah Wakabayashi.

Kepopuleran Tsubasa di Eropa bahkan bisa disejajarkan dengan kepopuleran di tanah kelahirannya. Beberapa pesebak bola dunia seperti Fernando Torres, Andres Iniesta, dan Alesandro Del Piero terang-terangan menyebut dirinya sebagai fans berat Tsubasa! Lebih hebatnya lagi, Torres, yang kini bermain untuk Atletico Madrid bahkan menyebut dirinya mulai meniti karir sebagai pesepak bola profesional karena terinspirasi dari acara anak-anak asal Negeri Matahari Terbit tersebut.

Di antara kalian ada juga yang terinspirasi Tsubasa dan ingin membawa tim nasional Indonesia berlaga di Piala Dunia? Semoga deh ya bisa terwujud!

Written by
I'm just a man who likes playing a game, watching movies, tv series, Dragon Ball, Digimon, Attack on Titan, and Kamen Rider.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>