Lakukan 4 Hal Ini Kalau Traveling ke Tokyo, Jepang

Pengalaman yang bikin nagih untuk kembali lagi ke Jepang, yaitu belanja di Comic Market. (photo by Bagus Surya)

Agustus kemarin, pertama kalinya salah satu tim JoyPixel which is me, Bagus, traveling ke Tokyo, Jepang sendirian. Literally alone… Selama 9 hari, saya melihat keseharian orang-orang sekitar dan mencoba ngobrol sedikit dengan kemampuan bahasa Jepang yang pas-pasan.

Meski dengan kemampuan berbahasa yang pas-pasan, rasanya sangat senang karena setelah belajar sekian tahun akhirnya digunakan juga. Seperti saat memesan sesuatu di restoran, itu pun menjadi kesenangan tersendiri. Atau saat membeli sesuatu di mini market yang saya lalui saat lagi haus maupun pengen ngemil.

Tentu pengalaman ini nggak mau saya simpan sendiri. Saya akan memberikan rekomendasi hal-hal yang yang harus kamu lakukan kalau suatu saat ada kesempatan untuk pergi ke Tokyo, Jepang. Perlu diingat bahwa ini berdasarkan semua hal yang saya lakukan saat traveling ke Tokyo selama 9 hari itu. Mungkin rekomendasinya nggak sesuai selera kamu, tapi nggak apa-apa kok…

Pergi ke Comic Market

Comic Market, atau yang disingkat Comiket, diadakan 2 kali setahun di Tokyo Big Sight saat musim panas dan musim dingin. Biasanya Comiket sendiri berlangsung selama tiga hari dan setiap harinya berbeda barang-barang yang ditawarkan.

Hari pertama berfokus pada Touhou dan CD musik dari berbagai macam composer. Sedangkan hari kedua berfokus pada barang-barang untuk cewek, dan hari ketiga untuk cowok. Semua barang yang dijual merupakan self-produced dan nggak dijual di Comiket aja. Biasanya setelah Comiket selesai, barang-barang yang dijual akan ada di toko beberapa hari setelahnya, tapi dengan harga yang lebih tinggi sedikit.

Buat saya, ini merupakan salah satu alasan kenapa saya ingin sekali pergi ke Tokyo. Pengalaman Comiket pertama sangat membekas dan sangat menyenangkan. Saya pergi di hari pertama dan hari terakhir. Saat hari pertama, saya menuju lokasi menggunakan kereta dan dalam kereta pun penuh dengan orang-orang dengan tujuan yang sama. Saya turun di stasiun tujuan dan memang dekat dengan lokasi Comiket.

Ratusan ribu orang keluar stasiun berbondong-bondong menuju Comiket tiada henti. Saat itu jam 8 pagi dan kabarnya orang-orang sudah ada yang ngantri dari jam 5 atau 6 pagi. Dengan membawa bekal dari mini market, saya pun ngantri setelah jalan sekitar 2 km mengikuti orang-orang yang sepertinya tahu di mana akhir antriannya. Jam 10 antriannya bergerak, jam 11 saya masuk ke lokasinya.

Mungkin untuk mencoba bagaimana rasanya ke Comiket bisa rasakan di Comic Frontier, tapi itu hanya secuil saja dari experience Comiket.

Main ke Arcade

At this point fotonya pake disposable camera

Saya ini tipenya tipe orang yang suka main game dan main-main ke Arcade itu juga harus. Arcade-Arcade di Jepang penuh sekali dengan game-game yang unik dan control yang berbeda untuk setiap gamenya. Contohnya mungkin kamu bisa ikut taruhan di game balap kuda virtual. Atau mungkin kamu bisa main-main UFO catcher di sana.

Kalau di Indonesia, pencapitnya hanya digunakan untuk mengabil boneka yang diinginkan saja. Tapi kalau dibandingkan dengan yang ada di Jepang, pencapitnya digunakan untuk mendorong hadiahnya atau memindahkan besi yang menahan hadiahnya untuk jatuh. Satu koin aja nggak cukup untuk memenangkan hadiahnya.

Tapi buat saya UFO catcher bukan fokusnya. Karena favorit saya adalah game-game musik yang hanya ada di Jepang. Saya menghabiskan kebanyakan waktu untuk bermain ke Arcade. Saya pergi ke Arcade yang dekat dengan stasiun Ikebukuro dan melihat macam-macam game musik yang ada di sana.

Salah satu game yang menangkap mata saya adalah Dance Rush Stardom. Game buatan Konami ini berfokus pada shuffle dance dan freestyling. Mesinnya punya stage yang mendeteksi gerakan kaki kita dan penuh lighting di mana-mana.

Ongeki dan layoutnya

Dan satu lagi yang menarik adalah game baru dari Sega yang berjudul Ongeki. Game ini baru saja dirilis di Jepang dan buat saya game ini seru dan bikin candu. Control-nya sangat unik yaitu terdiri dari sebuah joystik di tengah, 3 button di sisi kiri dan sisi kanan joystik, dan 1 tombol di sisi tembok kiri dan kanan.

Cara mainnya dengan menggerakan karakter sambil mengikuti jalur menggunakan joystick dan menghindari rintangan yang ada. Dan tombol-tombol yang ada dipakai seperti bermain game musik biasa. Emang apa sih yang bikin ini seru? Ya, sebenernya buat saya susah menjelaskannya sih, tapi mungkin video ini bisa dimengerti kenapa.

Jalan-jalan secara harfiah

Kadang kamu bingung pengen ke mana. Kamu pengen jalan-jalan tapi, nggak mau jauh-jauh dari tempat penginapan. Biasanya kalau jalan ke kota-kota besar di Tokyo kayak Shibuya suka banyak orang dan agak risih gitu.  Karena ini yang sempat terjadi sama saya waktu itu. Buat saya ini untuk menenangkan diri dari sibuk kota Tokyo dengan cara jalan-jalan aja, explore daerah sekitar.

Untuk jalan-jalan ini tergantung dari tujuan masing-masing sih ya. Bisa saja kamu lagi bawa kamera semacam DSLR atau mirrorless dan ingin foto-foto. Atau kamu ingin melepaskan penat dan ingin menenangkan diri saja. Atau ingin explore tempat-tempat baru tanpa bantuan Google atau semacamnya. Karena menurut saya ini salah satu hal yang paling enak untuk dilakukan ketika berada di Tokyo.

Tujuan saya waktu itu untuk menenangkan diri sejenak dengan cara jalan-jalan sekitar tempat penginapan. Barang bawaan yang minim dan jalan-jalan dengan santai. Yang saya temukan waktu itu di dekat tempat penginapan berbagai macam tempat makan, lokasi-lokasi vending machine, dan sebuah taman. Ujung-ujungnya beli minum dari vending machine dan duduk-duduk sebentar di taman menikmati pemandangan sekitar. Karena tujuan saya tadi, jadinya saya nggak banyak berfoto.

Mencoba berbagai macam jalur kereta

Saat di Jepang, kereta menjadi transportasi utama kalau ingin pergi ke mana-mana. Di Jepang sendiri ada monorail, subway, commuter line, dan banyak lagi. Dan menurut saya meluangkan satu hari aja cukup untuk menikmati perjalanan macam-macam kereta. Dari monorail sampai subway, paling nggak coba aja sekali.

Sebenarnya kalau kamu datangnya dari bandara Haneda, kamu bisa langsung nyobain monorailnya. Untuk mencoba kereta lainnya enaknya sudah diberi tahu untuk pindah ke jalur subway atau jalur JR. Tapi kalau mau dari sejak turun pesawat, lebih baik langsung ke tempat penginapan untuk menaruh koper dan yang lainnya.

Written by
Loves music from the depths of Japan

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>