Sejarah Ninja, Dari Medan Perang ke Panggung Hiburan

Dari sekian banyak hal berbau Jepang terkenal di seluruh dunia, ninja alias shinobi adalah salah satu konsep yang paling sering kita dengar. Sejarah ninja sebenernya panjang. Namun kalau dilihat sejenak saat ini, siapa coba anak jaman sekarang yang nggak kenal sama Uzumaki Naruto, si ninja tengil dari Konohagakure? Fans Super Sentai mungkin langsung ingat dengan Ninja Sentai Kakuranger, Ninpuu Sentai Hurricanger, atau Shuriken Sentai Ninninger kalau ngomongin ninja.

Dalam berbagai media – seperti yang kita tahu – ninja biasanya digambarkan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan super: bisa membelah diri, bisa mengeluarkan api, bisa menghilang, bisa berlari dengan cepat, bisa melompati pohon tinggi, dan lain sebagainya. Padahal, sejarah ninja sebenarnya yang hidup ratusan tahun lalu nggak seperti itu, JoyFriends! Mereka juga manusia biasa kayak kita, meski memang bisa dibilang para ninja tersebut memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata.

Istilah “ninja” juga sebenarnya terbilang baru, JoyFriends. Istilah ini baru populer setelah Perang Dunia II, kemungkinan karena lebih mudah diucapkan oleh orang-orang di Barat. Di jaman feodal Jepang dulu, istilah yang digunakan pada umumnya adalah Shinobi. Tapi selain itu, ada juga beberapa daerah di Jepang yang menyebut ninja dengan nama Rappa, Suppa, dan Kusa.

Menurut Yuji Yamada, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mie, istilah ninja/shinobi (忍者) udah tercatat dalam sejarah Jepang sejak jaman Nanboku-cho (1336-1392). Tapi, ninja sendiri diperkirakan udah eksis sejak abad ke-7 dan  berperan aktif dalam berbagai misi spionase dan kemiliteran hingga 1800-an.

“Tugas utama ninja adalah mengumpulkan informasi. Tugas utama ini sebenarnya sama di periode mana pun, tugas sampingannya lah yang berbeda di tiap zaman,” ujar Yamada dalam kuliah terbuka bertajuk “All About Ninja” yang diadakan oleh Japan Foundation, Minggu (15/7) lalu.

Di jaman Sengoku Jidai (abad ke-16) misalnya, para ninja tersebut umumnya mengabdi kepada Daimyo (tuan tanah). Selain mengumpulkan informasi dari pihak lawan, mereka biasanya ditugaskan untuk menyusup, mencuri, melakukan sabotase atau melancarkan serangan dadakan.

“Tapi dari semua itu, yang paling penting adalah bagaimana mereka memberikan informasi mengenai musuh kepada tuannya,” ungkap Yamada.

Bukan hanya menguasai Ninjutsu

Lebih lanjut lagi, Yamada menyebutkan kalau seorang ninja yang bertugas pada dasarnya sangat menghindari konflik atau baku hantam. Bagi mereka yang terpenting adalah kembali dengan selamat dan berhasil menyampaikan informasi yang didapat.

Untuk bisa menjalankan berbagai misi tersebut, seorang ninja tentunya harus mempunyai kemampuan atau ilmu tersendiri. Ilmu tersebutlah yang kemudian dikenal dengan nama Ninjutsu. Tapi sekali lagi, jangan bayangin Ninjutsu itu kayak yang ada di Naruto, Joyfriends.

Menurut Jinichi Kawakami, Direktur Kehormatan Ninja Museum of Igaryu, Ninjutsu aslinya adalah ilmu yang mempelajari teknik militer kuno seperti intelijen, pengintaian, distraksi, membuat strategi, dan lain sebagainya. Tapi, asal mula ilmu ini adalah keterampilan untuk mempertahankan dan membela diri.

Nggak cuma menguasai Ninjutsu, seorang ninja juga harus memiliki mental yang kuat, mampu bertahan dan sabar dalam segala kondisi, serta sanggup menyelesaikan tugasnya tanpa memikirkan kepentingan pribadi. Mental inilah yang kemudian disebut dengan mental seishin.

Ninjutsu dan Seishin inilah yang harus dibina secara bersamaan lewat latihan keras sejak kecil. Metode pelatihannya sendiri disebut dengan Kugyoo yang berarti “sembilan macam pelatihan”. Pelatihan ini dilakukan secara terus menerus dengan tujuan membuat sang ninja memiliki kemampuan dan keterampilan di atas manusia biasa.

Tugasnya yang cenderung misterius – spionase, penyusupan, sabotase – ditambah dengan memiliki kemampuan serta keterampilan yang memang nggak dimiliki orang banyak tampaknya merangsang imajinasi para pekerja seni di jaman dahulu.

Di awal abad ke-17, mulai banyak novel dan drama pertunjukan teater yang mengangkat kisah seorang ninja. Inilah awal mula ninja mulai masuk ke dunia pop culture Jepang, JoyFriends.

Konsep ninja saat ini bermula gara-gara Kabuki

Menurut profesor dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mie, Katsuya Yoshimaru, ada tiga jenis kisah ninja yang beredar di Jepang sejak abad ke-17 hingga saat ini. Pertama, ninja digambarkan sebagai seorang antagonis (pencuri/pemberontak) yang menggunakan ilmu tertentu (Ninjutsu) untuk menjalankan misinya. Tipikal kisah ini banyak ditemui di novel dan panggung teater di tahun 1700-an.

“Lalu, jenis kisah ninja yang kedua adalah mereka digambarkan sebagai seorang yang jahat memiliki ilmu ninjutsu. Nah, ninjutsu di sini disebutkan sebagai sihir,” jelas alumni Universitas Tokyo tersebut.

Tampilan Nikki Danjo di panggung teater. Gambar ini dibuat pada tahun 1857.

Kisah-kisah di mana ninjutsu sudah dideskripsikan sebagai ilmu sihir banyak ditampilkan dalam panggung pertunjukan Kabuki pada abad ke-18 dan 19. Dua karakter yang terkenal dari era ini adalah Nikki Danjo dari lakon Meiboku Sendai Hagi (1816) dan Tenjiku Tokubei dari kisah Tenjiku Tokubei Kikigaki Orai (1795).

Seperti yang JoyFriends bisa duga, di era inilah Ninjutsu ala Naruto lahir. Bahkan, Kuchiyose no Jutsu yang biasa digunakan oleh Jiraiya dan Naruto untuk memanggil Gamabunta termasuk salah satu jurus Ninjutsu “mejik” yang lahir dari panggung pertunjukan.

Para pementas pertunjukan Kabuki jugalah yang bertanggung jawab atas image ninja klasik yang identik dengan penutup wajah dan pakaian serba gelap. Alasannya mereka membuat sosok ninja di panggung sering berpakaian hitam atau gelap terbilang sederhana: untuk membedakan dengan karakter yang lain.

“Kalau di dalam novel, si penulis bisa dengan mudah menulis ‘orang ini adalah ninja.’ Tapi kalau di seni pertunjukan, penonton nggak bisa langsung tahu yang ninja yang mana nih. Oleh karena itu, dalam seni pertunjukan untuk bisa menggambarkan ninja secara jelas, mereka memakaikan pakaian berwarna hitam pada sang aktor,” ungkap Yoshimaru.

Padahal, kalau berdasarkan fakta sejarah ninja, nggak ada itu mereka yang berpakaian serba hitam, JoyFriends. Salah satu alasannya adalah karena berpakaian serba hitam itu terlalu mencurigakan. Sementara seorang ninja biasanya lebih sering bertugas ditempat umum daripada menyusup dalam kegelapan.

Lebih lanjut lagi, Yoshimaru menyebutkan kalau hingga akhir jaman Edo (1868) ninja masih identik dengan peran antagonis berkat ninjutsu yang berbau sihir hitam. Tren ini baru berubah di akhir zaman Meiji – tahun 1900-an – saat novel berjudul Sarutobi Sasuke terbit.

Ini salah satu penampakan novel Sarutobi Sasuke di zaman Meiji. (credit: Penn Japanese Collection)

Sarutobi Sasuke merupakan novel yang ditulis oleh Tamada Gyokusyuusai II dan diterbitkan oleh penerbit Tachikawa Bunko. Novel yang terdiri dari 40 seri ini mengisahkan tentang Sarutobi Sasuke, seorang ninja muda yang berbakat, murid dari ahli ninjutsu aliran Kooga bernama Tozawa Haku-unsai. Dia kemudian direkrut untuk menjadi pengikut seorang penguasa (Daimyo) bernama Sanada Yukimura.

Nggak kayak ninja-ninja di era sebelumnya yang identik dengan kejahatan, Sarutobi Sasuke dalam kisah ini  digambarkan sangat setia pada tuannya. Sang ninja juga selalu menggunakan pengetahuan dan Ninjutsu yang dimiliki untuk melawan penjahat dan menolong orang-orang yang lemah.

Sejak saat itulah kisah-kisah ninja sebagai pahlawan mulai banyak ditemui di berbagai karya. Mulai dari novel, panggung teater, film, dan tentu aja anime serta manga yang banyak kita temui saat ini.

Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>