Tower Records, Label Bersejarah dalam Industri Musik Jepang

Kalau ngomongin industri musik Jepang, selain artisnya tentu nggak lepas dari peran label. Dari label inilah musik Jepang dikenal karena label berperan dalam promosi artis dan juga lagu. Salah satu label yang yang menarik untuk diulas adalah Tower Records. Label yang berbasis di Sacramento, Amerika Serikat ini merupakan franchise bagi musik internasional dan juga toko musik online.

Sayangnya, setelah 50 tahun lebih beroperasi, Tower Records di Amerika mengalami kebangkrutan. Pada tahun 2006 silam, Tower Records resmi ditutup. Situs tower.com pun dijual ke beberapa perusahaan. Lalu, seperti apa pengaruh Tower Records bagi industry musik Jepang? Kenapa Tower Records Japan masih eksis meski Tower Records di Amerika bangkrut? Kami punya ulasannya!

AWAL MULA TOWER RECORDS MERAMBAH JEPANG

Tower Records Shibuya

Pada tahun 1979, Tower Records di Jepang memulai bisnisnya sebagai MTS Inc Cabang Jepang. Tahun berikutnya, Sapporo Store, sebagai cabang Tower Records pun dibuka. Kemudian, cabang tambahan Tower Records Japan Inc. (TRJ) didirikan pada tahun 1981.

Pada Oktober 2002, TRJ berdiri secara independen dari cabang internasional karena pembelian saham dari pihak manajemen. Kebangkrutan Tower Records di Amerika pada tahun 2006 ternyata nggak memengaruhi TRJ karena udah berdiri secara independen.

Pada awal Oktober  2014, TRJ memiliki 85 toko cabang di seluruh Jepang, termasuk 10 Tower Mini Stores dan Shibuya Store di Tokyo. Shibuya Store ini dianggap sebagai outlet musik terbesar di dunia lho karena gedungnya memiliki 9 lantai. Pada tahun 2015, saham TRJ pun sebagian besar dimiliki oleh NTT DoCoMo and Seven & I Holdings.

CABANG LABEL TOWER RECORDS JEPANG

Tower Records Japan memiliki cabang label rekaman bernama T-Palette Records, yang khusus menaungi idol group. Label rekaman ini didirikan pada tahun 2011. Artis pertama yang bernaung di bawah T-Pallete Records adalah Vanilla Beans.

Setelah Vanilla Beans, muncul beberapa idol yang bernaung di bawah label ini. Mereka adalah Negicco, Shizukaze & Kizuna (Shizukaze sejak November 2011 dan Kizuna sejak Maret 2012. Keduanya lalu membentuk duet), Lyrical School, Up Up Girls (Kakko Kari), Caramel Ribbon, NA-NA, One Litte Kiss, dan amihime (proyek solo Ami Himesaki, member LinQ).

TOWER RECORDS SHIBUYA; TOWER RECORDS TERAKHIR

Bagian dalam Tower Records Shibuya (doc. Mark Swed / Los Angeles Times)

Kebangkrutan Tower Records di Amerika pada tahun 2006, sangat memengaruhi cabangnya di seluruh dunia. Tower Records Shibuya menjadi satu-satunya peninggalan toko musik dari era Tower Records yang asli yang masih gagah berdiri. Gedung setinggi 9 lantai ini nggak cuma soal musik lho, Joyfriends! Di dalamnya juga ada toko buku berbahasa Jepang dan Inggris.

Selain itu, sejarah Tower Records juga ditampilkan di sini untuk memberikan informasi kepada para pengunjung. Di gedung ini, pengunjung juga bisa dengerin musik dari musisi Tower Records Japan maupun musisi lainnya dari berbagai genre musik secara gratis.

Di gedung ini juga terdapat Tower Records Café yang terletak di lantai 2. Café ini bisa dikunjungi setelah berkeliling gedung untuk menikmati makanan atau minuman sambil dengerin musik. Jadi, Tower Records Shibuya nggak cuma memberikan semua hal berbau musik tapi bisa memberikan hal lain bagi pengunjung. Salah satu alasan Tower Records Shibuya masih kokoh berdiri.

Written by
Just an ordinary boy who trapped in a man's body.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>