Sepak Terjang Aoyama Gosho, Sosok Dibalik Sukses Detective Conan

Kamu pasti udah nggak asing dong sama manga Detective Conan? Meskipun serial anime-nya udah dilarang tayang di Indonesia, tapi nggak begitu dengan manga-nya. Di Indonesia, manga yang mengisahkan petualangan detektif SMA, Shinichi Kudo, yang mengecil ini udah terbit sebanyak 91 volume.

Detective Conan pun masih memiliki fans setia di Indonesia. Nggak cuma di Indonesia, Detective Conan juga udah “keliling dunia” hingga Amerika, bahkan Eropa dengan terjemahan bahasa yang berbeda-beda.

Bicara soal Detective Conan, tentu nggak lepas dari sosok kreatornya yang legendaris, Aoyama Gosho. Dialah sosok di balik kesuksesan manga yang udah terbit sejak 1994 di Jepang. Meski udah mencapai 1.000 chapter, belum ada tanda-tanda manga ini bakal tamat.

Tahukah kamu kalau Aoyama Gosho nggak mudah dalam mencapai kesuksesan sampai saat ini?

Dari tatapannya aja udah ketahuan kalau dia orang yang smart dan tekun. Pantes Conan sukses.

Jago gambar dari kecil

Mungkin belum banyak yang tahu kalau Aoyama Gosho sebenernya punya nama asli Yoshimasa Aoyama. Beliau lahir pada 21 Juni 1963 di kota Hokuei, Prefektur Tottori. Berdasarkan Conan Drill Official Book yang terbit pada 2003 lalu, Aoyama kecil emang udah punya bakat menggambar. Yang jadi “korban” bakatnya kala itu adalah buku tulis miliknya.

Dalam sebuah interview, Aoyama mengaku membuat sang ayah merasa jengkel atas tindakannya. Sang ayah pun membelikannya buku gambar serta manga saat Aoyama masih TK. Ketika kelas 1 SD, dia ikut lomba melukis dan menjadi juara. Lukisan berjudul “Yukiai War” sempat dipamerkan di Tottori Daimaru Department Store. Dalam buku kelulusan SD, Aoyama menulis “Suatu saat, aku pasti jadi seniman manga!” Gara-gara ini, orangtuanya sering menggodanya. Namun, Aoyama mengatakan nggak ingat pernah menulis itu.

Jadi mangaka gara-gara sang senior

Setelah lulus SMA, Aoyama melanjutkan studi ke Nihon University College of Art di Tokyo. Namun, saat itu dia berpikir bukan menjadi seniman manga atau mangaka, tapi menjadi guru ketika lulus.

Aoyama memutuskan menjadi mangaka di tahun keempat kuliah. Saat itu, kakak seniornya, Yutaka Abe, yang udah jadi seniman manga menawarinya ikutan kontes manga. Ternyata, bakat Aoyama menuntunnya menjadi juara dan memperoleh pengharagaan.

Ketika Aoyama memberitahu orangtuanya kalau dia ingin menjadi seniman manga setelah lulus, mereka nggak setuju. Alasannya, pekerjaan mangaka nggak berjalan panjang. Mereka lebih menginginkan Aoyama menjadi guru seni rupa.

Sempat alami pahitnya hidup

Sebelum menjadi seorang mangaka, Aoyama pernah bekerja part-time. Sayangnya, uang hasil pekerjaannya nggak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia mengaku harus makan nasi kare selama 5 hari berturut-turut hingga keluarganya harus mengirimkan nasi dan lauk.

Ketika Aoyama memutuskan bergabung dengan majalah manga yang membuatnya juara kontes semasa kuliah, sang editor mengatakan, “Aku suka dengan art-mu, tapi stye-mu perlu diubah. Jadi, kamu bisa lebih baik ke depannya.”

Setelah mendapat saran itu, Aoyama menuruti saran sang editor dan mengumpulkan karya barunya ke Shonen Sunday. Siapa sangka dia mampu meraih Newcomer Award dengan karya Chotto Matete (Wait a Minute). Setelah mendapat penghargaan tersebut, Aoyama pun mendapat kesempatan bekerja di Shonen Sunday.

Kebangkitan Aoyama dimulai pada 1987 ketika dirinya menyerahkan naskah Magic Kaito yang mengisahkan pencuri bernama Kaito Kid kepada Pemimpin Redaksi. Karya ini kemudian dibuat manga dan terjual lebih dari 100.000 copy di Jepang. Setelah itu, Aoyama kembali berkarya lewat samurai cilik Yaiba. Dua karya ini perlahan-lahan membuat finansial Aoyama kembali membaik.

Sebelum Conan, Kaito Kid lahir duluan guys.

Era lahirnya Detective Conan

Setelah menyelesaikan Yaiba, Aoyama mulai berpikir untuk menyaingi kepopuleran Kindaichi. Sang editor menyarankannya untuk membuat manga bertema misteri. Kemudian, muncullah Detective Conan yang plotnya udah dikerjakan Aoyama selama dua minggu.

Awalnya, Aoyama berpikir membuat alur detektif cilik ini  seperti cerita detektif kebanyakan. Namun, dirinya mengubah ide itu menjadi siswa SMA yang tubuhnya mengecil. Dengan plot seperti ini, Aoyama dapat menggabungkan unsur misteri dan komedi percintaan khas anak-anak SMA. 

Aoyama pun mendobrak style lamanya saat membuat Conan. Dia mendapat inspirasi dari Clark Kent, sang Superman, saat menggambar Conan dengan kacamata. Namun, pemilihan nama Conan sempat membuat Pemimpin Redaksi Shonen Sunday khawatir karena mirip dengan Future Boy Conan karya Hayao Miyazaki dan memintanya mengganti nama Conan menjadi Doyle, tapi Aoyama menolak.

Ketika pertama dibuat, Aoyama sempat berpikir kalau manga yang dibuatnya ini hanya akan bertahan selama tiga bulan. Namun, dia nggak menyangka Detective Conan dapat bertahan selama lebih dari 20 tahun. Sesuatu yang merupakan keajaiban buatnya. 

Tentu perjalanan panjang tersebut merupakan sebuah kerja keras dan ketekunan yang luar biasa. Kalau kamu seorang mangaka atau komikus di Indonesia, semangat juang untuk terus mencoba dan menerima saran dari temen-temen atau editor komik seperti yang dilakukan Aoyama Gosho, bisa kamu contoh. Semangat!

Written by
Just an ordinary boy who trapped in a man's body.

Is the Story Interesting?

2 0

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>