Sepasang Kaus Kaki Hitam – Book Review: Kisah Melegenda di Era Informatika

User Rating: 7
Desain cover minimalis Novel Sepasang Kaus Kaki Hitam
Novel Sepasang Kaus Kaki Hitam (Doc. Iman Ramadhan)

Karena pembaharuan website JoyPixel menambahkan kategori ulasan buku, saya rasanya tergerak untuk memindahkan ulasan lama saya tentang cerita legendaris Sepasang Kaus Kaki Hitam di blog pribadi ke JoyPixel ini.

Meski rilisnya buku ini terbilang sudah cukup lama, tapi rasanya menurut saya nggak ada kata telat kan, untuk mengulas kembali buku yang bagus? Karena ini juga tulisan lama saya, banyak padanan kata yang saya ubah biar lebih nyaman dibaca aja, sekaligus menyesuaikan dengan target pembaca JoyPixel.

Seputar Sepasang Kaus Kaki Hitam!

Sekitar pertengahan 2013, saya masih ingat betul bagaimana membosankannya opname selama lebih dari dua minggu, dengan dua minggu sebelumnya bedrest di rumah. Tapi, yang ingin saya bahas detail bukanlah penyakit apa yang tengah saya derita, namun satu hal yang membantu menghilangkan rasa bosan di tengah-tengah jarum infus mengalirkan cairan: membaca satu cerita nyata fenomenal di forum Stories From the Heart Kaskus yang saat itu seingat saya masih hangat-hangatnya diunggah ulang dari cerita aslinya di sekitar tahun 2010-2011.

Hari-hari sendiri di ruang inap itu membantu saya benar-benar masuk ke dalam ceritanya yang begitu membuat adiksi tersendiri. Konfliknya yang berbeda dan cenderung kompleks, karakter yang kuat, cara bercerita yang sangat baik karena dapat membuat orang ikut terbawa dalam cerita, pembelajaran hidup yang luar biasa, momen-momen penting, Part 66 yang melegenda, serta beberapa kutipan-kutipan khas dari cerita ini yang selalu membekas di hati para pembaca, termasuk saya. Meski ada kekurangan dalam segi tulisan, tapi sedikit demi sedikit diperbaiki pada versi e-book, walau pembaca lebih jatuh cinta pada versi aslinya. Termasuk saya, yang termotivasi untuk menulis karena Sepasang Kaus Kaki Hitam ini.

Versi postingan ulang atau lebih hangat disebut Reborn, bagaimanapun tetap sangat ramai disambut. Satu kegaduhan yang terus menerus terjadi adalah rasa penasaran pada karakter tokoh utama wanita, Mevally, atau yang lebih akrab disapa Meva. Pembaca begitu penasaran dengan tokoh ini karena sang penulis, Ari, menarasikan dan menggambarkan karakter Meva dengan sangat menarik, JoyFriends.

Tetapi rasa menarik itu membuat Ari sebagai penulis juga cukup gelisah. Meski nama Meva adalah nama samaran, pembacara terkadang tidak bisa memposisikan bahwa privasi masa lalu seseorang dan alasan mengapa nama itu menjadi nama samaran begitu penting—terkalahkan oleh rasa penasarannya—sampai para pembaca mencari nama di website kampus Meva dan tempat Meva bekerja di akhir cerita.

Sejak tahun 2016 kemarin, akhirnya harapan para pembaca mulai terkabul. Sepasang Kaus Kaki Hitam atau SK2H ini akhirnya dibukukan setelah sekian lama para pembaca meminta penulis untuk menerbitkannya dalam bentuk novel. Mulai bulan lalu, akhirnya rasa penasaran yang memuncak akhirnya tiba.

Novel yang bertanda tangan penulis dapat di Pre-Order melalui situs Grobmart dan Forum Jual Beli Kaskus eksklusif hanya 200 eksemplar, di mana hanya ada 5-10 orang beruntung yang mendapatkan tulisan kutipan spesial yang menjadi favorit para pembaca. Saya ikut memesan di Grobmart dan mendapat versi tandatangannya saja tanpa kutipan kata-kata. Kini, novelnya bisa didapatkan di Gramedia atau toko buku di kota para pembaca.

Tapi, apa yang membedakan versi novel-nya dengan versi thread Kaskus maupun e-book-nya sih, JoyFriends? Simak aja terus ulasannya!

Sinopsis

Tanda tangan penulis Novel Sepasang Kaus Kaki Hitam

Tanda tangan penulis pada halaman depan buku. (Doc. Iman Ramadhan)

Sepasang Kaus Kaki Hitam bercerita tentang seorang laki-laki perantau, Ari, yang ingin mencoba peruntungan di Ibu Kota. Tapi nasib membawanya ke tanah Karawang, tepatnya Teluk Jambe, yang mempertemukannya dengan seorang gadis aneh dengan stocking hitam yang nyentrik digunakan di tempat sepanas Karawang. Satu hari, ada satu kegaduhan di depan kamar kos Ari, tepatnya kamar tempat wanita aneh itu berada. Momen itu memang aneh, tapi hal itulah yang menjadi awal dari cerita cinta yang indah ini.

Dari segi cerita mungkin konflik utamanya cukup banyak terjadi: cinta beda agama. Tapi, cerita di dalamnya sama sekali nggak klise. Bisa dibilang, konflik yang dialami ini unik, dan jarang banget ada cerita yang seperti ini; minimal yang dirilis dalam buku, deh. Rasa gregetnya tuh ada banget, pengen lebih kenal sama tokoh utamanya, pengen liat suasana di sana langsung, merekonstruksi kejadian. Penulis berhasil banget bikin pembacanya mau dengerin lagu-lagu yang disebutkan di dalam novelnya.

Tokoh-tokoh yang berkesan kuat!

Desain bagian belakang Novel Sepasang Kaus Kaki Hitam

Desain bagian belakang buku (Doc. Iman Ramadhan)

Bisa dibilang, karakter di cerita ini tuh, kuat banget, JoyFriends. Pembaca itu bisa berimajinasi dengan lancar tentang gimana sih wujud Ari si tokoh utama, gimana sih wujudnya si Mevally ini, gimana sih suasana kos di Teluk Jambe ini?

Terlebih, kekuatan karakternya ini berujung pada keingintahuan berlebih para pembaca terhadap sosok aslinya Meva. Uniknya, saat acara tandatangan dan peluncuran buku ini, Ari menggunakan masker, merahasiakan identitasnya. Menurut Ari selain hal ini merupakan privasi, tapi juga Ari nggak ingin pembaca terhenti imajinasinya kalau diberi tahu aslinya. Ari hanya menggambarkan sosok Meva mirip seorang aktris. Karakter-karakter seperti sahabatnya Indra, Lisa, dan banyak lainnya ini menghidupi banget cerita.

Lalu, bagaimana dengan versi novelnya?

Hal ini sebenarnya pernah dibahas pula oleh Om Ari di Kaskus, Instagram, maupun akun Twitter-nya. Versi novel-nya lebih nyaman dibaca, dengan tanda baca dan diksi-diksi yang pas, Ejaan Yang Disempurnakan, perkembangan cara menulis yang sangat bagus, tanpa menghilangkan ciri khas narasi sebelumnya. Hal ini juga langsung terlihat dari ejaan pada judulnya, dari yang asli berjudul Sepasang Kaos Kaki Hitam, menjadi Sepasang Kaus Kaki Hitam, demi mengikuti ejaan yang benar.

Dari segi desainnya sangat eye-catching, simple namun manis, layout yang rapi, kemudian saat sedang bagian SMS, ada gambar yang memproyeksikan handphone pada zaman itu.

Proyeksi layout layar handphone pada zaman itu. (Doc. Iman Ramadhan)

Ada banyak detail baru yang hadir sebagai pelengkap dalam versi novel ini, tetapi sekaligus menghilangkan detail momen yang mungkin banyak pembaca menunggu untuk hadir namun momen tersebut tidak hadir pada versi novel. Seperti diringkas dan alurnya menjadi lebih cepat. Menurut saya, momen-momen yang hilang tersebut sebenarnya adalah momen yang memperkuat interaksi dan pembangunan penokohan seperti yang ada pada versi thread maupun e-book.

Seperti kata Om Ari di tulisan Kaskus dan blog-nya, bahwa sangat sulit untuk memuaskan semua ekspektasi semua penggemar. Itu benar. Tidak bisa ditampik memang berbeda bagaimana menulis di Kaskus dengan novel versi cetak yang siap terbit. Bagaimana dapat meringkas kurang lebih 115 bagian pada thread menjadi 15 bagian plus satu epilog pada novel. Saya pribadi sebenarnya lebih memilih 115 bab ini dibuatkan versi novelnya.

Karena apa, novel ini rasanya seperti sedikit kehilangan ‘nyawa’-nya. Mungkin ini hal kecil, tapi beberapa bagian yang hilang ini sebenarnya yang bikin pembaca masuk ke ceritanya, mengikuti lika-liku si tokoh utama. Sementara pada versi novel-nya seperti berpacu pada versi e-book nya terdahulu, yang memangkas banyak bagian.

Saya ingin mengutip, entah saya lupa siapa yang mengatakannya (kalau tidak salah Meva itu sendiri pada versi thread dan e-book) “Terkadang hal sekecil apapun dapat berarti lebih untuk orang lain.” Itu poin penting yang tidak hadir pada versi novel. Tapi tetep aja pas baca versi novelnya ini selalu ngerasa greget, “Harusnya tuh nggak gini!, “Ah, sial!”.

Mungkin untuk pembaca baru, setelah membaca buku ini, ada baiknya baca versi aslinya, dan masih ada di Kaskus yang bisa kamu akses secara gratis. Percaya nggak percaya, abis baca, bisa mewek berapa hari, bahkan minggu. Efeknya melekat banget mata pembaca.

Final Verdict

Minimalis namun manis (Doc. Iman Ramadhan)

Versi novel-nya mungkin sudah lama dinanti-nanti oleh para pembaca setianya di Kaskus, JoyFriends. Banyak orang berharap bahwa cerita SK2H ini harus lebih dikenal banyak orang, salah satunya melalui peluncuran novel dan pembuatan film. Saya sebenarnya mendukung usulan ini, asal kualitas ceritanya seperti versi aslinya, nggak dikurangi seperti di e-book, apalagi di versi novelnya ini.

Sayangnya, karena mungkin pertimbangan penerbit dan penulis, banyak banget adegan yang terkesan kecil dihilangkan, padahal bagian itu jadi bagian yang membangun cerita lebih intim dan dalam. Bisa dibilang, kesan sedih dan gregetnya itu nggak sama kayak baca versi lamanya. Nggak sedalem itu jadinya masuk ke cerita.

Mungkin sulit juga untuk Ari yang awalnya cuma berniat curhat melalui tulisan, tetapi pembaca meminta hal yang sebenernya Ari sendiri nggak pernah kepikiran. Kalau aja novel ini dikeluarkan di masa tenarnya, mungkin hype-nya sendiri akan lebih besar. Bayangin aja, dulu sampai ada orang memindahkan tulisannya kemudian mereka cetak masing-masing, saking berkesannya cerita ini.

Namun, sebuah tulisan bagus tetaplah bagus. Penulisan pada versi novelnya ini sejujurnya memang lebih bagus daripada versi asli maupun ebook terdahulu. Sebuah kisah nyata yang ringan dibaca namun dapat membuat pembaca terjun di dalam ceritanya, merasakan sebagai Ari di sana. Pada akhirnya, hati saya tetap terbawa suasana ketika membaca versi novel-nya, serta sekali lagi menyentuh lini-lini hati saya untuk kembali memulai juga dalam dunia literasi.

Kutipan-kutipannya dalam dan nggak mainstream seperti kutipan-kutipan sekarang. Saya sendiri sih nggak bosan-bosan baca cerita ini, JoyFriends.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengutip beberapa kutipan khas ala Sepasang Kaus Kaki Hitam, yang juga menjadi favorit pembaca:

“Kamu tahu, kenapa kenangan itu indah dan manis? Karena kenangan tidak akan terulang lagi, itu yang membuat kenangan itu indah dan berarti.”

“Untuk secangkir teh hangat dan kenangan yang menyertainya.”

Gimana, makin tertarik untuk ngebaca kan, JoyFriends? Novel Sepasang Kaus Kaki Hitam ini udah bisa kamu dapatkan di toko buku online maupun offline dengan harga kurang lebih Rp60,000,- JoyFriends. Jangan sampai ketinggalan baca cerita legendaris dari Kaskus ini!

Cek lebih banyak asupan berigizi seputar budaya populer di JoyPixel atau tulisan-tulisan menarik lainnya dari Muhammad Iman Ramadhan.

Good
  • Tulisan yang lebih nyaman dibaca,
  • Cerita original yang beda,
  • Penokohan yang juara!
  • Bisa membuat banyak orang masuk ke dalam ceritanya,
  • Tambahan layout yang keren.
Bad
  • Banyak bagian yang dipangkas dari cerita aslinya,
  • Dampak dari ceritanya nggak sedalam cerita aslinya.
7
Good
Pemain bass di sonicwaves | Gemar memotret | Menulis di JoyPixel dan blog pribadi | Demen musik, film, series, game, komik, gadget dan banyak hal lainnya, makannya cocok kan di JoyPixel.

Is the Story Interesting?

0 0