Dua Tantangan Besar Komikus Indonesia di Zaman Sekarang

Patrick Jonbray adalah salah satu komikus yang eksis berkat dunia maya. Di jaman sekarang, menjadi tenar dan diketahui banyak orang udah bukan lagi jadi masalah utama para komikus.

Joyfriends tentunya sadar kalau dalam beberapa tahun terakhir, dunia pop culture di Indonesia udah berkembang dengan pesat. Sekarang ini Joyfriends bisa dengan mudah nyebutin nama-nama komik lokal, entah yang terbit secara online maupun cetak. Bandingkan dengan 8-10 tahun lalu, kalau kamu ditanya nama komik lokal, mungkin jawabannya malah “emang ada ya komik lokal Indonesia?”

Keberadaan internet dan platform komik online seperti Ciayo, Comico, dan Line Webtoon sangat membantu eksistensi para komikus Indonesia jaman sekarang. Kalaupun mereka belum bisa menembus platform-platform tersebut, minimal para komikus ini memiliki akun media sosial untuk memperkenalkan karya-karyanya. Dengan internet, menjadi viral dan dikenal orang udah bukan menjadi masalah utama komikus jaman now.

Tapi, itu bukan berarti komikus Indonesia sekarang nggak punya masalah, Joyfriends. Menurut Bonni Rambatan, CEO Naobun Project, ada dua tantangan besar yang dihadapi komikus Indonesia yang ingin menjajal dunia profesional: literasi manajemen finansial dan literasi hukum.

Bonni mencontohkan para kreator yang langsung teken kontrak tanpa memahami isi kontrak tersebut. Bisa-bisa tanpa sadar sang kreator udah memberikan intellectual property atau hak cipta atas karyanya secara cuma-cuma ke perusahaan yang bersangkutan. Padahal, Hak Kekakayaan Intelektual bisa dibilang adalah aset terbesar seorang kreator.

“Dulu waktu awal-awal ngomik, kontrak saya juga nggak jelas. Sayanya tetep jalan-jalanin aja. Terus akhirnya saya nggak tahu, ini rights-nya ada di siapa, terus tiba-tiba komiknya terbit di situ. Lah dulu emang gimana kontraknya? Saya juga nggak tahu,” ungkap Bonni saat berbicara dalam acara talkshow Comic Business Nowadays yang diadakan di SAE Institute, Jakarta, Selasa (31/7).

Ada juga contoh kasus lain yang diberikan Bonni terkait hak cipta karya yang dibuat secara berkelompok. Menurut penjabarannya, kalau dari awal nggak ditetapkan dengan jelas siapa yang berhak memegang hak cipta karya yang bersangkutan, secara otomatis intellectual property tersebut akan jatuh ke sang project leader. Meski pun dia bukan orang yang memiliki ide atas kisah atau karakter tersebut dan bukan penulis naskah atau pun ilustrator. Jadi kalau Joyfriends punya proyek ngomik keroyokan, mending langsung dipastiin deh siapa yang berhak atas hak ciptanya.

Selain itu, Bonni juga menekankan pentingnya pesan yang ingin dibawa oleh seorang komikus dalam karya-karyanya. Menurutnya, mau sehebat apapun skill sang komikus dalam menggambar tapi dia nggak tahu pesan apa yang mau disampaikan, komik itu pasti bakal jatuh.

“Bikin komik series atau long form bertahun-tahun itu capek banget. Jadi kalau kita nggak tahu pengen bilang apa itu bakal jatuh. Tapi selama kita tahu pengen bilang apa, ‘pokoknya aku harus ngelakuin ini, ini yang harus aku sampaikan, pokoknya aku harus ngomik perkara ini.’ Nanti yang lain itu bakal gampang,” pungkasnya CEO Naobun Project tersebut.

Naobun Project sendiri adalah sebuah agensi yang membantu para kreator mewujudkan dan memasarkan karya-karyanya, termasuk di dalamnya adalah menghubungkan kreator dengan para penerbit – baik cetak maupun online. Buat Joyfriends yang mungkin ingin mencoba berkarya atau udah punya karya dan kepikiran buat memasarkannya, bisa langsung cek naobunproject.id

Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

2 0