Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, Eksekusi Brilian Formula Genre Shonen

User Rating: 9
Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, Eksekusi Brilian Formula Genre Shonen
sumber: Kimetsu no Yaiba wiki

Membicarakan tahun 2019 dalam kalangan otaku adalah membicarakan salah satu anime fenomenal yang tayang pada penutupan tahun tersebut. Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, mengadaptasi manga berjudul sama buatan Koyoharu Gotoge, dan dimuat di majalah komik mingguan Shonen Jump. Adaptasi ini dibuat oleh studio animasi Ufotable yang sudah terkenal lewat proyek dari seri Fate (Unlimited Blade Works, Heaven’s Feel part 1,2,3, dan Fate/Zero).

Dengan tayangnya Kimetsu no Yaiba di Netflix, apalagi mengingat bahwa filmnya sedang dalam proses produksi, sepertinya menarik untuk melihat aspek-aspek apa saja yang muncul dari anime ini hingga berhasil mencuri hati banyak orang, dan dinobatkan sebagai Anime of the Year 2019 versi Crunchyroll.

Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, Eksekusi Brilian Formula Genre Shonen

“This is your waifu now!”

Intimasi Terhadap Dua Tokoh Utama

Kamado Tanjiro adalah seorang lelaki sederhana yang tinggal bersama ibu dan saudara-saudaranya. Dia mendedikasikan dirinya hanya untuk keluarga, namun tiba-tiba saja, seorang Oni (Demon) menghabisi keluarga Tanjiro ketika ia terjebak badai salju dan harus menginap di rumah warga. Tanjiro menemukan bahwa sang adik Nezuko masih bernafas, dan membawanya turun ke gunung, tanpa sadar kalau adiknya telah menjadi Oni.

Kita sudah dapat memahami karakter Tanjiro sebagai tokoh utama. Ia baik, rendah hati, dan gigih, tipe karakter yang mudah diikuti oleh penonton, walau beberapa menganggap archetype karakter ini ‘membosankan’. Namun konflik yang kemudian muncul akan mengetes idealisme Tanjiro sebagai family man, apakah ia mampu membunuh Nezuko untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, atau ia tetap teguh pada prinsipnya, dan mencari cara menyelamatkan Nezuko.

Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba, Eksekusi Brilian Formula Genre Shonen

sumber: Kimetsu no Yaiba wiki

Sementara Nezuko, walau hampir tidak pernah berdialog secara langsung pada episode-episode berikutnya, ia aktif menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi. Mungkin tidak salah juga kalau Nezuko sangat disukai karena ia imut dan bisa bertarung. Namun Nezuko juga punya masalah sendiri, sebagai Oni, ia harus terus menekan instingnya untuk tidak memakan daging manusia. Hal ini membuatnya butuh waktu lama untuk pulih dalam setiap pertarungan.

Sumber: Kimetsu no Yaiba wiki

Sepanjang seri berlanjut, kombinasi dua bersaudara ini terus menarik perhatian penonton. Tanjiro berjuang banting tulang dan mempertaruhkan nyawa untuk mencari cara mengembalikan Nezuko menjadi manusia, dan Nezuko yang berjuang untuk membantu kakaknya, baik dalam bertarung atau mempertahankan sisi manusia dalam dirinya. Intimasi kakak beradik ini terasa natural dan mengharukan, cukup membuat sosok Tanjiro disukai walau terkesan naif, dan Nezuko tidak perlu berkata apapun untuk berkomunikasi dengan karakter-karakter lain.

From Zero to Hero

Bila ada perbedaan antara genre shonen tradisional dengan anime-anime yang baru keluar (khususnya dalam ranah isekai), genre shonen memiliki emphasis dalam proses menjadikan karakter lebih kuat dari sebelumnya. Cara ini bisa didapatkan dengan latihan untuk memperkuat skill dan jurus untuk melawan musuh-musuh berikutnya. Namun juga bisa melalui pertemuan dengan orang-orang, menjalin kerjasama dengan lebih banyak orang, dan mendapatkan pemahaman baru demi strategi bertarung, atau sekadar memperkuat tekad.

Tanjiro sebagai orang biasa harus mencari cara untuk menyembuhkan Nezuko, yang membawanya pada mentor pertamanya: Sakonji Urokodaki. Tanjiro menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menguasai teknik pedang Pernafasan Air, namun hal tersebut tentunya hanya langkah pertama. Akan ada lebih banyak musuh kuat, melebihi teknik dasar yang diajarkan oleh Urokodaki

Sumber: Kimetsu no Yaiba wiki

Sekutu Tanjiro berikutnya secara mengejutkan adalah Oni bernama Tamayo dan Yushiro, Oni yang tidak menyerang manusia, melainkan membeli darah lewat pendonor. Mereka berdua menerima Tanjiro dan Nezuko, membantunya dalam mencari cara menyembuhkan Nezuko, serta menjelaskan sosok Muzan, Oni yang bisa membuat manusia lain menjadi Oni, dan kemungkinan besar adalah pelaku pembantaian keluarga Tanjiro.

Sumber: Kimetsu no Yaiba wiki

Seterusnya, masih ada lagi tokoh-tokoh yang mendukung Tanjiro dalam perjalanannya. Masing-masing tokoh pendukung ini hadir dengan cerita latar belakang dan masing-masing personality yang unik. Urokodaki contohnya, walau terkesan seperti orang tua yang kasar, ia sangat peduli dengan anak-anak didiknya, dan merasa terbebani ketika melatih mereka hanya untuk mati dalam ujian penyisihan.

Tentunya selain menambahkan angin segar dengan pengenalan karakter baru, proses latihan inilah yang mengembangkan pribadi tokoh utama dalam cerita. Mendewasakan mereka, dan menjalin hubungan interpersonal dengan tokoh-tokoh lain yang ada.

Para Tokoh Sampingan Yang Penuh Warna

Salah satu poin terbaik dalam Kimetsu no Yaiba adalah karakter-karakternya yang menarik, baik dari segi kepribadian, maupun desain. Kepribadian Tanjiro mungkin akan terasa hambar bila kita selalu melihatnya memberantas kejahatan, oleh karena itu dalam perjalanannya, ia kemudian ditemani oleh dua orang karakter sampingan: Zenitsu dan Inosuke.

Sumber: Kimetsu no Yaiba wikia

Zenitsu memiliki watak pengecut karena ia tahu pekerjaan sebagai Demon Slayer berbahaya. Ia bertemu Tanjiro dalam keadaan yang cukup memalukan, bahkan lebih memilih berlindung di balik anak kecil daripada berhadapan dengan Oni. Akan tetapi kemampuan bertarung Zenitsu yang sesungguhnya hanya muncul dalam kondisi tertentu. Dan ia bisa menjadi pemberani jika benar-benar ingin melakukannya.

Sumber: Kimetsu no Yaiba wikia

Inosuke, adalah kebalikan dari Zenitsu. Seringkali muncul mengenakan topeng babi hutan, ia dibuang oleh orang tua aslinya, dan besar di alam liar. Memiliki pribadi yang cepat marah, kompetitif, dan kasar, Inosuke memiliki kemampuan bertarung dan kekuatan yang dibutuhkan seorang Demon Slayer, kecuali kemampuan untuk berpikir strategis. Pertemuannya dengan Zenitsu dan Tanjiro mengajarinya berbagai hal yang tidak pernah ia dapatkan di alam liar, dan seiring berjalannya cerita, ia semakin dekat dengan Tanjiro dan Zenitsu.

Keberadaan dua tokoh yang saling bertolak belakang ini, selain memberikan comic relief dalam cerita, juga membuat setiap episode menjadi penuh warna. Zenitsu dan Inosuke memiliki pola pikirnya sendiri yang kadang saling bertentangan, sementara Tanjiro ada di tengah mereka, memastikan tidak ada salah satu yang bertindak berlebihan, dan mengambil keputusan dalam mengatasi masalah. Ketiga rekanan ini kemudian berkembang bersama, dan menjadi kuat bersama.

Selain Tanjiro dan rekan-rekannya, tim sentral dalam kelompok Demon Slayer adalah orang-orang yang disebut Hashira (The Pillars)

sumber: Kimetsu no Yaiba wiki

Hashira adalah orang-orang yang diakui kemampuannya dalam memberantas Oni. Semacam predikat yang menunjukan kekuatan suatu individu dalam bertarung. Walau hanya baru muncul pada penghujung seri animenya, masing-masing Hashira memperlihatkan watak mereka dari dialog episode ke 21. Film Kimetsu no Yaiba dengan judul Kimetsu no Yaiba: Mugen Train, akan berfokus pada Kyojuro Rengoku, sang Hashira api.

Kombinasi Animasi dan Musik Yang Menggugah

Studio Ufotable seringkali dikenal dengan kualitas animasinya yang patut diacungi jempol, dan anime Kimetsu no Yaiba juga demikian. Scene pertarungan dibuat dengan serius dan penuh gaya, terutama setiap kali Tanjiro mengeluarkan jurus-jurus pedangnya, efek air yang serupa dengan lukisan ombak kanagawa muncul, dan memberi kesan otentik dalam setiap adegan pertarungan dalam seri ini.

Begitu pula dengan musik, dimulai dengan lagu opening yang dinyanyikan oleh LiSA, dan insert song gugahan Kajiura Yuki dan Shiina Go. Membuat beberapa momen dalam Kimetsu no Yaiba semakin memorable.

Bukan Tanpa Cela

Terlepas dari semua poin positif yang sudah saya tulis, bukan berarti Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba tidak memiliki kekurangan. Ada beberapa poin dalam cerita yang seakan dibuat untuk mempermudah alur aksi pertarungan, seperti Zenitsu yang memiliki kemampuan pendengaran yang sangat mirip dengan Tanjiro yang memiliki indra penciuman tajam. Selain itu sebagai anime genre shonen, flashback yang terjadi pada tengah-tengah pertarungan sepertinya masih digunakan anime ini untuk menjelaskan latar belakang musuh, atau poin penting dari keseluruhan plot Kimetsu no Yaiba.

Selain itu, anime ini tidak main-main dalam menggambarkan efek kekerasan. Tentunya ada kalangan umur dan orang yang toleran terhadap unsur ini, namun ada juga yang tidak.

Kesimpulan

Kimetsu no Yaiba adalah anime shonen yang menawarkan sisi terbaik genre ini bisa tawarkan. Dengan kualitas animasi dan musik yang mengagumkan, petualangan Tanjiro untuk menyembuhkan Nezuko, disertai dengan misi untuk membasmi iblis diwarnai oleh tokoh-tokoh dengan kepribadian beragam yang saling mengisi satu sama lain. Charm dari seri ini muncul bukan hanya dari satu tokoh saja, melainkan dua tokoh kakak beradik yang berjuang melindungi satu sama lain, dan juga dari rekan-rekan Tanjiro.

Cek lebih banyak asupan bergizi seputar pop culture atau tulisan-tulisan menarik lainnya dari Leo Agung.

Good
  • Hubungan persaudaraan kakak-adik yang dalam
  • Karakter-karakter beragam yang saling melengkapi
  • Penerapan formula genre shonen yang menarik dan tidak membosankan
Bad
  • Beberapa poin dalam cerita yang terasa dangkal dan dibuat untuk memudahkan jalan alur cerita
9
Amazing
Written by
Pencari gem anime terbaik setiap season, cita-citanya yang paling besar adalah jadi karakter OP di seri isekai.

Is the Story Interesting?

0 0