Sejarah Manga di Zaman Edo

Manga Zaman Edo
Toko Manga (doc. Amino Apps)

Manga merupakan salah satu karya sastra asal Jepang yang mendunia. Semua orang dari berbagai umur pasti pernah baca manga. Namun, nggak banyak yang tahu bahwa manga ini memiliki sejarah panjang. Kamu tau nggak kalau manga sudah ada sejak Zaman Edo?

Dilansir Tokyo Creative, manga udah ada sejak abad ke-16 dengan nama kusazoshi. Saat itu, Kyoto masih menjadi ibu kota Jepang, sementara Tokyo saat itu dikenal dengan nama Edo. Yang menarik, minat literasi di Jepang di zaman Edo sangat tinggi. Nggak cuma kelas atas aja, tapi juga orang kelas bawah seperti petani maupun tukang kayu bisa membaca dan menulis.

Huruf yang mereka gunakan saat itu merupakan bentuk sederhana dari huruf bahasa Cina. Huruf inilah yang menjadi cikal bakal hiragana dan katakana yang dikenal di Jepang saat ini. Berkat sistem pendidikan yang merata, baik sekolah swasta maupun sekolah di kuil, para siswa diajari membaca, menulis, dan matematika dasar.

Manga Zaman Edo
Kusazoshi (doc. Visual Hyakka Edo Jijō/NHK Data Jōhōbu/Yūzankaku)

Karena saat itu tidak ada media elektronik, hiburan yang umum adalah booklet yang disebut kusazoshi. Booklet ini berisi 10 halaman yang isinya berupa gambar atau ilustrasi beserta penjelasannya berupa teks atau dialog. Dalam sejarah seni Jepang, kusazoshi menjadi titik awal gabungan gambar dan kata-kata. Gabungan ini masih eksis hingga sekarang dan bisa ditemukan di mana saja, misalnya di surat kabar, televisi, atau media lainnya.

Kusazoshi merupakan karya fiksi yang menjadi cikal bakal manga yang kita kenal sekarang. Mengapa demikian? Saat itu, kusazoshi memiliki warna yang berbeda untuk genre yang berbeda pula. Genre yang saat itu populer adalah kisah hantu dan kumpulan satir (kibyoshi/cover kuning), dongeng untuk anak-anak (akahon/buku merah), karya untuk orang berpengalaman (aohon/buku biru), dan tiruan naskah drama kabuki (kurohon/buku hitam).

Manga Edo
Contoh isi Kibyoshi (doc. Yoshiwara/Prof. Cecilia Segawa Seigle/University of Hawaii Press)

Sama halnya kusazoshi, manga juga memiliki beragam genre dan lebih didominasi dengan gambar. Teks yang disediakan biasanya pendek dan dalam bentuk dialog. Gaya yang ada dalam manga sekarang ada kemiripan dengan kusazoshi di mana terdiri dari beberapa panel dengan warna hitam dan putih.

Media cetak mulai tersebar di berbagai daerah setelah Jepang memperkenalkan mesin cetak pada tahun 1590. Namun, karena harga pencetakan sangat mahal, banyak kalangan kelas bawah kesulitan membeli kusazoshi. Solusinya adalah memperbanyak kashihon-ya (rental buku). Pengusaha kaya membeli salinan kusazoshi terbaru lalu menyewakannya dengan harga yang lebih murah.

Cara ini sukses membuat banyak orang menyewa dan membaca kusazoshi tanpa memedulikan cetakan baru atau lama. Kashihon-ya menjadi populer. Demi meraih pasar yang lebih besar, ada yang mengubah kashihon-ya menjadi perpustakaan berjalan.

Karya seni di zaman Edo sebelum tahun 1787-1793 memamerkan estetika dan teknik yang mirip dengan karya seni setelah periode ini. Namun, isinya sangat jauh berbeda. Jangka waktu ini menandai penerapan yang disebut Kansei no Kaikaku (Reformasi Kansei). Reformasi ini merupakan rangkaian peraturan yang menyensor setiap karya seni yang diterbitkan.

Akibat reformasi ini, lukisan, puisi, dan kusazoshi kena dampaknya. Pemerintah menghukum seniman yang memrovokatif dengan hukuman tahanan rumah dan fitnah. Hal ini direspon beberapa seniman dengan meninggalkan hasil karya mereka dan menjadi cendekiawan atau guru. Beberapa seniman yang lain terus menulis dan melukis dengan tema yang lebih ringan. Dalam kasus yang lebih tragis, seniman yang kena hukuman melakukan bunuh diri.

Karya fiksi populer sebelum Reformasi Kansei memang berani dan kontroversial. Banyak bagian yang mengkritik kekurangan kondisi sosial, tindakan politik, dan tokoh masyarakat. Parodi dan penggambaran lucu menutupi tema-tema ini. Namun, makna dan kritik mereka yang keras sangat jelas bagi pembaca.

Di media Barat, orang Jepang sering digambarkan sebagai pekerja keras, tenang dan patuh. Namun, topik kusazoshi yang berani sebelum Reformasi Kansei mengungkapkan aspek karakter orang Jepang yang hampir tidak bisa dibayangkan oleh siapapun di luar Jepang.

Di antara seniman manga modern, beberapa dari mereka telah kembali ke akar keberanian. Mereka berani menyuguhkan peran gender tradisional dan memberdayakan perempuan. Beberapa tema bahkan mencakup homoseksualitas, tunawisma, kemiskinan, dan kekerasan dalam rumah tangga.

Cek lebih banyak asupan informasi bergizi seputar pop culture atau tulisan menarik lainnya dari Roisul Umam.

Written by
"The less you know, the better." -Michael Scofield-

Is the Story Interesting?

0 0