Chromatica by Lady Gaga – Review: BLESS. MY. EARS!

User Rating: 9.5
Chromatica akhirnya resmi rilis pada Jumat (29/5) ini!

Setelah sebelumnya tertunda akibat konsiderasi pandemi COVID-19, akhirnya Chromatica lahir ke dunia pada Jumat (29/5) ini. Penantian saya selama 4 tahun untuk karya solo seorang Stefani Joanne Angelina Germanotta akhirnya terbayarkan sudah, setelah sebelumnya kita disuguhin sama era Joanne dan soundtrack A Star Is Born di mana-mana.

Baca Juga: A Star Is Born – Review: Manis di Awal, Kopong di Tengah

Diawali dengan rilisnya Stupid Love pada akhir bulan Februari lalu, dari melihat video klip-nya aja saya optimis proyek ini bakal jadi the next big thing from the Mother Monster.

Lalu dilanjutin dengan kolaborasinya bersama Ariana Grande di Rain on Me yang rilis pekan lalu. Jujur, saya merasa bahwa Lady Gaga membuat keputusan yang tepat buat ngeluarin dua single ini sebagai jagoan utama di album ini. Hingga tibalah saya akhirnya bisa mendengarkan Chromatica secara keseluruhan pada tengah malam ini (waktu Jakarta tentunya, karena album ini dirilis tengah malam waktu lokal masing-masing negara); dan impresi saya terhadap album ini bakalan sedikit panjang, nih. Nggak usah pake lama, langsung aja kita bahas deh!

Pengantarnya Megah Banget!

LADY GAGA | THE CHROMATICA BALL TEXT - forum | dafont.com

“Di dalam Chromatica, nggak ada yang lebih baik atau lebih besar dari yang lainnya.”

…adalah kalimat yang terbersit di pikiran saya ketika Chromatica I pertama kali berkumandang. Ya sedikit info aja, album terdiri atas 16 track dan dibagi atas 3 babak. Interlude di tiap babaknya kerasa seakan-akan kita diajak untuk mengeksplor setiap titik di dalam universe album ini. Interlude-nya juga sukses ngaktifin theater of mind saya sebagai pendengar; sehingga experience yang ditawarin album ini jadi lebih kaya.

Bukan Konsep Album Paling Ambisius, Tetapi Paling Matang.

Lady Gaga Says 'Chromatica' Album Will Be Out On May 29 After ...

Saya bicara ini karena menurut saya build-up untuk album ini masih jauh dibandingkan Gaga membuild-up konsep albumnya yang hampir serupa, ARTPOP pada 2013 lalu. Akan tetapi, jika dibandingin sama ARTPOP, Chromatica jauh lebih matang secara konsep.

“The world rots in conflict. Many tribes battle for dominance. While the Spiritual ones pray and sleep for peace, the Kindness punks fight for Chromatica,” 

Kutipan pembuka video klip Stupid Love ini jadi kunci kenapa album ini memiliki konsep yang lebih solid ketimbang ARTPOP, karena ada kesan naratif yang bikin para Little Monsters maupun pendengar musik secara umum bakalan menggali lebih dalam lagi soal dunia Chromatica ini. Andai aja pandemi ini nggak ada, album ini bisa dikembangin lagi menjadi sebuah visual album sehingga konsep dari album ke-enam dari penampil utama di Half-time Show Super Bowl ke-51 pada tahun 2017 silam ini bisa lebih out of the box lagi.

Jangan lupa juga dengan cryptic message yang Gaga tulis di media sosialnya yang membuat konsep Chromatica secara keseluruhan menjadi lebih matang:

Kembali Ke Akarnya, Namun Dibalut dengan Elemen Baru.

“Sejauh apapun Lady Gaga bereksperimen dalam musiknya, ke dance-pop lah dia bakal kembali.” Sekiranya ini yang saya pikirin selama saya dengerin album ini. Mendengarkan Chromatica ngebuat saya ‘ditarik’ kembali ke era awal kemunculannya yakni The Fame (Monster), Born This Way, dan juga ARTPOP tentunya. Namun saya ngerasa ada kemasan baru yang meliputi pengalaman saya ini, yakni balutan retro-pop yang kental banget di album ini.

Saya kasih bocoran sedikit kalau di album ini tiap babaknya dikemas secara kontinyu jadi seolah-olah nggak ada jeda antara satu track dengan yang lainnya hingga interlude berikutnya. Bahasa simpelnya, album ini dikemas sangat padat sekali.

Akan tetapi, ada satu track yang punya referensi ARTPOP yang kuat banget yakni 911. Hentakan drumnya bikin saya keinget sama beberapa track di album tersebut seperti Venus, ARTPOP, dan Fashion!.

Pilihan Kolaborator yang Sangat Brilian.

Baik depan layar maupun belakang layar, pemilihan kolaborator di album Chromatica ini menurut saya cukup cerdas. Gimana nggak? Pemeran The Countess dalam American Horror Story: Hotel ini mutusin untuk berbagi panggung dengan Ariana Grande, BLACKPINK, dan juga Sir Elton John. Selain itu, album ini juga diolah oleh tangan dingin seorang BloodPop, bersama dengan beberapa produser lainnya seperti Axwell, Tchami, BURNS, Madeon, bahkan seorang Skrillex pun turut andil dan pembuatan album ini. Melihat nama-nama tersebut jika memang Lady Gaga ingin kembali ke akarnya, mereka merupakan orang-orang yang sangat tepat buat mendukung sang Mother Monster untuk mencapai tujuannya!

Oh, iya. Dalam rangka menyambut Chromatica; kamu bisa dengerin juga episode terbaru dari JoyPodcast!

Dengerin Chromatica di sini:

Track yang wajib didengerin: Semua interlude Chromatica (I, II, III), Alice, Stupid Love, Rain on Me, 911, Sine from Above.

Summary
Chromatica merupakan sebuah pengalaman baru yang sangat menyenangkan baik untuk para Little Monsters maupun pendengar awam yang ingin mengulik musiknya Lady Gaga. Konsep yang lebih matang, kolaborator yang brilian, hingga isi seluruh albumnya yang sangat padat yang bikin album ini patut dianggap sebagai rilisan terbaik sang Mother Monster selama karir bermusiknya!
Good
  • Konsep albumnya cukup matang
  • Membawa kesan 'kembali ke akarnya."
  • Kolaborasi yang mumpuni
  • Setiap track-nya dikemas secara padat
  • Balutan segar dari elemen retro-pop yang sangat kental
Bad
  • Beat-nya agak sedikit repetitif, tapi nggak terlalu mempengaruhi keseluruhan albumnya
9.5
Amazing
Written by
An electronic music enthusiast. An avid pro-wrestling observer. An amateur photographer. You can check his photo journal on his Instagram. Oh, he's also a host/moderator for JoyPodcast.

Is the Story Interesting?

0 0