Deretan Album Terbaik The 1975 Versi JoyPixel!

Album The 1975
The 1975 saat manggung di Jakarta. Dari kiri: Adam Hann, Matt Healy. (Doc. Iman Ramadhan)

Dua minggu lalu dari artikel ini ditulis, The 1975 baru saja merilis album teranyarnya, Notes On a Conditional Form pada Jumat (22/5). Panjang ya judulnya? Yap, ini juga yang menjadi ciri khas The 1975 ketika menamai albumnya: selalu nyeleneh. Di saat musisi lain menginginkan albumnya memiliki judul yang pendek agar mudah diingat, tiga dari empat album The 1975 malah dinamai dengan nama yang begitu panjang, terlebih album keduanya, duh.

Band rock alternatif asal Britania Raya yang digawangi oleh Matt Healy (vokal, gitar), Adam Hann (gitar), Ross MacDonald (bass), George Daniel (drum) ini selalu membawa angin segar di tiap rilisan albumnya. Selalu ada eksplorasi-eksplorasi baru yang menyenangkan untuk dibahas. Kira-kira, apa sih rilisan terbaik yang pernah dibuat oleh The 1975? Kali ini, saya mau mencoba mengurutkan album The 1975 terbaik! Seru, karena saya harus berdebat dengan diri sendiri.

Deretan album terbaik ini menurut pendapat pribadi penulis secara teknikalitas musik, eksplorasi musik serta tema-nya; saya nggak terpengaruh dengan pencapaian-pencapaian yang diraih oleh album tertentu. Saya sendiri sampai mendengarkan satu-satu lagi lagu di setiap albumnya biar penilaiannya nggak bias. Di artikel ini urutan terakhir nampak di paling atas, dan urutan pertama ada di akhir artikel.

Mungkin kamu akan nggak setuju dengan berbagai alasan yang saya utarakan, tapi nggak apa-apa. Kamu bisa komentar juga dengan versimu!

4. The 1975 (2012)

(Doc. The 1975)

Posisi keempat diisi oleh.. Album Self Titled milik The 1975! Nah, lho.. Nanti saya dibilang fans karbitan lagi, hehehe. Secara personal, ini album favorit saya, album yang mengenalkan dan membuat saya jatuh cinta dengan pesona band ini dengan segala estetika-nya. Album ini pula menjadi perjalanan The 1975 menuju kesuksesan setelah mereka terus-terusan merilis EP.

Musiknya menjadi angin segar untuk playlist saya pada waktu itu. Album ini juga menyajikan berbagai jenis musik seperti pop rock alternatif dengan nuansa 80-an sedikit funk, electro pop, pop punk, hingga emo. Eksplorasinya cukup banyak dan menjadi landasan dasar tiga album berikutnya. Dengan trial and error pada EP-nya, The 1975 mulai menyadari keunikan musik mereka, bagaimana musik The 1975 dapat didefinisikan sehingga jadi ciri khas.

Pad keyboard dan synthesizer pada album ini membentuk ‘pakem’ pada album berikut-berikutnya yang tentu menjadi ciri khas tersendiri pada musik The 1975. Lagu-lagunya sendiri terbilang solid dan berbeda satu sama lain. Benar-benar punya warnanya tersendiri, dan orang dengan mudah akan membedakan satu lagu dengan lagu lainnya.

Album ini melahirkan banyak lagu keren yang membuat The 1975 melejit seperti Settle Down, Chocolate, Girls, Sex, The City, Robbers, dan banyak lainnya. Lagu favorit saya sendiri Head.Cars.Bending, namun versi live-nya yang menurut saya jauh lebih keren.

3. Notes on a Conditional Form (2020)

Cover album Notes On a Conditional Form (Doc. The 1975)

Posisi ketiga ditempati oleh.. Album baru The 1975, Notes On a Conditional Form. Ya, sebenernya emang agak kontroversi, sih. Termasuk untuk saya yang menilai album ini lagu per lagu.

Album ini emang menyajikan eksplorasi musik yang lebih luas lagi, hampir segala yang kamu butuhkan ada di album ini. Nggak tanggung-tanggung, The 1975 merilis 22 lagu sekaligus sebagai tanda perpisahan sementara mereka sebelum hiatus. Tetapi rasanya menurut saya sendiri album ini kurang solid.

Lagu-lagunya bagus, rock yang keras ada, rock alternatif yang santai nan mengenang ada, folk ada, elektronik dan scoring juga ada. Tapi rasanya nadanya mirip-mirip. Terasa bolong di tengah; apalagi setelah para fans diberikan album masterpiece seperti A Brief Inquiry Into Online Relationships. Rasanya, album keempat The 1975 belum bisa menandingi album ketiganya dari segi solid eksperimentalnya, kurasi musiknya, terasa kurang matang.

Mungkin hal ini juga karena ekspektasi saya yang begitu tinggi setiap singel yang dikeluarkan perlahan-lahan. Kalau kamu perhatikan, singel yang dikeluarkan itu sudah menggambarkan semua jenis lagu di album ini. Misal, People yang ngerock banget, Me & You Together Song dan Guys yang rock alternatif mengenang, Frail State of Mind yang elektronik seperti album sebelumnya, Jesus Christ 2005 God Bless America dan The Birthday Party yang ada sentuhan folk, semuanya menghadirkan jenis musik dan pengalaman yang berbeda. Wajar kan jadi berekspetasi lebih?

Namun, saat saya mendengar keseluruhan albumnya, ternyata malah kurang lebih sama dengan singel yang telah dikeluarkan. Artinya memang singel yang dirilis itu representasi terbaik album ini, tapi sisa lagu yang masuk di album ini tidak sekuat singel-nya. Kesannya hanya sebagai filler. Kamu akan sulit membedakan lagu satu dengan lainnya, terkecuali kalau kamu sudah biasa mendengarkan satu persatu.

Saya suka rock, terlebih rock alternatif. Saya senang dengan banyaknya rock alternatif di album ini. Groove antara George Daniel dan Ross MacDonald memang terasa lebih solid, tapi itu dia, terasa kurang solid dari segi materinya.

2. I Like It When You Sleep, for You Are So Beautiful yet So Unaware of It (2016)

Album The 1975
Cover album I Like It When You Sleep (Doc. The 1975)

Semakin mendekati peringkat pertama, nih! Di peringkat kedua, hadir pula album kedua The 1975. Cover albumnya memang mirip secara dengan album Self Titled mereka, tetapi musiknya? Eksplorasinya lebih melebar! Perubahannya begitu signifikan dibanding album perdananya. Meski secara rekamannya terlalu digital, tetapi saat dibawakan live jauh lebih keren. Mungkin terkesan sengaja, tetapi ini juga yang bikin saya kadang males dengerin versi albumnya.

Saya terkaget-kaget dengan perubahan musik di album ini. Saat single pertama ‘Love Me’ keluar, saya mikir, “beneran nih The 1975 jadi begini? Kok aneh?”, belum lagi gaya-nya The 1975 semakin berubah era ini. Setelah rilis lagu UGH!, Somebody Else, The Sound pun saya bingung. Kok jadi kaku banget? George Daniel yang pakem groove-nya kerasa banget kenapa mainnya jadi begini doang?

Tetapi semakin didengarkan keseluruhan album, maknanya dapet banget. Pad keyboard serta synthesizer yang makin pakem dan memperkaya musik, semakin kental referensi musik 80-annya, mulai bereksperimen menambahkan choir pada satu lagu, memasukkan saxophone yang semakin banyak, dan hal lainnya yang menurut saya membuat album ini pantas masuk peringkat kedua. Meski di album ini, porsi Matt Healy semakin berkurang, begitu pula dengan Adam Hann.

Lagu-lagu scoring di album ini pun calming-nya juara banget, lho. Kalau dengerin album ini rasanya pengen joget-joget aja, entah di lagu senang atau sedihnya. Seakan-akan seperti menjadi ciri khas-nya The 1975 di setiap albumnya, ingin tetap menulis lagu idealis-nya, namun tetap diselingi lagu komersil yang sebenarnya tetap The 1975 banget.

1. A Brief Inquiry Into Online Relationships (2018)

Album The 1975
Cover album A BriefInquiry Into Online Relationships (Doc. The 1975)

Peringkat pertama jatuh padaaaaa.. A Brief Inquiry Into Online Relationships! Sesimpel karena The 1975 kembali sukses bereksperimen dengan jenis musik lainnya, dan rumus anti-mainstream ini terbilang berhasil menghasilkan album yang sangat solid.

Album ketiga The 1975 ini seringkali dijuluki sebagai album OK Computer versi The 1975. Bagaimana tidak, sama-sama album ketiga, dan sama-sama album yang berekspansi terhadap jenis musik lainnya, dan sukses.

Secara eksperimennya mungkin berbeda dengan Radiohead, tapi simbolisnya sama: sama-sama ada lagu dengan suara pidato robot, serta eksperimen ke jenis musik lainnya. Album pertama mereka sama-sama nge-rock, album kedua berbeda dengan pertama tapi masih membawa unsur yang sama, sementara album ketiga menuju eksperimen yang lebih luas.

Di album ini semua serasa dilahap dengan baik dan matang dari berbagai jenis musik. Pop ada, rock alternatif ada, elektronik ada, R&B ada, akustik folk ada, musik 80-an juga ada. Mau musik kencang ada, musik yang bikin kamu galau juga ada. Paket lengkap! Nggak heran kan kalau album ini memasuki peringkat pertama?

Rekamannya juga nggak kaku dan terlalu digital seperti album keduanya yang memang disengaja. Lagu-lagunya dikurasi dengan baik sesuai mood-nya. Secara estetika, cover album ini juga juara, dan kesan estetika ini menyeluruh ke seluruh albumnya.

Konklusi

The 1975 saat mampir ke Jakarta! (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Sejujurnya ketika membuat artikel ini, saya sering berdebat dengan diri sendiri tentang album mana yang patut menjadi paling juara. Karena, penilaian musik masing-masing pun berbeda antara pendengar satu dengan yang lainnya.

Album Self Titled sebenarnya adalah album favorit personal saya sebagai pecinta The 1975. Album perdana-nya membawakan kita lagu seperti Robbers, The City, Settle Down, Girls, Chocolate, Sex, dan banyak lainnya. 

Tapi penilaian di artikel ini terdiri dari banyak aspek, yang dengan berat hati saya taruh ke posisi empat. Album ini memang sukses sebagai album pertama, pijakan karier band asal Britania Raya ini, tapi eksplorasi musik yang di bawa tidak sedalam album-album penerusnya.

Musik The 1975 dari album ke album semakin berkembang dan beragam. Eksplorasi musiknya yang luas membuat fans terus-terusan penasaran dan bahkan berekspektasi lebih setiap albumnya rilis. Dengan pandai, Matt Healy, Adam Hann, Ross MacDonald, George Daniel sudah mengetahui pakem dan mendefinisikan musik mereka sendiri.

Rasanya mereka begitu open minded dengan berbagai perubahan tanpa merubah definisi apa itu musik The 1975 secara keseluruhan. Berbeda album, beda eksplorasi musik, beda fesyen, beda artistik secara keseluruhan.

Kalau kamu sendiri, album The 1975 mana yang menjadi favoritmu?

Cek lebih banyak informasi terbaru seputar pop culture atau tulisan-tulisan menarik lainnya dari Muhammad Iman Ramadhan.

Pemain bass di sonicwaves | Gemar memotret | Menulis di JoyPixel dan blog pribadi | Demen musik, film, series, game, komik, gadget dan banyak hal lainnya, makannya cocok kan di JoyPixel.

Is the Story Interesting?

0 0