Kebebasan Masa Muda dan Punk Colourful Bersama The Idiot Nasty Group!

The Idiot Nasty Group
Punk warna-warni ala The Idiot Nasty Group. (Doc. The Idiot Nasty Group)

Masa muda emang nggak dateng dua kali. Keceriaan, pencarian jati diri, dan kenangan yang menyertai sering kali digaungkan oleh banyak orang sebagai bagian hidup mereka yang nggak pernah dilupain. Begitu juga dengan nuansa baru serta keceriaan yang diusung oleh unit punk rock asal Jakarta, The Idiot Nasty Group. Lengkap banget nggak tuh namanya?

The Idiot Nasty Group menawarkan sesuatu yang unik sekaligus menggemaskan dalam satu paket. Band yang digawangi oleh Caca (vokal), Lukas (gitar, vokal latar), Haggai (bass), dan Evan (drum) ini mengemas musik punk yang cepat dengan balutan kesan ceria serta warna-warni.

Daripada penasaran gimana-gimananya, kali ini, Kamis (16/08), JoyPixel berkesempatan untuk interview salah satu punggawanya nih, ada Lukas Notoprodjo, sang gitaris handal dari The Idiot Nasty Group a.k.a THING!

ENJOY READ ALSO:

Lukas Notoprodjo saat tapping bersama 48 Episodes. (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Keterangan:

JP: JoyPixel

LN: Lukas Notoprodjo

JP: Siang, Kas! Apa kabar? Gue mau nanya nih, gimana sih awalnya The Idiot Nasty Group terbentuk?

LN: Hai, Iman! The Idiot Nasty Group tuh kebentuk dari temen-temen nongkrong gitu sih awalnya, Man. Dulu iseng aja latihan-latihan ngisi gabut gara-gara masih pada kuliah gitu. Dan akhirnya ngeliat pada demen, nyaman, eh jadi deh sampe sekarang awet (tertawa).

JP: Kenapa namanya The Idiot Nasty Group?

LN: Jadi kita ada grup WhatsApp gitu kan. Nah, isi chat-nya buat ngomongin band tuh (sekitar) 30%-an lah. Sisanya ya ngirim-ngirim foto-foto jokes Twitter, foto-foto jorok, atau nggak kayak jokes bapak-bapak WhatsApp gitu (tertawa). Akhirnya ngerasa kita ini rada idiot aja. Terus pas nyari nama band salah satu personil gue kepikiran nama The Idiot Nasty Group deh. Sesimpel itu, nggak ada filosofi mendalam, Man (tertawa). Idiot aja emang.

JP: Nah, terus gimana sih akhirnya memutuskan untuk masuk ke skena punk ini? Menurut lo sendiri gimana skena punk di Indonesia sekarang?

LN: Awalnya tuh drummer gue yang ngajak masuk ke skena ini, Man. Dia emang udah lumayan lama di skena ini. Dan dari latar belakang personil lainnya juga suka jadi akhirnya ya kebawa THING ke skena ini.

Menurut gue, skena punk di Indonesia masih banyak segmennya sih. Apalagi buat mereka yang suka sama musik-musik distorsi. Dan komunitas komunitasnya pun masih banyak yang bikin-bikin acara setiap tahunnya jadi menurut gue nggak mati sih… Walaupun masih banyak juga orang yang nggak tertarik dan mandang sebelah mata ke musik yang kata orang cuman main “tiga chord” doang ini, padahal mah nggak juga.

JP: Setuju, sih. Menurut gue esensi punk itu ya nggak cuma “3 Chord” itu, tapi lebih. Uniknya, meski band punk, branding desainnya THING ini anak muda banget dan cheerful, beda sama imej band punk kebanyakan. Kenapa THING diposisikan sebagai band punk yang cheerful?

LN: Mungkin bosen nggak sih ngeliat band punk dengan font akar dan warna item putih atau merah? Sebetulnya materi-materi kita juga lumayan berwarna gitu sih, Man. Jadi pengen suasananya lebih ke seneng-seneng gitu aja sih, Man.

JP: Bener sih, jadi pembedanya kurang aja gitu keliatannya. Anyway, selamat untuk peluncuran singel Treat Me Like a Queen dan Lepas Kontrol! Dua lagu ini akan jadi singel aja, atau akan masuk EP atau album? Gokil lho yang stream udah 3000-an.

LN: Terimakasih, Man! Iya akan ada EP sih selanjutnya, Man. Ditunggu aja!

JP: Boleh diceritain nggak Treat Me Like a Queen ini bercerita tentang apa?

LN: Kalo (lagu) Treat Me itu tuh bercerita tentang cara memperlakukan wanita sebaik mungkin, di saat objectified terhadap perempuan masih terjadi di luar sana dan superiority kaum adam kurang lebih seperti itu lah, Man. Kebetulan, vokalis kita ini wanita jadi dia mau menyuarakan apa pendapat dan tanggapan dia aja sih, Man.

JP: Nah, ini sih menarik. Intinya emansipasi wanita yang pengen lo suarakan di sini ya. Menurut lo, emansipasi di Indonesia ini gimana sih?

LN: Hmmmm.. Menurut gue sih masih kurang banyak yang bisa menghargai satu sama lain.. Jadi masih ada perselisihan gender seringkali, Mann… Musti sering-sering denger lagu THING sih (tertawa).

JP: Boleh-boleh ahaha. Kalau yang Lepas Kontrol bercerita tentang apa?

LN: Kalo (lagu) Lepas Kontrol lebih ke memoar masa muda yang menggariskan malam, teman dan alkohol. Lebih ke bersenang-senangnya anak muda aja gitu sih, Mann. Ya lo tau lah (tertawa).

JP: Apa nanti di EP-nya akan ada dua bahasa gitu kayak Treat Me Like a Queen yang bahasa Inggris, terus bahasa Indonesia di lagu Lepas Kontrol?

LN: Kebetulan di EP nanti cuma (lagu) Lepas Kontrol yang (memakai) bahasa Indonesia. Sisanya kita terlanjur buat pakai bahasa Inggris.

JP: Gimana sih proses di balik proses dua singel ini? Yang satu kan rilis udah agak lama, kalau yang Lepas Kontrol ini apa lo kerjakan di saat pandemi?

LN: Prosesnya udah kita lakuin dari (bulan) Desember (kemarin) sih, Man. Dan kebetulan waktu rilisnya emang pada saat pandemi gitu (tertawa).

JP: I see.. Apa dua singel ini dan di EP berikutnya lo yang nulis, Kas?

LN: Kebetulan bukan gue Man penulis utamanya.

JP: Siapa aja sih influence THING dalam bermusik?

LN: Influence-nya (antara lain) Bikini Kill, The Muffs, sama The Interrupters paling sih kita.

JP: Kalau influence lo sendiri dalam bergitar?

LN: Frank Iero-nya MCR (My Chemical Romance). Sama Lachlan Caskey, gitarisnya Last Dinosaurs.

Lukas Notoprodjo saat manggung bersama 48 Episodes. (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

JP: Lo kan punya dua band, Kas. Satu lagi kan yang ngusung dream pop gitu kalo nggak salah. Nah, lo sendiri gimana sih bagi waktu dan idenya? Karena kan beda pasti workplace-nya.

LN: Bisa aja sih, Man… Ide kan bisa dateng dari mana aja. Jadi kadang kalo dapet ilham dipilah deh kira-kira riff kayak gini cocoknya ke THING deh.. Atau kalo melodi kayak gini cocok sama band gue yang satu lagi.

Gitu sih paling. Kalo kesulitan bagi waktu kayaknya belum deh… Belom ngetop, Man (tertawa).

JP: Bentar lagi ngetop lah, Kas ahaha. Ajak-ajak ya kalo manggung lagi. Lo kan kemarin sempet tur keluar Jakarta ya, ke mana aja sih? Terus boleh diceritain nggak pengalaman serunya gimana?

LN: Justru lucunya awal manggung THING tuh kita langsung ikut tur Man di klub Racun Rumah Pirata. Namanya Bestie Tour. Itu digerakin sama Jeruk Records. Band-bandnya ada Knowhere, Untold, Walking Boy terus ada juga Ongki sama Andresa.

Pengalaman (tur) pertama sih, dan seru banget aja bisa main di sana dan pengen banget main ke Klub Racun lagi… Entah kenapa gue suka banget sama tempat gigs yang nggak luas-luas banget; Jadi kayak seru aja gitu mepet-mepet (tertawa).

Seru juga (main) di Noirlab (yang waktu) itu di (selenggarain di) Cileungsi. THING main sama Blackteeth sama Sundancer. Seru sih crowd-nya moshing (tertawa). Tau (atau) nggak tau lagunya yang penting keringetan. Nggak tau gara-gara intisari, apa ruangan pengap, atau emang becek aja denger suara Caca (tertawa).

JP: Asik sih perasaan ketika liat penontonnya ikut seru-seruan pas lo manggung! Nah, pandangan lo soal skena independen di Indonesia? Gimana proyeksi ke depannya?

LN: Apa ya.. Yang gue liat sekarang orang juga udah mulai kreatif sih.. Dengan dipermudahnya alat dan juga software yang memadai, semua orang bisa bermusik semua. Orang bisa nyiptain karya.. Dan mereka bisa masarin karya mereka sendiri dan lebih gampang di era digital ini.

JP: Pertanyaan terakhir.. Buat JoyFriends, bisa dengerin lagu-lagu The Idiot Nasty Group di mana aja sih? Terus kalo misal abis pandemi mau ajak THING manggung bisa kontak ke mana?

LN: Yes, kami baru (saja) ngeluarin single kedua kami yang berjudul Lepas Kontrol. Kalian bisa dengerin di Spotify, Apple Music, iTunes, Deezer. Ada juga single pertama kita yang berjudul Treat Me Like a Queen. 

(Dengerin) di sana (dan jangan lupa) di ceki-ceki ya, JoyFriends! Kalo ada acara mau ngundqng kita, bisa ajak kita lewat DM Instagram kita (di) @idiotnastygroup atau email kita di [email protected]!

JP: Mantap! Thank you Lukas atas waktunya!

LN: Sama-sama, Man!

Kurang lebih, begitulah bincang-bincang seru JoyPixel dengan Lukas, sang gitaris dari The Idiot Nasty Group! Kalo kamu pengen dengerin sesuatu yang beda, fresh, penuh semangat masa muda, band ini bisa banget masuk ke salah satu playlist kamu! Dengerin lagunya sendiri berasa lumayan bisa mengobati rasa kangen akan crowd penuh saat manggung dan seru-seruan di tengahnya.

Kamu bisa banget dengerin lagu-lagunya di Spotify, YouTube, dan platform streaming musik lainnya!

Cek lebih banyak informasi terbaru seputar pop culture atau tulisan-tulisan menarik lainnya dari Muhammad Iman Ramadhan.

Pemain bass di sonicwaves | Gemar memotret | Menulis di JoyPixel dan blog pribadi | Demen musik, film, series, game, komik, gadget dan banyak hal lainnya, makannya cocok kan di JoyPixel.

Is the Story Interesting?

1 0