Selebrasi Kesetaraan Hak Wanita Bersama Unit Rock Alternatif Yang Energetik, Mildstone!

Mildstone Dreaming
Artwork singel Dreaming (Doc. Mildstone)

Musisi dari berbagai jenis aliran musik skena independen emang nggak pernah mati. Salah satunya dengan musik rock alternatif. Kalo kemarin JoyPixel udah berkesempatan ngobrol-ngobrol bareng Time Lapse Pro, kali ini JoyPixel berusaha menyelam lebih dalam ke skena musik rock alternatif di Indonesia, dengan spektrum yang sedikit berbeda. Nggak ketinggalan dengan band keren satu ini: Mildstone.

Trio yang beranggotakan Michael Yamesanifar (vokal, gitar), Anandito Hutomo (bas, vokal latar), dan Ferby (drum) ini belum lama merilis singel yang bertajuk ‘Dreaming’; sebuah lagu cover dari band Blondie, dalam rangka memeriahkan Hari Wanita Internasional.

Sedikit ulasan singkat mengenai lagu Dreaming versi Mildstone ini. Saya jujur kaget ketika berkesempatan mendengarnya terlebih dulu sebelum dirilis. Saya kira akan plek seperti versi Blondie, tapi ternyata anggapan saya salah. Versi Mildstone ini fresh banget.

Satu sisi tetep ngerasa ini ada nuansa lagu tahun 80-an, tetapi ada unsur-unsur lainnya yang membuat lagu ini juga terasa modern. Pattern drum-nya nge-groove, ngebangun mood banget, energetik dan bikin gregetan! Bass-nya pun gitu. Kalau didengar lebih detail akan terasa galak, tetapi dicampur dengan sound clean yang ngedukung bassline-nya makin groovy. Sound gitarnya pun mewah, delay-nya bikin greget. Kerasa makin mateng dari EP sebelumnya. Mildstone terasa lebih solid dari EP pertamanya. Lagu ini lebih ‘hidup’. Nggak berasa lagu ini hanya tiga menit.

Kebetulan banget pada Senin (9/3), JoyPixel berkesempatan nongkrong bareng personil-personil unit rock alternatif asal Jakarta ini nih untuk ngomongin tentang singel terbaru mereka dalam rangka memperingati Hari Wanita Internasional, JoyFriends! Langsung simak aja yuk perbincangan JoyPixel dengan Mildstone!

KETERANGAN:

JP: JoyPixel

MY: Michael Yamesanifar

AH: Anandito Hutomo

NF: Nur Ferby

JP: Halo, Mildstone! Boleh diceritain nggak gimana kalian awalnya bisa terbentuk?

NF: Dulu, Mike sama Ade (mantan gitaris Mildstone) ketemu di acara AVA Indo (fanbase Angels & Airwaves), dari situ kami jamming dan iseng bikin lagu. Di perjalanan waktu, mereka ketemu Dito. Mereka ajak dia buat gabung, tapi waktu itu dia punya band jadi gak bisa. Selang beberapa waktu, band dia bubar dan gabung sama kami. Setahun lebih tanpa drummer, kemudian baru gue masuk. 

Nah, di pertengahan 2019 kemaren Ade memutuskan untuk cabut dari band. Jadi kita lanjut dengan formasi tiga orang sih sampai sekarang, mulai dari rekaman Blondie dan album (yang akan datang) ini.

MY: Karena ada kecocokan yang berujung rutin tiap weekend kerjaannya bikin aransemen musik di rumah gue. Bermodal gitar akustik beserta aransemen khayalan lainnya. Mutusin buat recording tentu kita butuh bassist yang lumayan jago biar nggak re-take terus pas recording. Hahaha canda, ye. 

Nah, dari situlah hadirnya Mas Dito dengan segala keahlian kung-fu bass-nya. Dijamin aman nih band. Sempet kita bertiga ngelakuin recording EP “Bury The Hatchet”, yang udah rilis 2019 kemaren.

Setelah itu, gue ketemu Ferby yang dulu juga berkutat bareng di gigs lokal era pertengahan 2000-an, yang akhirnya resmi gabung bareng Mildstone sebagai penggebuk drum.     

JP: Oke, kalau makna dari nama Mildstone itu sendiri apa, sih? Biasanya kan orang akan salah kaprah atau namain bandnya itu Milestone.

MY: Ini unik! Jadi waktu itu kita namain Milestones, serius banget dah ah namanya (tertawa)! Ternyata udah ada band lain yang pake duluan. 

Hmm.. Gue maunya dirubah tapi gak jauh penyebutannya dengan Milestones. Ngerepotiiin, udah biasaa kelakuaaan (tertawa).

So, at some point, ditengah obrolan gue sama salah satu sahabat gue Rico, dia kasih inspirasi dan jalan tengah jadilah “Mildstone”. Dan setelah gue pikir-pikir artinya bisa jadi “batu ringan”. Sedikit nyeleneh tapi (artinya) bisa juga jadi “notasi ringan” cakep banget pas sama lagu-lagu kita yang bisa dibilang easy listening.

JP: Gimana awalnya bisa kepikiran untuk turut serta dalam Hari Perempuan Internasional?

MY: What a question! Of Course if there is no a single pretty humble lovely amazing smart woman, you won’t even exist man! Just to respect and celebrate.

NF: Karena kami terinspirasi sama perempuan di sekitar kita yang hebat-hebat. Mereka struggle sama urusan mereka masing masing dan bisa ngebuktiin bahwa perempuan juga bisa sejajar sama laki-laki sih di berbagai bidang. So it’s kind of our appreciation for you all, dear women!

JP: Kalau sebelumnya udah buat lagu sendiri di EP ‘Bury the Hatchet’, kenapa sekarang memutuskan untuk memainkan lagu orang?

MY: Oh, I’ve ever dreamed of Debbie Harry, this is Blondie from 1979. Aransemen dan liriknya pas banget untuk ngerayain animo International Women’s Day.

Kita masih dalam proses rekaman untuk full album perdana yang akan rilis di 2020 ini, wait for the surprise! 

NF: Karena kami suka sama Blondie dan sebenernya ini pemanasan buat album kita nanti, stay tune terus ya, JoyFriends!

JP: Kenapa akhirnya memilih lagu Blondie? Ada pesan tersendiri, kah?

NF: Yep, karena kita mau mengapresiasi sosok perempuan di Hari Perempuan Internasional. Nah, sosok Debbie Harry di Blondie menurut kami berpengaruh banget sih di musik punk tahun 80-an. Apalagi lagu yang kita cover tentang mimpi ya, jadi ya sebenernya kita juga mau nyampein pesen ke temen-temen perempuan supaya berani untuk bermimpi, biar keren kayak si Debbie.

MY: Pesannya: “Dreaming is free”, jadi untuk perempuan berarti mimpi itu kan bebas, so what are you waiting for? Have your own dreams and make it happen and don’t give in.

JP: Nantinya lagu ‘Dreaming’ ini akan masuk ke dalam single aja, atau akan masuk ke album perdana?

NF: Dreaming ini hanya single aja sih, buat pemanasan temen-temen sebelum dengerin album (perdana) kita.

MY: Singel aja, Om.

JP: Boleh diceritain nggak nih proses kreatif dalam aransemen ulang lagu ini, gimana caranya lagu Blondie ini jadi ‘Mildstone banget’?

NF: Pertama kali Mike bawa konsep dan gambaran pattern lagu sih, abis itu jamming di studio. Nah, waktu jamming pertama biasanya gue sama Dito main sesuka kita dulu. Habis itu kita banyak diskusi di luar studio sih mau dibikin kayak gimana warna lagu ini, based on draft lagu di jamming pertama, baru balik lagi ke studio buat narik benang merahnya. What a fun process anyway! Dan sebenernya pola ini apply di mayoritas lagu-lagu baru kami nanti. Belom denger ya?

AH: Bertahap dan enjoyable banget prosesnya. Asli. Karena banyak banget hal spontan yang dijadiin part aransemen lagu itu seiring latihan berkali-kali. Dari yang awalnya bassline gue datar sampe bener-bener nyaris ngikutin bassline lagunya langsung. Haha! 

But, the most interesting part were the drums, men. Gue nggak expect pengemasan drum di rekaman akhirnya bakal sepadet dan se-Travis Barker itu. Karena pas pertama banget latihan gue inget, drum pas verse lagunya bener-bener ngikutin aslinya. Asik banget jujur.

JP: Nanti dong kalau udah rilis mau denger! Ahaha. Anyway, pandangan kalian tentang wanita itu kayak gimana?

MY: Wanita itu dewasa, humoris, penyayang, teman hidup.

Yaaaa mirip-mirip secara fungsi dengan laki-laki, hahaha. Yang pasti truly amazing.

JP: Terus, gimana menurut kalian pribadi tentang kesetaraan wanita di Indonesia? 

AH: Gue pribadi sih ngeliat budaya patriarki di sini udah cukup kental dari generasi ke generasi. Biar kasus ketidaksetaraan gender udah nggak se-ekstrim dulu, gue sekarang ngeliatnya cukup miris gitu. Kenapa sekarang makin marak kasus pemerkosaan, kekerasan terhadap wanita, pelecehan seksual atau sekecil catcalling atau bentuk verbal abuse lain. Di sini masih marak dan banyak yang nggak ke ekspos di media atau ruang publik. 

Kayak setiap gue scrolling di TL twitter banyak thread yang gue baca tentang cewek jadi korban verbal abuse. Jujur, gue sesedih itu bacanya sih. Harusnya, di luar itu wanita juga berhak dapat hak yang sama kaya laki-laki dari segi pendidikan, pekerjaan, hak kepemilikan. Apalagi kita sebagai cowok juga harus nge-treat mereka selayaknya dan give respect to them, dengan nggak diperlakukan kasar sekecil apapun bentuknya. Makanya kita tertarik buat rilis single dalam ikut serta nyuarain International Women’s Day. 

Di luar itu, gue juga baru dengerin Blondie belakangan ini ya dan sempet ngeliat video-video mereka dari tahun jebot sampe dekade kemarin. Buat gue, seorang Debbie Harry di Blondie itu ngebuktiin banget the power of frontwomen no matter how old she is, she still looks powerful and energetic in every particular Blondie’s performance.

JP: Gue setuju banget, suka gue sama pandangan lo. Nah, lanjut nih. Pandangan kalian tentang masa depan musik rock?

MY: Rock bisa di-eksperimen dengan musik-musik lainnya, jadi nggak ada alasan kalo sampe nggak punya masa depan, hehe. Yang penting jangan banyak ngeluh sama ngambek, yak. Nikmatin aja, Om.

AH: Banyak artikel yang gue baca dari manapun kalo musik rock dibilang udah mati lah, udah nggak mendominasi. Hahaha. Jujur aja gue nggak sependapat dengan mereka sih. Karena musik rock itu buat gue sendiri genre yang luas banget dan unsur-unsur dari rock music itu connectable ke genre apapun even di jenis musik yang gampang diterima kuping masyarakat luas. 

Mungkin orang awam ada yang mikir kayak “musik rock itu musik yang keras, sedangkan pop itu musik yang pelan tipikal-nya” tapi pada nyatanya, gue liat genre pop-rock bahkan general rock di negara manapun tetep berkembang pesat. Musik rock lokal di sokin juga lagi  naik-naiknya banget terlebih band-band di jalur indie. 

Acara segede We the Fest bahkan Hammersonic pun jumlah crowd dan peminatnya masih nggak jauh beda dari konser rock lokal jaman jebot. Ya, gue yakin banget apapun generasinya dan kapanpun itu, pasti bakal selalu ada penyelamat musik rock yang beberapa orang bilang udah sekarat ceunah. Hahaha!

JP: Gue pribadi sih setuju banget kalau musik rock itu nggak pernah mati. Mungkin hanya berevolusi aja. Lanjut nih, kalau tadi soal musik rock, sekarang gimana pandangan kalian tentang musisi yang berada di jalur independen?

MY: Banyak juga band-band di Indonesia yang masih berkarya di jalur independen, semua kemungkinan pasti ada selama produktif. Independently or not we’ll still be able to produce some arts.

AH: Tetep berkarya, satuin chemistry, suarain apa yang lo mau suarain di musik apapun bentuknya dah! Hahaha. Jangan ada pihak lain yang ngebiarin musik lo dikotak-kotakin. 

Karena ya sejauh ini gue kutip kata-kata Mike: “Gue bikin musik yang gue suka, kalo ada orang lain yang suka musik kita it’s a honour for us”. Cheers!

JP: Gue setuju banget, sih. Kalau JoyFriends mau dengerin dan ingin informasi terbaru tentang Mildstone bisa liat di mana, sih?

MY: Kita udah rilis EP bertajuk Bury The Hatchet, bisa didengerin di Spotify, iTunes, dan lain-lain. Cek aja IG kita di @wearemildstone

Itu dia sedikit bincang-bincang JoyPixel dengan personil Mildstone terkait perilisan singel terbaru hingga tentang hari wanita, JoyFriends! 

Untuk JoyFriends yang pengen denger musik rock alternatif yang energetik dan seger, Mildstone ini cocok juga buat masuk playlist kamu! Kalau kamu mau dengerin lagunya, bisa banget mampir ke Spotify, YouTube, atau bahkan beli rilisan fisiknya yang hanya dalam bentuk kaset.

Cek lebih banyak asupan berigizi seputar budaya populer di JoyPixel atau tulisan-tulisan menarik lainnya dari Muhammad Iman Ramadhan.

Pemain bass di sonicwaves | Gemar memotret | Menulis di JoyPixel dan blog pribadi | Demen musik, film, series, game, komik, gadget dan banyak hal lainnya, makannya cocok kan di JoyPixel.

Is the Story Interesting?

2 0