The Dream Walker Review: Proyek Multimedia Ambisius Angels & Airwaves

User Rating: 9
The Dream Walker Review

Pas banget dengan tur tahun lalu yang mempromosikan juga album yang dirilis tahun 2014 kemarin ini, JoyPixel ingin ngulas lagi satu proyek Angels & Airwaves yang ambisius banget, JoyFriends. Band yang digawangi oleh Tom Delonge (vokal, gitar), David Kennedy (gitar), dan Ilan Rubin (drum, multi-instrumentalis) ini meluncurkan sebuah paket proyek multimedia lengkap: mulai dari album baru, film animasi pendek, komik, novel grafik yang semuanya mempunyai tema yang sama: yakni tema Sci-Fi seperti sebelum-sebelumnya.

Proyek ini bertajuk ‘Poet Anderson: The Dream Walker’ yang menceritakan tentang seseorang Lucid Dreamers yang bernama Poet Anderson. Ini bukan pertama kalinya Angels & Airwaves merilis sesuatu di luar musik. Sebelumnya pernah ada sebuah film berjudul ‘LOVE’ yang merupakan film penjelajahan antariksa seperti ‘Interstellar’, dibalut dengan dua album, serta novel grafik.

SEPUTAR KONTROVERSI

The Dream Walker sendiri membutuhkan waktu dua tahun untuk menyelesaikan proses produksinya, JoyFriends. Emang bukan waktu yang sebentar; tapi pada akhirnya menghasilkan sebuah karya yang bisa dibilang cukup berbeda dan fresh dari segi musik di album sebelum-sebelumnya. Kalau pada lagu-lagu di album sebelumnya selalu menggunakan synth dan efek gitar delay yang membawa kita ke luar angkasa, kali ini AVA mengajak kita kembali turun ke bumi. 

Di album ini pula, pertama kalinya Angels & Airwaves melangkah tanpa bantuan anggota ‘kelima’ mereka, Critter, karena meninggal dunia. Posisi Critter ‘digantikan’ oleh Aaron Rubin, yang jadi ‘jembatan’ pikiran antara Tom dan Ilan itu sendiri; karena Tom sendiri ngakuin kalo nyatuin pikiran sama Ilan itu susah banget, JoyFriends.

Album ini menuai kontroversi yang cukup mendalam untuk para fans AVA. Dimulai dari keluarnya bassist Matt Wachter, munculnya bassist pengganti bernama Eddie Breckenridge dari band post-hardcore Thrice, rumor hengkangnya David Kennedy dari band, dan photo shoot yang hanya melibatkan dua personilnya; Tom DeLonge dan Ilan Rubin sampai dikeluarkannya Tom DeLonge dari blink-182 yang digantikan posisinya oleh Matt Skiba.

Tom DeLonge (kanan) dan Ilan Rubin (kiri) pada photoshoot majalah Rolling Stone. (Doc. Rolling Stone)

Masuknya Ilan Rubin menggantikan posisi Atom Willard di sektor drum pada awal 2012 juga menuai kontroversi. Menurut para fans yang memihak Atom Willard, Ilan Rubin bukan pengganti yang cocok untuk Angels & Airwaves. Ketukan dan gaya permainannya begitu berbanding terbalik. Pun, ini album pertama Ilan di AVA.

Tapi menurut pandangan subjektif saya, sosok Ilan Rubin ngasih dampak yang sangat besar pada album kelima AVA ini. Ia seorang multi-instrumentalis yang mempunyai kemampuan bermusik yang menurut saya juga di atas rata-rata. Bahkan seorang Tom DeLonge yang jenius ini mengakui bahwa Ilan adalah seorang gitaris yang lebih baik darinya.

Ilan Rubin telah membuktikan hal itu pada proyek solo bandnya yang bernama The New Regime. Ilan Rubin juga berperan besar sebagai touring drummer Nine Inch Nails, drummer recording pada album baru Paramore, dan tentunya influence yang sangat besar pada album The Dream Walker dari Angels & Airwaves ini. Ia bisa memainkan hampir semua alat musik. Mulai dari gitar, bass, drum, piano klasik, dll dan bukan hanya sekedar bisa, namun benar-benar menguasai. Belum lagi, tahun kemarin The New Regime adalah band pembuka untuk Angels & Airwaves. 

Nah, nggak pake lama lagi, gimana sih keseluruhan pengalaman proyek ambisius ini? Langsung aja yuk simak artikelnya, JoyFriends!

ALBUM YANG MATANG DAN FRESH!

The Dream Walker dibuka dengan dentuman nada piano klasik dari lagu ‘Teenagers & Rituals’, yang jika didengarkan beda banget dari tipikal lagu-lagu Angels & Airwaves pada album sebelumnya. Tetap ada synth dan efek gitar delay yang kental pada album ini, tapi AVA melakukan sesuatu yang sangat berbeda. Evolusi sound pada album ini kerasa banget, JoyFriends. Entah dari segi gitar, bass, dentuman drum, ataupun synthesizer. Riff gitar pada lagu ini tuh beda dari riff yang biasanya mereka mainkan, dan tidak terkesan U2-ish seperti biasanya.

Sebelum album ini dirilis, ada salah satu lagu dari album ini udah bocor di internet dan cukup ramai diperbincangkan. Engineer Aaron Rubin menegaskan bahwa lagu yang bocor itu belum mencapai tahap mixing. Tom DeLonge sendiri akhirnya mengkonfirmasi bahwa lagu ‘Paralyzed’ ini bukan sebuah single dari album. 

Diawali dengan suara cymbal crash yang kemudian disambut dengan riff bass berdistorsi serta dilanjutkan dengan echo delay dan synthesizer, intro di lagu ini tuh kerasa megahnya. Bener-bener nuansa baru buat AVA. Kesan pertama saya, AVA kerasa bener-bener pengen melenceng dari album sebelumnya. Lagu dengan riff gitar yang berat, bass dengan distorsi, serta alur dinamika lagu yang berbeda menjadi sesuatu yang membuat lagu ini menjadi spesial. Fans blink-182 mengklaim lagu ini mirip dengan lagu Snake Charmer.

Kalau Tom DeLonge ngomong bahwa lagu ‘Paralyzed’ bukan merupakan single dari album ini, maka lagu berikutnya pada album ini lah yang menjadi single pertama di album ini. Satu lagu yang sangat ‘melenceng’ dari tipikal lagu AVA, tapi bisa dibilang sangat easy listening dan catchy. Sebuah lagu berjudul ‘The Wolfpack’, yang dibuka dengan bass yang sangat kental dengan efek fuzz dipadu dengan synthesizer yang sangat terasa digital, dipadu lagu yang begitu mengalir dan membuat ngangguk-ngangguk tanpa dentuman drum .yang kencang. 

Pada video klip The Wolfpack ini, Angels & Airwaves kembali mengajak Mark Eaton sebagai sutradara dan produsernya. Pada video klip ini juga membuat fans bertanya-tanya. Kemanakan perginya David Kennedy dan Ed Breckenridge?

Tom DeLonge pernah berbicara saat interview dengan majalah Rolling Stone, bahwa ada sebuah lagu favorit yang pernah DeLonge tulis pada album ini. Lagu ini merupakan single kedua dari album The Dream Walker, yang bercerita tentang ayah nya yang meninggal karena kanker. 

Jika tiga lagu di atas sudah mulai menjauh dari influence U2 dan menjurus ke Nine Inch Nails, pada lagu ‘Tunnels’ ini mulai terasa lagi pengaruh U2nya. Namun menurut saya beda dari tipikal lagu AVA umumnya. Rubin benar-benar ngebantu DeLonge dalam membuat sesuatu yang baru. Lagu inilah yang ada pada trailer film pendek Poet Anderson: The Dream Walker. Pada video klip ini, Tom DeLonge seperti ingin membantah kemana perginya David Kennedy dan Ed Breckenridge.

Bicara soal melenceng, lagu berikutnya bisa dibilang salah satu dari yang lebih melenceng. Sebuah lagu slow electro-pop berjudul ‘Kiss With A Spell’, yang kental dengan nuansa bass synthesizer seperti musik-musik tahun 80-an, JoyFriends. Walau lagu pelan, namun lagu ini tidak membuat bosan ataupun mengantuk, malah salah satu lagu yang bisa untuk sing a long. Saya aja sebenernya nggak nyangka kalau lagu ini akan seasik itu dibawain live.

Ada satu lagu yang jika didengarkan, agak mirip dengan nuansa lagu blink-182. Namun sekali lagi, DeLonge dan Rubin membuat sentuhan di lagu ini nggak jadi lagu blink-182 dan tetap berasa nuansa Angels & Airwavesnya. Mungkin kalo Travis Barker yang memainkan groove lagu ini, dan menghilangkan suara bass synthesizer pada intro lagu, akan menjadi suasana lagu blink-182. Mungkin DeLonge dan Rubin sengaja membuat lagu ‘Mercenaries’ ini untuk menarik perhatian para fans blink-182 yang terkadang suka mencaci Angels & Airwaves.

Salah satu riff gitar dan bass line favorit saya di album ini adalah dari lagu ‘Bullets In The Wind’. Ketika pertama kali lagu ini diunggah oleh AVA melalui situs YouTube, lagu ini yang membuat saya tertarik untuk membeli album ini. Bass line nya catchy nan groovy, riff gitar dan drum yang bikin berdansa, beda banget pokoknya sama lagu-lagu AVA lainnya. Secara mudah, Bullets In the Wind ini jadi lagu favorit saya pada album ini.

‘The Disease’ merupakan lagu kedelapan dalam album yang bernuansa ‘gelap’, namun pada reff lagu ini lebih ringan dan easy listening. Lagu yang cukup unik buat saya, kalau pada lagu biasa terdengar dua gitar yang memainkan part yang berbeda, pada lagu ini terdengar dua suara bass. Satu bass dengan efek overdrive (pada reff terdengar clean), dan satu lagi dengan efek chorus dan phaser.

Setiap orang di dunia ini memiliki selera yang berbeda. Ada yang suka sebuah band yang berbeda setiap albumnya, ada pula yang menyukai band yang setiap album tetap mirip-mirip. ‘Tremors’ merupakan lagu dengan riff gitar dan nuansa yang mirip dengan lagu-lagu AVA pada album sebelumnya, ditambah dengan bumbu musik 80-an, serta nuansa U2 yang berbeda. Walaupun tetap ‘dikemas’ dengan nuansa baru agar tidak bosan. Pada intro lagu ini menyambung dengan outro pada lagu ‘The Disease’. Rasanya cocok banget buat orang yang lagi jatuh cinta dan berbunga-bunga.

Pada album-album sebelumnya, Angels & Airwaves selalu menempati lagu yang ‘manis’ di akhir album. Di album pertama mereka, We Don’t Need To Whisper, mereka menaruh lagu Start The Machine pada urutan terakhir. Pada I-Empire mereka meletakan lagu Heaven menjadi penutup. Pada album LOVE lagu Some Origin Of Fire menjadi penutup, dan pada album LOVE Pt. 2 lagu indah berjudul All That We Are yang sangat manis untuk menutup album tersebut.

Pada album The Dream Walker ini, Angels & Airwaves kembali menempatkan lagu ‘manis’ yang catchy, dan paling easy listening dalam album ini. Terlebih lagi, lagu ini adalah lagu akustik pertama yang pernah dibuat oleh Angels & Airwaves. Nada awal yang dinyanyikan DeLonge agak mirip dengan lagu pada era-era Box Car Racer. Izinkan lagu ‘Anomaly’ ini menutup album ini dengan indah dan membiarkan anda masuk kedalam dunia mimpi.

FILM ANIMASI YANG MEMBUKTIKAN KESERIUSAN DELONGE!

Poster Film Animasi pendek Poet Anderson: The Dream Walker. (Source: Wikipedia)

Untuk proyek film animasi berdurasi 15 menit tersebut, Tom DeLonge menggandeng dua animator asal Portugal, yakni Sergio Martins dan Edgar Martins. Tom DeLonge sudah sejak lama memikirkan konsep tokoh Poet Anderson tersebut dari tahun 1999, namun baru terealisasi ketika bertemu Sergio Martins saat ia mendesain logo kelinci untuk blink-182.

Film animasi pendek ini terinspirasi dari berbagai film-film lain seperti Blade Runner, A Clockwork Orange digabungkan dengan referensi anime Aoki Dansetsu, dan Akira. Selain film-film tadi, Poet Anderson: The Dream Walker ini juga terinspirasi oleh penelitian di Stanford University.

SINOPSIS

Trailer film pendek Poet Anderson : The Dream Walker

Poet Anderson: The Dream Walker ini bercerita tentang seorang Lucid Dreamer, yang terbawa ke alternate universe di mana ia bertemu dengan seorang malaikat penjaga, Dream Walker, dan juga dengan ketakutan terbesarnya, Night Terror. Ia harus menghadapi Demons di dunia nyata dan di dunia mimpi yang seolah bertabrakan. Poet harus berkompromi dengan rasa takutnya, karena antara kehidupan nyata dan mimpinya itu lama-lama kayak bersatu.

PENYAMPAIAN CERITA YANG LEBIH BAIK!

Secara cerita, film ini lebih bagus penyampaiannya dibanding film LOVE yang lalu. Premis ceritanya simpel dan eksekusinya ‘ngena’. Karena namanya juga film pendek, dengan durasi yang pendek, film ini membuat pikiran kita banyak bertanya-tanya. Nggak lain dan nggak bukan karena banyak banget plothole yang harusnya bisa diceritain lebih dalem, JoyFriends. Tapi, mungkin selain keterbatasan waktu, hal ini juga mungkin disengaja untuk menjual novelnya, menjawab asal-usul si Poet Anderson ini.

ANIMASI YANG OKE BANGET!

Animasinya juga bisa dibilang bagus dan enjoyable. Warna-warnanya yang dihadirin tuh emang kaya banget, sekaligus ngangkat ceritanya yang sedikit gelap. Secara kualitas animasinya sih, bisa banget disandingin sama film animasi dari Marvel ataupun DC, JoyFriends. Pun, karena pengaruh yang disajikan oleh DeLonge dari dua kebudayaan yang berbeda, gambar western dan rasa penggambaran anime-nya tuh kerasa, tapi nggak tau kenapa, hal ini bisa dieksekusi dengan sangat baik. Good job untuk animatornya yang bekerja di balik layar!

FINAL VERDICT

Buat saya pribadi, ini adalah proyek yang sangat bagus, fresh berbeda dari apa yang pernah Angels & Airwaves lakukan sebelumnya, JoyFriends. Permulaan baru yang baik untuk AVA. Banyak eksplorasi baru di album ini. Mulai dari lagu akustik, lagu yang berdinamika berbeda, sound gitar dan bass yang berbeda, lebih berwarna, serta easy listening nan catchy. Bisa dibilang nggak lebih keras dari album sebelumnya, juga nggak ngebawa nuansa luar angkasa seperti pada album sebelumnya. Di album ini pula tercurah pengalaman spiritual seorang Tom DeLonge dan curhatan tentang meninggalnya ayah DeLonge.

Sayangnya, lagu-lagu ini nggak pernah dibawain secara langsung dan nggak ada tur promosinya sampai 2019 kemarin, JoyFriends. Posisi bass-nya pun akhirnya nggak diisi Ed Breckenridge, namun oleh pemain bass yang nggak kalah jago: Matt Rubano, mantan pemain bass Taking Back Sunday dan The All-American Rejects, JoyFriends. 

Dari segi film pendek yang diproduseri Ben Kull ini dieksekusi dengan sangat baik dibanding film LOVE. Ceritanya itu cukup ngena untuk jelasin awal mula dunia Poet Anderson ini. Premis ceritanya simpel dan nggak ribet. Penyampaiannya pun bagus, bikin kita ngerti sama jalan ceritanya. Meski kayaknya sepele, hal ini kayaknya yang bikin kamu bingung dari film LOVE. Meski begitu, film ini bukannya tanpa kekurangan, JoyFriends. Masih ada beberapa plothole yang harusnya bisa ngejelasin lagi asal-usul Poet Anderson dengan segala plot hole-nya. Mungkin juga karena durasi yang sebentar, tapi ya, ini perkembangan luar biasa untuk Tom.

Segi animasinya, bisa dibilang bagus banget, JoyFriends. Warna-warnanya semakin menghidupi karakter yang dibawakan. Animasinya itu menurut saya bisa banget bersaing dengan film animasi Marvel dan DC. Tom bersama tim animator itu kayak menggabungkan dua karakter gambar yang berbeda: komik barat dengan karakter manga Jepang.

Hal ini semakin ngebuktiin ke para fans, bahwa DeLonge ini serius ngegarap proyek ini. Gimana nggak, film ini berhasil membawa pulang piala juara satu pada kategori Best Animated Film di Toronto Short Film Festival. Keren kan, JoyFriends?

Proyek multimedia ini mendapat respon positif dari kritikus musik, maupun dari segi penjualan. Dari awal rilis, album maupun filmnya mendapat chart posisi satu di iTunes USA, UK, Australia, begitu pula di Indonesia.

Untuk seluruh proyek Poet Anderson: The Dream Walker ini sekarang sudah dijual melalui iTunes, dan beberapa bundle proyek yang berisi CD, Vinyl, DVD film pendeknya, komik, novel grafis, kaos, CD-RW, dan rumornya mau mengeluarkan CD fisik di toko-toko musik. Namun untuk albumnya sendiri sudah di unggah melalui situs YouTube.

Gimana, makin penasaran kan, JoyFriends? Langsung aja dengerin lagu-lagunya di platform streaming favorit kamu atau beli di iTunes! Bisa juga pre-order bundle spesial-nya, JoyFriends.

After Impression: Album AVA paling easy listening, catchy, setiap lagu dari album ini berbeda sehingga tidak membosankan, experimental, ambisius. Untuk semua projectnya bisa dibilang bagus, wajar jika Rolling Stone memberi rating 4 dari 4 bintang dan memenangkan Toronto International Short Film Festival.

Favorite Track: Teenagers & Rituals, Bullets In The Wind, Anomaly

Not Favorite Track: Mercenaries. Sebenarnya bukan tidak suka, lagu ini enak, namun bukan tipikal lagu favorit saya.

Bagian Favorit di Film: Ketika Poet sedang melawan Night Terror.

Paling enak didengar ketika: Waktu bersantai, menikmati kesendirian, atau bersatu dengan alam.

Cek lebih banyak asupan berigizi seputar budaya populer di JoyPixel atau tulisan-tulisan menarik lainnya dari Muhammad Iman Ramadhan.

NOTE: Well, sebenarnya ini adalah review lama saya di blog pribadi, jauh sebelum mengenal JoyPixel dan sebelum JoyPixel ini sendiri berdiri; tapi saya memutuskan untuk memindahkan tulisan ini ke JoyPixel dengan mengubah beberapa tatanan bahasa biar lebih enak dibaca. Terlebih, nggak ada kata terlambat kan untuk kembali mengulas musik bagus, JoyFriends?

Good
  • Secara musik lebih fresh dari dua album terakhir,
  • Influence Ilan di album ini membawa angin segar,
  • Proyek multimedia yang ambisius!
  • Secara film pendek, dilengkapi dengan animasi yang sangat bagus,
  • Penyampaian dan eksekusi yang lebih baik dari film LOVE.
Bad
  • Orientasi penjualannya lebih ke online daripada fisik. Ya, meski sebenarnya banyak orang mulai beralih ke media digital, saya sendiri termasuk orang yang old school, lebih menyukai rilisan fisik,
  • Tur promosi album ini telat banget, lima tahun setelah dirilis,
  • Plot hole pada film.
9
Amazing
Pemain bass di sonicwaves | Gemar memotret | Menulis di JoyPixel dan blog pribadi | Demen musik, film, series, game, komik, gadget dan banyak hal lainnya, makannya cocok kan di JoyPixel.

Is the Story Interesting?

0 0