Time Lapse Pro: Menantang Waktu Dengan Rock Alternatif Eksperimental

Time Lapse Pro Band
(Doc. Time Lapse Pro)

Siapa bilang kalau musik rock sudah mati? Kini trio Time Lapse Pro yang beranggotakan Sam Christ (vokal, gitar), Archie Arrahman (bass, vokal latar), dan Chris Rust (drum) bersiap membuktikan anggapan itu salah. Band rock alternatif yang berdiri pada Maret 2019 ini berani membuktikannya kepada khalayak ramai dengan merilis album teranyarnya 29 Februari 2020 lalu yang bertajuk Chronosphere. 

Nah, hari Selasa (3/3/20), JoyPixel berkesempatan nongkrong bareng vokalis Time Lapse Pro, Sam Christ, untuk ngobrolin seputar Time Lapse Pro dan album teranyarnya, Chronosphere. Langsung aja yuk simak perbincangan kami, JoyFriends!

KETERANGAN:

JP: JOYPIXEL

SC: SAM CHRIST

ENJOY READ ALSO: Green Day “Father of All…” – Review : Berbeda, Fresh, Fun, Komersial 

 

JP: Boleh diceritain nggak asal-usul terbentuknya Time Lapse Pro?

SC: TLP (Time Lapse Pro) itu awalnya terbentuk sebagai band buat reguleran. Tahun 2019 awal gue ngajak-ngajakin beberapa kenalan gue, dan akhirnya yang cocok ya line up sekarang. Gue, Sam Christ (vokal, gitar), Archie (bass) dan Chris (drum). Setelah tiga bulan reguleran bareng, kita mulai ada ide buat bikin single-single sendiri karena bosen cover lagu orang terus. Dari situ lah, Maret 2019, Time Lapse Pro sebagai band original secara resmi terbentuk.

JP: Apa makna dibalik nama Time Lapse Pro? Apa ada hubungannya dengan waktu?

SC: Jadi gini, kan tadi awalnya kita sebagai band reguleran kan. Nah, nama Time Lapse Pro itu artinya kita bisa bawain dengan mantap lagu jadul sampe yang paling baru saat itu. Nah pas kita punya karya sendiri, Time Lapse Pro itu maknanya agar lagu yang kita buat sekarang ini tetap relateable di masa depan nanti, entah keadaan dunia nanti lebih buruk atau lebih baik 100 tahun lagi.

JP: Ini ada hal yang unik. Kan TLP ini juga reguleran ya, dan band reguleran dengan band yang buat musik sendiri kan kayak beda pasarnya, terlebih dengan jenis musik yang diusung oleh TLP, apa sih yang membuat TLP tetep berniat buat album dan nggak jadi band reguleran? Bukannya reguleran lebih stabil pemasukannya? Apa suatu saat akan berhenti reguleran?

SC: Pada dasarnya kita bertiga ini orang yang bosenan mainin lagu orang, apalagi reguleran bisa tiga kali seminggu main lagu yang itu-itu aja. Kalo dari gue secara pribadi, memang banyak lagu yang bagus dan enak banget buat dimainin kayak lagu-lagu Muse, Coldplay, dan lain-lain. Tapi di dalem diri gue nggak bisa bohong, bro. Sekeren-kerennya lagu itu gue maenin, itu bukan lagu gue. Gue lebih mending bikin lagu sendiri yang masih biasa-biasa, tapi gue bisa bilang ini lagu gue, Ini lagu TLP, dan gue juga lebih bangga bisa berkarya. Gue yakin setiap orang nulis lagu pertama kali nggak akan langsung bagus, tapi kalo kita nggak pernah berani nulis karya kita yang jadi identitas kita, kapan kita bagusnya?

For now, reguleran itu sebagai “fuel” buat biaya produksi kita yang lumayan gede. For TLP, identitas itu lebih baik daripada terus-terusan sembunyi di belakang bagusnya lagu orang.

JP: Nice, gua pribadi setuju banget. Nah, boleh diceritain sedikit nggak sih makna dibalik album Chronosphere ini? Apa ini album berkonsep yang satu albumnya bercerita satu hal yang sama kayak film, atau masing-masing punya maknanya sendiri?

Cover album Chronosphere

(Doc. Time Lapse Pro)

SC: Nah, album ini konsep utamanya itu sebenernya di Chronosphere ini: Mesin waktu. Semua lagunya tentang perjalanan waktu seorang pria dan tentang hal yang udah terjadi sekarang dan nanti mungkin makin parah atau sekarang belum ada tapi nanti mungkin ada. 

Song by song:

  1. Heroes: Veteran perang udah berjuang buat negara tapi nggak diurus sama pemerintah.
  2. Spyder: Manusia yang individual tapi maunya ngambil keuntungan dari orang.
  3. Chronosphere: Mesin waktu.
  4. Time Rift: Cinta terlarang yang terbentuk saat sang pria sedang pergi ke masa depan dan bertemu dengan seorang wanita di waktu itu.
  5. Blackhole: Upaya untuk meyakinkan sang wanita agar melepaskannya dan kembali ke kesehariannya.
  6. Justice: Dunia di mana pemerintah tidak lagi berkuasa, hukum tidak lagi berlaku dan kemanusiaan pudar.
  7. D.O.A: Permintaan sang pria untuk ditemukan dan dipulangkan ke masanya, hidup ataupun mati.
  8. Exit: Sang pria tiba di masa di mana dunia ternyata membaik.

So basicly, Chronosphere itu tentang seorang pria yang time travelling dan menemukan beberapa hal diperjalannya.

JP: Gokil, ternyata dalem banget. Boleh diceritain sedikit nggak sih, gimana proses kreatifnya dalam membuat album Chronosphere ini? Entah dari sisi cerita atau menulis lagunya?

SC: Proses nulis lagunya gue bener-bener mikirin hal apa yg ada di depan mata kita sih. Kayak ‘Spyder’, kalo dipikirin bisa bener-bener deket keseharian kita. Anak sekolahan, yang anak pinter dideketin duduknya pas ada ujian, padahal mah temenan deket juga nggak. Yang intens banget itu pas nulis aransemen lagunya.

Gue inget ‘Exit’ itu ada lima versi. Gue terus ulang-ulang, apus file yang menurut gue jadinya nggak memuaskan. Terus bener-bener ulang dari awal lagi. So, konsep dan cerita kita lebih nyantai. Tapi kalo soal aransmen dan recording, TLP super ketat.

Dan ini fakta yang baru gue publish ke lo doang. Materi kemaren kalo dikumpulin, TLP udah punya tiga album.

JP: Super ketat dalam hal jadwal atau dalam sound? Denger-denger ngutip dari IG, rekamannya di rumah lo semua?

SC: Dalam konteks sound kita ketatnya. And yes betul, semua dikerjain di mac pribadi.

JP: Mantapppp, perdana dapet fakta barunya nih. Kalau dikumpulin, tetap bercerita hal yang sama?

SC: Masih. TLP akan terus berbicara soal kemungkinan masa depan. Yang beda nanti dari sudut pandang sama warna lagunya.

Chronosphere ini kan laki-laki yang ngejelajahin waktu, makanya di album covernya ada orang di dalem jam.

Sama konfliknya yang makin beragam, karena tau sendiri… Di Indonesia aja tiap hari ada aja masalah baru yang bisa dijadiin materi.

JP: Boleh dibagi sedikit nggak sih rahasia ketatnya? Ngulik efeknya, kah?

SC: Ngulik sound amp-nya, sampe ke ukuran pick yang dipake juga dipilih ketat buat dapetin tight-nya.

Paling sharing dikit, kan biasa banyak band-band metal atau rock lokal kalo setting distorsi gainnya gede-gede tuh, kadang bisa sampe full. Nah TLP tuh gainnya cuma 4/10. Lebih low gain daripada yang dikira.

Terus juga ketat dalam arti sebisa mungkin cari sound gitar khas kita sendiri, jangan niru orang.

JP: Kalau drum nya, tracking sendiri atau ‘gambar’?

SC: Drum yang (tracking) live, (itu ada) Heroes, Justice, Time Rift. Sisanya, kita tulis partnya terus digambar di DAW. Itupun yang take drum live gue. Chris belum available waktu itu. Jadi kita tulis emang drum part yang Chris mainin di studio pas latihan. Terbatas dana kita buat take drum.

JP: Kalau influence musik dari TLP ini sendiri apa sih? Karena kalau yang gua udah denger beberapa lagu, banyak influence dari band Post-Grunge.

SC: Yang paling kentel so far Muse, Coldplay sama System Of A Down.

JP: Lagu favorit personal di album ini?

SC: JUSTICEEEEEE! Karena itu lirik terbaik gue.. Menurut gue.

JP: Pandangan personal tentang masa depan musik rock?

SC: Gue liat musik rock nggak akan kemana-kemana sih sampe berpuluh-puluh tahun kedepan. Karena makin banyak yang unik.

JP: Kenapa memilih gitar (merk) Balaguer?

SC: Waktu NAMM 2019 gue liat-liat IG kan, tau-tau ada Jim Root gitaris Slipknot di-post sama satu company namanya Balaguer. Nahh, dari situ penasaran dah. Gue cari-cari info ternyata dia itu bisa custom spesifikasi. Langsung deh tertarik gue. Mumpung ada orang dari Amrik yang mau pulang gue nitip.

Sound-nya cuyy pas aja gitu sama set TLP.

JP: Nah, biar JoyFriends bisa dapetin info terbaru dan dengerin lagu-lagu TLP bisa di mana sih? Bisa juga loh dikasih infonya kalau mau mesen albumnya TLP.

SC: Nahh, album kita udah live di seluruh outlet streaming (kecuali Joox), tinggal search misal di Spotify “Time Lapse Pro” nanti langsung keluar deh album dan single-single kita.

Bisa juga yang mau mesen CD album Chronosphere lewat WhatsApp 081281237400 seharga 40K, dan ada merch baju kita juga seharga 100K. Music Video ada di YouTube official kita, TLP Band.

JP: Okay, thank you mas Sam Christ untuk kesempatan wawancaranya!

SC: Oke, bro. Thank you ya interview-nya!

Nah, begitulah JoyFriends bincang-bincang JoyPixel dengan Sam Christ sang vokalis dan gitaris dari Time Lapse Pro!

Buat JoyFriends yang suka musik rock dengan balutan eksperimen unik, lagu-lagu dari Time Lapse Pro ini kayaknya cocok banget buat kamu! Kamu bisa dengerin langsung di-plarform streaming online, atau bahkan memesan album fisiknya, JoyFriends. Nantikan ulasan albumnya di JoyPixel ya, JoyFriends!

Cek lebih banyak asupan berigizi seputar budaya populer di JoyPixel atau tulisan-tulisan menarik lainnya dari Muhammad Iman Ramadhan.

Pemain bass di sonicwaves | Gemar memotret | Menulis di JoyPixel dan blog pribadi | Demen musik, film, series, game, komik, gadget dan banyak hal lainnya, makannya cocok kan di JoyPixel.

Is the Story Interesting?

3 0