Cerita Singkat Perjalanan Uber, Transportasi Online “Kontroversial”

Uber, layanan transportasi online yang sejak kehadirannya selalu menjumpai kontroversi.

Semakin hari, di era digital ini kita semakin membutuhkan yang namanya transportasi berbasis online. Sampai saat ini ada tiga jenis aplikasi transportasi online berbeda yang dapat mengangkut kita untuk berkendara dari satu titik ke titik lainnya, alias tujuan kita.

Salah satu transportasi online yang sering digunakan masyarakat Indonesia saat ini adalah Uber. Ya, meskipun baru aja ditinggal Travis Kalanick, layanan ini masih laris manis buat orang-orang yang males nyetir mobil, tapi tetap ingin bepergian menggunakan roda empat.

Layanan transportasi online yang menyasar kelas menengah sampai kelas atas ini memiliki cerita menarik, yang mungkin juga mempengaruhi lahirnya transportasi online lainnya, seperti Grab dan tentu saja transportasi online ciptaan orang Indonesia asli, GO-JEK.

Kamu mungkin belum tahu seperti apa ceritanya, tapi tentu kamu harus tahu karena kisah Uber sendiri cukup inspiratif buat kamu!

Berawal dari San Fransisco

Travis Kalanick dan Garret Camp merupakan dua orang di balik kesuksesan Uber saat ini. Sebelum menjadi sebuah aplikasi, masing-masing dari mereka sudah memiliki perusahaannya sendiri, yaitu Travis dengan Red Swoosh perusaahan berbagi file dan Garret dengan Stumble Upon, mesin penjelajah internet.

Namun perusahaan mereka tidak berjalan mulus, hingga Travis dan Garret bertemu di salah satu konfrensi di Paris pada tahun 2008. Kemudian Garret memikirkan bagaimana upaya untuk penyelesaian masalah yang terjadi pada taksi-taksi di San Fransisco, Ia pun mencetuskan untuk membuat layanan mobil mewah dan terjangkau. Di samping itu mereka sepakat untuk mendanai pengemudi, Mercedes S Class dan tempat parkir garasi.

Maret 2009, resmi diluncurkan armada pertamanya yakni, UberCab yang dapat ditumpangi oleh masyarakat setempat. Saat itu aplikasi yang terhubung dari iPhone saja, sampai sekitar tahun 2011 Uber sudah dapat diakses melalui Android.

Seperti di kutip dari techcrunch, pemerintah sempat di demo oleh masyarakat San Fransisco, karena kehadiran transportasi online yang menghambat kinerja para taksi konvensional. Hal ini pun memicu adanya larangan beroperasi bagi Uber. Namun lambat laun melalui berbagai pendekatan akhirnya larangan itu dicabut dan Uber boleh beroperasi sampai sekarang yang sudah mengeluarkan berbagai fitur, dan sudah berekspansi di lebih dari 250 kota di berbagai negara.

Travis Kalanick, pendiri dan CEO yang malah didepak Uber, perusahaan yang dibangunnya dari nol pertengahan Juni ini.

Ada aja kontroversinya

Meski mendapat izin dari pemerintah San Fransisco, namun ekspansi Uber tidak selamanya disambut hangat di kota-kota yang dikunjungi. Beberapa di antaranya di Paris yang sempat mengalami sejumlah kasus yang mempengaruhi bisnisnya di berbagai belahan dunia lain. Juga beberapa masalah pengemudi di mana salah satunya Indonesia yang sering dapat keluhan dari masyarakat maupun pengemudi taksi konvensional setempat.

Dalam kasus internal pun Uber nggak jarang mendapat tuduhan dari berbagai sumber, di mana tuduhan ini lebih spesifik kepada pengemudi. Ada tuduhan mengenai pelecehan, penculikan terhadap pengendara wanita, dan beberapa keluhan lainnya yang kerap kali terjadi, khususnya di Indonesia.

Dengan perginya sang CEO dan juga pendiri Travis Kalanick, kira-kira Uber bakal tetap eksis dan berkembang atau nggak ya?

Writer: Dian Apriliana

Written by
I'm just a man who likes playing a game, watching movies, tv series, Dragon Ball, Digimon, Attack on Titan, and Kamen Rider.

Is the Story Interesting?

0 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.