Ngobrolin Komik Nusa V Bareng Duo Shani Budi dan Sweta Kartika

Sweta dan Shani asik aja ngobrol sama beberapa Jagawana yang membeli pake Meet & Greet Nusa V yang difasilitasi oleh Re:ON Comics. (photo by Zettira)

Komik Nusa V (Five) akhirnya resmi terbit di Indonesia! Kamu pasti penasaran kan, apa yang membedakan komik baru ini dengan pendahulunya, Nusantaranger? Terus gimana ceritanya Nusa V bisa jadi bagian dari Shogakukan Asia?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, di Popcon Asia 2017 Preview Night, Jakarta Convention Center pada Jum’at (4/8) malam, kami mengulas tuntas bareng duo kreator komik Nusa V, salah satu komik lokal Indonesia paling ditunggu ini, Shani Budi dan Sweta Kartika! Simak deh obrolan kami

Apa sih yang bisa diharapkan pembaca terhadap kehadiran Nusa V ini? Apa bedanya dengan Nusantaranger?

Sweta: Kalau dari Nusantaranger dulu, secara misi kita sama. Kalau misi yang paling basic kami pengen bikin sosok hero buat anak-anak jaman sekarang. Selama ini kan kalau nostalgia lagi, Gundala lagi atau apa lagi. Nah, kita pengen ketika anak kecil ditanya superhero Indonesia apa? Nusa V.

Itu satu, yang kedua, kita ingin jadikan ini sebagai wahana untuk belajar sebetulnya. Kayak selama ini kalau kita mau ke luar (berkarya di luar negeri), kita seolah-olah kayak nggak ngangkat (budaya) punya kita sendiri. Nah ini bukan Pandawa Lima, ini bukan wayang, bukan. Ini tentang Indonesia-nya sendiri yang kita bawa di Nusa V. Dan bagaimana kemudian ditranslasikan ke dalam karya, kemasannya itu yang kita olah.

Nah yang membuat Nusa V beda dari Nusantaranger, yang paling kelihatan itu dari konsep hero-nya sih. Kalau dulu kan emang super sentai, which is itu kalau kita go international dengan konsep itu, akan bersinggungan dengan ranah hukum. Meskipun kami sendiri nggak yakin seberapa besar potensinya itu. Cuma kita berhati-hatilah. Makanya kita membuang konsep super sentai ini, which is punya Toei ya. Karena toh, kalau mau ngangkat Indonesia, kenapa nggak sekalian yang pure Indonesia gitu. Paling itu yang bedanya paling keliatan.

Kalau dari segi cerita dan penceritaan sendiri bakal kayak gimana? Kalau dulu di Nusantaranger kan satu buku untuk satu karakter. Kalau untuk ini apakah sama?

Sweta: Sebenarnya format tentu saja beda ya. Kalau dulu kan waktu dapat brief dari Shani gini, “Kita nyobain dulu setahun”. Saya pikir-pikir, karena berlima, kenapa nggak jadi lima buku aja sekalian, masing-masing nyeritain satu karakternya. Tapi tetep aja kita nggak linier kan, di awal di-twist ternyata itu yang kelima. Kayak gitulah permainannya.

Yang sekarang… nah ini sebenarnya hal yang paling berat buat saya ketika menulis ulang Nusa V. Karena saya harus lepas dari bayang-bayang Nusantaranger, lepas dari bayang-bayang Jagawana yang udah pernah baca Nusantaranger. Saya harus menganggap semuanya nggak tahu apa-apa. Nah, itu yang paling sulit, karena bagaimanapun saya udah pernah menceritakan itu.

Nanti bisa dilihat sendiri kalau udah baca Nusa V, kayak Nusantaranger juga, pembaca nggak bisa mengambil kesimpulan terlalu cepat. Pokoknya harus baca dulu (satu-satu). Tapi kalau tahu-tahu udah menyimpulkan ya monggo.

Shani: Samalah kayak Nusantaranger, kan (baca) satu chapter kan kadang-kadang komen “Oh ternyata gini toh” tapi pas baca chapter berikutnya, “Oh kok ternyata gitu”.

Sweta: Karena gaya bercerita saya begitu. Jadi pas Nusa V juga pasti kemungkinan besar akan seperti itu. Nanti akan dibuka semuanya. Itu (chapter 1 Nusa V) bener-bener cuma pintu yang sangat kecil.

Shani: Kan Jagawana sering berspekulasi sendiri ya, hahaha… Saya yakin, di Nusa V ini, itu abis baca chapter 1, pasti mereka akan berspekulasi. Pasti.

Ada yang udah punya Re:ON Comics Vol. 28 belum? Di komik edisi nih nih ada Nusa V guys! Diajakin Sweta buru-buru beli keburu habis! (photo by Satria Perdana)

Sweta kan bilang perbedaan yang paling bisa dilihat itu dari segi konsep kostum. Apakah inspirasinya masih sama dengan Nusantaranger?

Sweta: Kalau secara umum sama, karena dulu juga mengambilnya kan dari pulau besar ya. Tidak ada yang berubah, justru kita lebih mudah sekarang mentranslasikannya ke dalam kostum. Kalau dulu kan otomatis terkotakkan dalam konsep kostum sentai kan. Sekarang udah bebas.

Shani: Sweta jadi bisa berekspresi dengan gayanya Sweta sendiri.

Sweta: Sepuas-puasnya, hahaha…

Boleh dijelasin ulang nggak soal konsep kostum kelima ksatria kita ini? Karena kan mungkin ada yang baru ngikutin dan banyak fans penasaran kan…

Sweta: Kalau yang si Ksatria Nusantara Elang, ini nih yang paling kontroversial ya saat ini. Ini waktu muncul pertama banyak yang ribut kan, “Wah ini mirip Bima Satria Garuda”. Mungkin karena warna hitam sama merahnya itu.

Shani: Padahal juga bukan hitam kan itu, itu tuh biru. Biru tua.

Sweta: Mungkin yang membuat mereka dianggap sama karena ada selempangnya. Padahal itu kita dari pakaian Wirapraja. Sama persis, waktu di Nusantaranger juga NusaRed udah ada selempangnya. Dan semua elemen yang di kepalanya juga itu dari pakaian Jawa. Senjatanya juga pakai tombak, yang jadi senjata Wirapraja.

Itu yang dari Jawa. Kemudian yang dari Sumatra, elemen-elemen visualnya sih kayak ada bentuk spiral-spiral tapi geometris, terus kayak kalung daerah Sumatra, Nias. Tadinya kan itu kalung biasa, nah gimana ya kita translasikan. Sama yang Papua juga, aslinya pakai kayak kalung besar terus pakai dasi, ditranslasi jadi pakai armor.  Semua sama, nggak ada yang berubah.

Di H2O Reborn, Sweta pernah bilang kelegaannya nggak perlu gambar berbau mesin lagi, karena lebih prefer gambar hal-hal natural. Apa pengaruhnya ke Nusa V?

Sweta: Yah, masing-masing artist kan beda-beda ya. Ada yang seneng banget gambar mecha. Kalau saya sebenarnya suka men-challenge diri saya sendiri. Waktu H2O juga, ya itu tantangan buat saya. Saya tertantang untuk buat mesin, ya ternyata enak-enak aja. Tapi kemudian balik lagi ke apa yang membuat saya happy sih, saya menggambar alam. Karena nggak ada struktur, saya nggak perlu penggaris, gitu-gitu.

Nah, di Nusa V ini saya bakal jor-joran banget. Nanti akan keliatan banget, “Oh ini alam”. Pas awal mungkin belum kelihatan, tapi nanti bakal kerasa banget. Saya menggabungkan tiga unsur (di Nusa V), artefak budaya, alam, dan teknologi, itu digabung jadi satu. Bahkan nyambung ke klenik, bakal ada kleniknya juga. Jadi tekno, alam, sama artefak. Jadi bayanginlah itu di-mix jadi satu.

Shani Budi ini kalau udah cerita soal Nusa V panjang banget deh. Seru diajak ngobrol! (photo by Satria Perdana)

Bisa ceritain gimana akhirnya sampai kontak dengan Shogakukan Asia?

Shani: Jadi waktu Nusantaranger rilis chapter 2 kalau gak salah. Itu kan lumayan viral ya. Terus pokoknya ceritanya sampai juga ke Thailand apa. Terus ternyata ada orang Shogakukan Asia yang ngeliat. Dia pengen bikin satu proyek kolaborasi. Kebetulan ketemunya sama kami. Jadi Shogakukan itu senang dengan konsep kami ngangkat budaya Indonesia, dengan genre yang action superhero gitu, akhirnya kami diajak kerja sama. Tapi dengan batasan itu tadi, kita menghilangkan unsur sentai. Jadi konsep lima pahlawan warna-warni dengan kostum seragam itu harus dihilangkan dan harus di-reboot.

Nah setelah kita setuju, kita ambil jalan tengah. Makanya kenapa karakter utama tetap sama, karena jujur, saya udah jatuh cinta banget sama lima karakter ini. Akhirnya mereka setuju, tapi ya itu di-reboot.

Berarti background kelima karakter itu tetap sama atau ada perubahan?

Shani: Ada yang berubah, background berubah, umur karakter juga ada yang berubah.

Kalau yang mendasar banget kayak sifat-sifat karakter utamanya?

Shani: Oh nggak-nggak, kalau itu tetap sama.  Tetap Rangga yang kalian kenal, tetap Naya yang kalian kenal, tetap Rena yang tsundere, hahaha…

Waktu pertama kali diperlihatkan di Frankfurt Book Fair kan kesannya Nusa V bakal diterbitkan langsung sebagai sebuah komik utuh, kompendium. Nah kok pas akhirnya rilis resmi, tiba-tiba gabung sama Re:ON dan terbit per chapter?

Shani: Karena gini, waktu itu Shogakukan sebenernya pengen langsung nerbitin di sini. Tapi ada regulasi kalau penerbit luar tuh nggak bisa langsung (nerbitin buku). Jadi kita harus cari, istilahnya cari tempatlah, untuk menerbitkan komik ini. Dan kami nggak pengen online lagi. Jadi biar lebih meraih banyak orang juga, terpilihlah si Re:ON ini.

Mereka dipilih karena Shogakukan dan kami melihat Re:ON udah banyak dikenal orang, terus dari Shogakukan sendiri bilang kalau mereka sangat terkesan dengan cara Re:ON meng-handle IP (intellectual property)-nya, memasarkan judul-judul yang ada di dalamnya. Makanya kemaren kalau lihat ada paket meet n greet Naya (Ksatria Kuning), itu ide dari Re:ON. Mereka pengen ada cosplay salah satu Ksatria Nusantara.

Terakhir, ada pesan-pesan nggak buat Jagawana yang bakal baca Nusa V?

Shani: Terima kasih banget udah sabar banget nunggu Nusa V. Terima kasih banget buat Jagawana yang, waktu kami umumin bahwa ini nggak akan (terbit) online lagi, terus beberapa Jagawana ada komen “Iya nggak apa-apa, kami pengen Nusa V lebih dikenal lagi sama orang banyak. Mungkin ini salah satu caranya.”

Jadi gua pribadi sangat berterima kasih sama Jagawana karena itu tadi, sabar menunggu. Masih tetap gua anggap keluarga sendiri karena udah mendukung gua dan tim Nusa V sampai ke titik ini, sampai akhirnya bisa rilis. Semoga setelah dibaca tidak mengecewakan dan seneng kan kalian nggak ada F5 lagi jam 12 malem, hahaha… Bisa langsung baca tanpa harus begadang lagi, hahaha…

Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

3 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.