Stan Lee: Sosok di Balik Kesuksesan Revolusi Marvel

“Dulu saya sering merasa malu karena saya hanyalah seorang penulis komik, sementara orang lain ada yang membangun jembatan atau bekerja di dunia medis. Tapi kemudian saya sadar: entertainment adalah salah satu hal penting dalam hidup seseorang. Tanpa hiburan, orang-orang akan stres. Saya rasa jika kamu bisa menghibur seseorang, maka kamu udah melakukan hal yang benar.” – Stan Lee, Washington Post.

Senin, 12 November 2018, dunia hiburan dikejutkan dengan kabar meninggalnya Stan Lee, sang legenda Marvel Comics. Dilansir dari TMZ, kabar tersebut disampaikan sendiri oleh putrinya, J.C. Menurut pernyataan dari sang putri, Stan Lee sempat dilarikan ke Rumah Sakit Cedars-Sinai Medical Center pada Senin pagi waktu setempat. Di rumah sakit tersebutlah kemudian Stan Lee menghembuskan nafas terakhirnya.

Ketika kita membicarakan Stan Lee, tentu nggak bisa lepas dari Marvel Comics. Bersama beberapa rekan kerjanya seperti Jack Kirby, Steve Ditko, dan John Romita, ia menciptakan berbagai karakter dan jagat Marvel yang kita kenal saat ini. Hampir nggak mungkin menemukan sesuatu dalam jagat Marvel yang nggak tersentuh tangan Stan Lee.

“Stan Lee sungguh luar biasa layaknya karakter yang ia ciptakan. Seorang pahlawan super bagi fans Marvel di seluruh dunia, Stan memiliki kekuatan untuk menginspirasi, menghibur, dan menyambungkan kita satu sama lain. Besarnya imajinasi seorang Stan Lee hanya dilampaui oleh kebesaran hatinya,” ungkap CEO The Walt Disney Company dalam pernyataan resminya terkait kematian Stan Lee.

Berawal Sebagai ‘Pembantu Umum’

Pria bernama asli Stanley Martin Lieber ini memulai karirnya di dunia komik ketika ia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai asisten di Timely Comics (kini Marvel Comics) pada tahun 1939. By the way, “asisten” yang dimaksud di sini kurang lebih sama artinya dengan “pembantu umum”. Beberapa tugas yang ia kerjakan saat itu antara lain: memastikan botol tinta terisi penuh, beliin makan siang bagi para komikus, proofreading, hingga menghapus garis pensil di halaman yang sudah selesai.

Setelah dua tahun berkarir sebagai asisten, Lee akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menulis kisah perdananya, “Captain America Foils the Traitor’s Revenge” yang dimuat dalam Captain America Comics #3 (Mei 1941). Kisah tersebut hanya terdiri dari dua halaman dan merupakan sebuah komik sempalan untuk memenuhi kuota halaman. Momen ini juga menjadi kali pertama ia menggunakan nama “Stan Lee” sebagai nama pena.

Penggunaan nama “Stan Lee” sebagai nama pena seorang Stanley Lieber ternyata ada sejarahnya sendiri, Joyfriends. Kala itu, buku komik bukanlah jenis literatur yang terpandang. Stanley Lieber muda merasa malu jika namanya terasosasikan dengan dunia komik. Apalagi cita-citanya saat itu adalah menjadi penulis novel yang ternama. Itulah alasan ia kemudian menggunakan nama “Stan Lee”.

Back to topic. Di tahun 1941 inilah Lee baru benar-benar berkarya di dunia komik. Ia menulis kisah berjudul “Headline’ Hunter, Foreign Correspondent”, masih dalam Captain America Comics. Lalu menciptakan karakter superhero Destroyer (Mystic Comics #6), Jack Frost (U.S.A Comics #1), dan Father Time (Captain America Comics #6).

Di akhir 1941, duo komikus/editor Jack Kirby dan Joe Simon yang menjadi andalan Timely Comics memutuskan untuk meninggalkan perusahaan tersebut. Untuk mengisi kekosongan tersebut, Martin Goodman selaku pemilik Timely Comics memutuskan mengangkat Stan Lee – kala itu berusia 19 tahun – sebagai interim editor. Berkat kinerjanya yang apik, Lee pun kemudian dipercaya sebagai kepala editor hingga tahun 1972! Selama masa tersebut, Timely Comics udah berubah nama dua kali, pertama menjadi Atlas Comics dan kemudian menjadi Marvel Comics.

Revolusi Marvel

Era 1940an menjadi zaman keemasan bagi dunia komik Amerika. Kala itu, penjualan komik meroket di mana-mana. Karakter-karakter baru terus bermunculan dari berbagai penerbit.

Sayangnya, di tahun 1954 semua itu sirna gara-gara para politisi Amerika Serikat merasa komik mempromosikan tindakan-tindakan amoral dan memicu kenalakan remaja. Salah satu yang disorot kala itu adalah Batman Stories milik DC Comics. Sosok Batman dan Robin disebut “homoseksual secara psikologis”. Solusinya? Semua komik harus disensor! (Sounds familiar, eh?)

Industri komik Amerika kemudian memilih untuk membuat otoritas sendiri ketimbang dibuatkan Undang-Undang khusus oleh DPR. Otoritas ini diberi nama Comics Code Authority dan bertugas untuk memastikan komik-komik yang terbit nggak memuat konten-konten kontroversial seperti adegan sadis dan tindakan amoral lainnya. Alhasil, komik-komik yang terbit pasca berdirinya CCA ini jadi lebih “jinak” dan seragam, terutama di genre superhero. Dirasa membosankan oleh para pembaca, penjualan komik di paruh kedua era 50an pun memburuk.

Ternyata, bukan cuma para pembaca yang bosan dengan komik yang gitu-gitu aja, seorang Stan Lee pun bosan menulis komik-komik generik yang berkutat di genre western, humor, dan drama romantis. Pada awal era 60an, merasa karirnya stagnan dan berkat dukungan dari istrinya, Joan, Lee memutuskan untuk membuat satu komik terakhir yang sesuai dengan kata hatinya. Niat ini juga disambut baik oleh Martin Goodman yang ingin menyaingi DC Comics. Pada saat itu, DC berhasil membangkitkan gairah publik terhadap komik superhero berkat kesuksesan mereka membangkitkan sosok The Flash (Barry Allen), Green Lantern (Hal Jordan), dan menciptakan Justice League of America.

Di tahun 1961, Stan Lee dan Jack Kirby akhirnya melahirkan Fantastic Four. Kisah Reed Richards, Susan Storm, Johnny Storm, dan Ben Grimm menjadi kisah superhero pertama yang diproduksi atas nama Marvel Comics.

Fantastic Four berbeda dengan kisah-kisah superhero mainstream yang ada pada zaman itu. Jika biasanya superhero digambarkan sebagai sosok yang sempurna, maka Fantastic Four jauh dari kata tersebut. Stan Lee dan Jack Kirby mengisahkan Fantastic Four sebagai sekumpulan manusia biasa yang kebetulan memiliki kekuatan super. Mereka juga punya masalah hidup sehari-hari yang harus dihadapi, mereka bisa bertengkar satu sama lain, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, kedua komikus handal ini membuat karakter superhero yang manusiawi.

Pendekatan yang manusiawi ini ternyata sukses memikat para pembaca, Joyfriends. Komik Fantastic Four pun sukses besar. Kesuksesan tersebut membuat Marvel makin yakin untuk kembali menapaki jalur supehero dengan template kisah dan karakterisasi yang dibuat oleh Stan Lee. Hulk, Thor, Iron Man, X-Men, Doctor Strange, dan Spider-Man, semuanya kurang lebih menggunakan template yang sama. Spider-Man bahkan dengan cepat menjadi karakter Marvel yang paling sukses sepanjang sejarah.

Nggak jarang Lee juga menggunakan komik-komiknya sebagai sarana melayangkan kritik sosial atas permasalahan yang ada di dunia nyata. X-Men misalnya, jelas-jelas merupakan refleksi dari masalah intoleransi dan diskriminasi yang dihadapi oleh kelompok marginal yang ada di Amerika Serikat.

Di tahun 1971, Kementerian Kesehatan Amerika Serikat meminta Lee untuk menulis kisah yang berfokus pada bahaya narkoba. Ia pun memenuhi permintaan ini dengan menjadikannya sublot dalam The Amazing Spider-Man #93-98. Banyaknya penggambaran penggunaan narkoba di ketiga komik ini membuat CCA nggak mengeluarkan izin terbit. Namun, berkat kepedean Martin Goodman, kisah Lee ini akhirnya tetap terbit meski tanpa ada logo CCA.

Sebuah keputusan yang tepat, karena komik tersebut mendapatkan sambutan positif dan Marvel dipuji karena dianggap peka terhadap isu-isu sosial. Berkat kejadian ini, CCA pun memutuskan untuk mengizinkan penggambaran negatif penggunaan narkoba dan melonggarkan aturan-aturan lainnya.

Nggak salah kalau dibilang Stan Lee dan rekan-rekannya di Marvel Comics membuat sebuah revolusi di jagat komik Amerika Serikat.

“Marvel menjadi pionir dalam hal metode penulisan dan karakterisasi komik, mengangkat kisah-kisah yang lebih serius yang sukses memikat pembaca dari kalangan remaja dan dewasa,” tulis sejarawan komik Peter Sanderson di tahun 2003.

Keturunan Imigran

Bernama asli Stanley Martin Lieber, penulis komik handal ini lahir pada tanggal 28 Desember 1922 di Manhattan, Amerika Serikat. Ia merupakan anak pertama dari pasangan imigran yang berasal dari Rumania, Jack Lieber dan Celia Solomon Lieber.

Di masa mudanya, Lee ternyata emang udah gemar menulis dan membaca, Joyfriends. Di umur 10 tahun, ia udah mulai membaca karya-karya Shakespeare dan berbagai novel karya penulis terkenal lainnya seperti Sir Arthur Conan Doyle dan Mark Twain. Lee juga melatih kemampuan menulisnya dengan bekerja paruh waktu sebagai penulis obituari di media cetak dan menulis press release untuk National Tuberculosis Center. Dirinya bermimpi suatu saat nanti ia akan menjadi seorang penulis novel yang terkenal.

Seperti yang kita tahu, mimpi tersebut sedikit banyak menjadi sebuah kenyataan. Seorang Stan Lee berhasil memikat jutaan orang dari seluruh dunia, dari berbagai generasi, dengan karya-karyanya yang apik dan epik.

Stan Lee mungkin telah pergi, tapi jejaknya tidak akan pernah hilang. Berkat Stan Lee dan rekan-rekannya di Marvel, kita bisa mengenal konsep superhero yang manusiawi, yang memiliki kekurangan dan berbagai permasalahan hidup lainnya, tapi nggak menghalangi mereka untuk menolong orang-orang di sekitarnya. Sebuah konsep yang terbukti mengubah peta komik Amerika Serikat dan mungkin mengubah nasib para pembacanya di luar sana untuk selamanya.

Requiescat in pace, Stan.

Excelsior.

Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>