Apa Itu Net Neutrality, yang Bikin Gaduh Netizen US Belakangan Ini?

Kalau Net Neutrality nggak ada, bisa-bisa kita nggak bisa mengakses situs atau wadah internet yang kita butuhkan sebebas dulu dan saat ini.

Beberapa hari terakhir ini, netizen di Amerika Serikat digaduhkan dengan kasus net neutrality. Kenapa? Karena sebuah badan independen bernama Federal Communication Commission (FCC) telah merilis draft akhir dari proposal penghentian aturan dari netralitas internet tersebut.

Hal ini mendapat kecaman keras dari berbagai kalangan publik, karena aturan ini dinilai nggak adil dan berpotensi dapat menguntungkan beberapa kalangan aja. Seperti penuturan dari YouTuber kondang Philip DeFranco berikut ini:

Tapi sebelum kita gaduh gara-gara hal ini, kita kudu tahu dulu: Sebenernya apa itu net neutrality?

Nggak ada Net Neutrality bikin ‘kantong jebol’!

Net neutrality sendiri merupakan istilah yang dibuat oleh seorang profesor dari Universitas Columbia bernama Tim Wu pada 2003 silam. Pada dasarnya konsep ini adalah situasi ideal di mana para internet service provider (ISP) membebaskan data internet diakses oleh siapa aja, dengan biaya yang sama, nggak dibatasi oleh konten, laman yang ingin diakses, aplikasi, dan lain-lain.

Dalam konsep yang ideal ini, nggak ada itu ceritanya ISP memblokir konten-konten yang dianggap “tidak sesuai” atau meminta pelanggan membayar biaya tambahan untuk mengakses situs tertentu atau untuk menambah kecepatan internetnya. Dengan net neutrality, ISP benar-benar hanya berperan sebagai penyedia jasa internet, nggak lebih dan nggak kurang.

Kondisi yang bisa muncul tanpa adanya net neutrality ini antara lain adalah ISP dapat membuat paket internet seenaknya, dan mungkin terbilang konyol. Bayangin kalau kamu harus beli tiga paket internet setiap bulannya; satu untuk browsing, satu untuk buka media sosial, dan satu untuk buka YouTube. Konyol kan?

Kasus seperti ini pernah terjadi di Amerika Serikat pada 2012 lalu, ketika salah satu ISP terbesar di sana, AT&T membatasi akses ke Facetime. Cuma pelanggan yang telah membeli paket data terbaru dari AT&T (yang juga lebih mahal dari paket biasa) yang bisa mengakses laman tersebut. Kasus konyol lainnya, ada sebuah ISP bernama The Madison River Company pernah membatasi kecepatan akses pelanggannya saat akan membuka laman milik Vonage, perusahaan saingan The Madison.

Adakah kasusnya di Indonesia?

Indonesia ternyata sama konyolnya guys! Tentu pada tahu dong kalau Vimeo sampai saat ini masih diblokir oleh pemerintah dan ISP di sini akibat dituduh mengandung konten pornografi. Padahal, kalau mau dicari mah, semua media sosial pasti ada konten pornografinya. Kalau tahu begitu, kenapa nggak semua media sosialnya aja diblokir sekalian?

Ada juga kasus di mana Telkom memblokir Netflix hampir setahun lebih sebelum akhirnya dibuka pada pertengahan tahun ini. Seperti dikutip Kompas.com, alasannya lagi-lagi “konten tidak sesuai” plus “harusnya ajak provider lokal”. Bener-bener alasan yang konyol, karena sekali lagi, adalah hak semua orang untuk mengakses laman yang mereka mau. Tapi tentu juga peran orang tua dalam membatasi anak di bawah umur juga berpengaruh, bukan penyedia jasanya yang diomelin.

Apa pertimbangan publik Amerika menentang ketiadaan Net Neutrality?

Ketiadaan net neutrality juga memungkinkan ISP dan pemerintah untuk memblokir laman-laman yang nggak disukai oleh mereka (secara subjektif). Ada dua pertimbangan yang membuat publik Amerika menentang keras penghapusan net neutrality.

Dari segi bisnis, publik khawatir situasi tersebut nggak akan menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha startup, karena bisa aja laman mereka di internet dibatasi aksesnya oleh ISP. Dari sisi sosial, dikhawatirkan pemerintah akan membatasi gerak kelompok masyarakat yang termarjinalkan, seperti pemeluk agama minoritas, kelompok LGBT, atau kelompok ras minoritas. Padahal, bisa dibilang internet adalah safe space untuk kelompok masyarakat tersebut.

Kalau benar-benar kejadian dan draft dari FCC disahkan, bukan nggak mungkin kita nggak bisa lagi mengekspresikan diri dan mencoba untuk berusaha berkontribusi untuk melakukan beragam hal baik di dunia maya. Karena bisa dibilang internet adalah wadah yang tepat untuk mengampanyekan sesuatu, apapun itu. Tapi ya jelas tidak buat kejahatan dan kekerasan, apalagi terorisme! Ya nggak?

Written by
An electronic music enthusiast. An avid pro-wrestling observer. An amateur photographer. You can check his photo journal on his Instagram.

Is the Story Interesting?

2 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.