DreadOut the Movie – Review: Tak Seseram Versi Game-nya

User Rating: 7.5

Nama DreadOut mungkin sudah lagi tak asing di telinga kalian, terlebih kalau kamu pecinta gim. Yes, gim horror asal Indonesia ini begitu mendunia, hingga YouTuber kawakan seperti Pewdiepie pernah membuat video di akunnya sedang memainkan gim ini.

Kali ini, DreadOut hadir dalam medium seni lain: layar lebar; setelah sebelumnya juga mengumumkan sebuah sekuel dari gim ini, DreadOut 2. Ini kali pertama lho gim asli Indonesia diadaptasi ke dalam versi layar lebarnya.

Sebagai sebuah film adaptasi dari gim ternama yang tentunya merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk sang sineas kenamaan, Kimo Stamboel (Rumah Dara, Headshot, Killers), yang dulu sudah dikenal dengan duetnya bersama Timo Tjahjanto alias Mo Brothers.

Terlebih nama besar DreadOut sudah sangat melekat dikalangan pecinta gim di dunia internasional. Lantas, akan seperti apa sih kira-kira adaptasi DreadOut dalam dunia layar lebar? Apakah seperti Resident Evil yang diangkat ke layar lebar?

Saya sendiri mengulasnya dari sudut pandang yang pernah memainkan gim-nya (meski hanya versi trial-nya saja) dan lebih fokus pada plot yang disajikan dalam film ini sendiri. Dapatkah sang sineas mempertahankan reputasi DreadOut dan ia sendiri setelah tak bekerja bersama partnernya di Mo Brothers?

Prekuel dari Game-nya

DreadOut the Movie bercerita mengenai sekelompok anak SMA bernama Jessica (Marsha Aruan), Beni (Muhammad Riza Irsyadillah), Dian (Suzana Sameh), Alex (Cicio Manassero) dan Erik (Jefri Nichol) yang ingin eksis dengan cara membuat konten video live di media sosial dan pergi ke apartemen angker yang sudah lama tak berpenghuni namun terhalang oleh penjaga dan kemudian meminta bantuan kepada Linda (Caitlin Halderman).

Dilansir dari Kimo Stamboel saat konferensi pers di CGV Grand Indonesia (2/1), DreadOut The Movie ini adalah sebuah prekuel dari gim DreadOut yang sudah rilis. Ia ingin menciptakan semacam DreadOut Universe. Karakter-karakternya pun rata-rata pengembangan dari adaptasi, sehingga rata-rata tidak ada di gim aslinya kecuali Linda dan Ira (Cathy Fakandi).

Meski begitu, sang sineas tetap melekatkan elemen-elemen yang ada dalam gim DreadOut seperti penggunaan bahasa dan budaya Sunda di berbagai kesempatan hingga yang paling identik dengan gim-nya, melawan sang hantu dengan flash kamera HP.

Sejak awal film dimulai, mood-mu sudah langsung dibawa berselancar dengan ketegangan yang begitu intens. Tone filmnya begitu dark, terutama karena efek vignette yang pekat, membuat film ini terasa mencekam. Tetapi efek vignette yang berlebih juga yang membuat karakter yang tengah berada di sebelah kanan atau kiri tak begitu kelihatan, entah sengaja atau tidak. Di awal perkenalan karakter Linda pun ada beberapa shade lighting yang terasa kurang merata sehingga sedikit membuat gelap sang tokoh utama sendiri.

Tak Seseram di Game

Sebagai yang pernah memainkan gim-nya, DreadOut the Movie membawa ketegangan yang kurang lebih sama ketika memainkan gim-nya, begitu otentik, tak tertebak. Sayang, tak seseram di gim aslinya.

Tone yang disajikan sudah begitu mencekam, namun kurang terasa mencekam dalam treatment-nya. Alias tone-nya saja yang mencekam, tetapi filmnya sendiri tidak memberi kesan mencekam secara menyeluruh. Film ini pun termasuk minim jumpscare, namun ada beberapa adegan yang terbilang sadis.

Dari segi cerita, reasoning-nya cukup jelas, resolusi konfliknya pun terbilang jelas, CGI yang cukup mantap, termasuk ada beberapa plot twist yang cukup mencengangkan. Plus sedikit bocoran, jangan sampai lewatkan credit scene-nya! Hal yang saya suka lainnya dari film ini adalah humor di tengah ketegangan yang ada. Penempatannya pun terasa pas; Cukup menjadi pencair suasana.

Pemilihan aktor-aktornya pun terbilang pas, banyak menggunakan aktor-aktor baru yang cukup menambah variasi peran di perfilman Indonesia. Tata rias di film ini pun termasuk sangat bagus, sangat menjelaskan masing-masing karakter dan fungsi tokoh pada film ini. Satu lagi unsur yang harus diacungi jempol: soundtrack dalam film ini!

Overall, terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, sebagai film adaptasi dari gim pertama di Indonesia ini menghadirkan cukup banyak kejutan, terbilang menawarkan resolusi konflik yang berbeda dari film horror kebanyakan.

Film horror dengan unsur kebudayaan Sunda yang kental, melawan hantu yang berbeda dengan flash kamera HP, cukup mencekam namun minim jumpscare, humor segar di tempat yang pas, cocok untuk kamu yang memainkan gim-nya maupun yang tidak. Cocok pula dengan yang ingin horror dengan sentuhan yang ‘berbeda.’

Gimana, makin penasaran kan dengan adaptasi gim perdana di Indonesia besutan GoodHouse Production yang bekerja sama dengan CJ Entertainment, Sky Media, Nimpuna Sinema dan Lyto ini? DreadOut the Movie dapat kamu saksikan di sinema favoritmu mulai 3 Januari 2019, JoyFriends!

Summary
Sebagai sebuah adaptasi gim, film ini termasuk cukup berhasil dengan mengadaptasi banyak dari gim aslinya, berbagai penambahannya pun terasa cukup untuk membawa cerita.
Good
  • Berhasil mengadaptasi unsur gim dengan tepat
  • Nuansa horor yang berbeda dengan film horor pada umumnya
  • Penempatan humor yang pas
  • Tata rias yang apik
Bad
  • Efek vignette yang berlebihan
  • Tidak seseram gim-nya
  • Nuansa mencekam yang "palsu"
7.5
Good
Seorang mahasiswa yang hobinya kuliah sekaligus figuran di band @nextgentheband & @valdivieso_band | Gemar memotret di akun @ishoothem dan menulis gan

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.