Samsung Galaxy M30s — Review: Sahabat Dalam Segala Kondisi

(Doc. Alma Hanifa)

Pertama kali saya melihat spesifikasi handphone mid-range tahun 2019 ini, bisa dibilang saya terkesima. Gimana nggak, enam tahun lalu ketika saya mau beli handphone mid-range, saya pusing milihnya. Spesifikasinya serba nanggung dan seadanya. Gap antara entry level, mid-ranger, dan flagship itu kayak kerasa jauh banget.

Dulu di harga yang sama, di handphone Sony Xperia L, saya hanya mendapatkan prosesor dual core dengan chipset Snapdragon 400, yang di mana seri 400 sekarang sudah marak digunakan seri entry level. Pun, dulu hanya mendapat RAM sebesar 1 GB di mana sekarang sudah bisa mendapatkan RAM 4 GB ke atas, serta memory internal 64GB, dibanding dulu yang hanya 8GB.

Sekarang, mari coba kita refleksi ke produk mid-range baru dari Samsung ini, yaitu Samsung Galaxy M30s, pake s yah, karena ini adalah seri update dari pendahulunya yang rilis beberapa bulan silam: Samsung Galaxy M30. Kira-kira apa aja sih yang di upgrade dari pendahulunya M30? Kemudian, kenapa sih M30s harganya hampir sama dengan A30s? Apa bedanya M30s dengan A30s ataupun dengan A50 maupun A50s? Kenapa harganya lebih murah?

Sebelum memulai ulasannya, penulis ingin memuji Samsung terlebih dahulu yang semakin ke sini lini telepon pintarnya semakin rapih. Ada seri A dan M untuk seri entry level ke mid-range, dan ada seri S dan Note untuk seri flagship-nya. Angkanya pun lebih mudah diingat. Kalau angkanya kecil seperti A10 atau M10 berarti dia termasuk entry level, dan A80 berarti yang paling tinggi. Kemudian ada huruf tambahan ‘s’ kecil untuk versi upgrade-nya, seperti M30s ini, A50s.

Berikut JoyPixel sajikan ulasan mendalam tentang telepon genggam pintar baru dari raja smartphone asal Korea Selatan, Samsung. JoyPixel mau ngingetin nih, kalau ulasan ini bersifat subjektif penulis saja, berdasarkan pengalaman saya memakainya lebih dari sebulan.

UNBOXING

(Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Kesan unboxing smartphone ini ya, seperti handphone mid-range pada umumnya. Nggak terlalu mewah, tapi nggak terlalu murah. Kesannya pun mirip-mirip dengan Samsung Galaxy seri A atau M lainnya. Dari luar, desain dus-nya mirip dengan seri A, hanya kalau di seri A ada bagian depan dan bagian belakangan handphone, kalau di seri M ini hanya yang menghadap depan aja dengan warna kuning yang gonjreng di layar. Wallpaper kuning ini kemudian akan jadi wallpaper default yang tersedia dari handphone ini.

Di dalam paket penjualannya tersedia satu unit Galaxy M30s, satu buah charger USB Type-C, earphone, SIM ejector, serta beberapa buku panduan. Sayangnya belum terdapat softcase bawaan seperti kakaknya, atau bahkan adiknya A30s. Terus, warna charger putih  polosnya keliatan kurang, nggak semewah charger putih Samsung biasanya, atau bahkan nggak semewah warna hitam di Galaxy A50. Yah, mungkin ini harga yang harus dipangkas dari harga yang lebih murah dari kakak-kakaknya. Tapi yah, ini nggak nyampe mengganggu sih, meski kalau ada juga jadi nilai lebih, JoyFriends.

DESAIN SEMI-FUTURISTIK DAN SEDIKIT MIRIP-MIRIP

Bagian depan Samsung Galaxy M30s (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Saat saya liat desainnya M30s ini termasuk cakep bener. Meski desain bagian depannya terkesan gitu-gitu aja, mengingat hampir semua produsen smartphone sekarang desainnya hampir seragam. Hampir semuanya memakai notch satu kamera di bagian depan atas dan layar penuh yang nutupin body handphone a la sang pelopor, Essential Phone. Samsung menyebutnya dengan Infinity U Display, karena bentuk notch-nya yang seperti huruf ‘U’.

Bagian belakang Samsung Galaxy M30s dengan bump kamera serta finger print. (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Bagian bump kamera yang terdiri dari tiga kamera mirip dengan bump kamera Pixel 4 dan 4 XL, iPhone 11 Pro maupun iPhone 11 Pro Max, hingga desain-desain Samsung ke depan: Galaxy A51, Galaxy A71, Galaxy S10 Lite, Galaxy Note10 Lite. Kesannya jadi agak lebih futuristik aja, dibanding kamera yang hanya vertikal gitu, JoyFriends. Karena kayaknya bump kamera square model gini akan jadi trend bahasa desain handphone di tahun 2020.

Hal yang membuat sedikit mengganjal dari desain di Galaxy M30s ini adalah letak fingerprint di belakang. Bentuk oval-nya agak aneh, sedikit mengganggu estetika-nya. Lengkungannya pun juga membuat handheld ini terlihat kurang premium, meski di genggamnya enak. Berbeda dengan S6, S7, Note5 ke atas yang lengkungan di bagian belakangnya justru nambah estetika. Meski ini seri midrange, tetapi dari produsen lain sudah membuat handphone midrange-nya terlihat lebih premium. Sayang kalau depannya cantik, bagian belakangnya sedikit mengurangi estetikanya.

Samsung Galaxy M30s ini saat dilihat terlihat gendut alias sedikit bulky. Berat handphone-nya pun sedikit kerasa, meski nggak bikin pegel. Wajar aja, karena itu yang harus dikorbankan oleh Samsung yang menanam baterai sebesar 6000 mAh di dalamnya.

Bagian kiri dan atas handphone ini kosong, hanya ada tray untuk dua nomor dan satu memory card eksternal di bagian kiri, dan lubang mikrofon di atas. Bagian kanannya lengkap tombol volume dan power. Tombolnya ini clicky banget, gampang untuk dipencet, meski peletakannya bikin kurang nyaman dibanding Galaxy Note3 dan Note5 yang tombol volumenya ada di sebelah kiri, dan tombol power di sebelah kanan. Jadi rasanya kalo di kanan semua kayak sulit digenggam satu tangan.

Sementara itu di bagian bawah ada headphone jack, konektor charger USB Type-C, mikrofon dan speaker. Konfigurasi seperti ini yang sebenarnya saya suka dari Samsung, seperti flagship-nya yang sudah lalu. Sayang, entah kenapa speakernya ini gampang banget ketutupan oleh jari saat bermain gim ataupun nonton video secara horizontal.

Galaxy M30s tersedia warna hitam, putih, dan biru. Varian yang sedang saya gunakan adalah warna biru yang terdapat gradasi warna, makin keliatan cantiknya. Sayang, nggak ada kayak prism a la Galaxy A50 dan handphone mid-range lainnya yang bikin keliatan makin mewah.

Untuk build quality-nya sendiri termasuk kokoh dan solid meski masih menggunakan bahan plastik polikarbonat yang Samsung bilang sebagai glastic, di bagian belakang dan gelas kaca di bagian depan tanpa proteksi seperti Gorilla Glass. Grip-nya pun nyaman banget digenggam. Bagian belakangnya juga nggak gampang mengoleksi sidik jari meski jari pengguna itu gampang berkeringat. Saya sedikit kurang setuju ketika David GadgetIn bilang kalau M30s ini feelnya kayak mainan. Menurut saya, plastik polikarbonatnya lebih terasa mahalnya bahkan dibanding mantan flagship S3 dan Note3. Meski yah, saya juga agak ngerasa riskan kalau handphone ini jatuh, saya agak ngeri akan mudah pecah. Tapi yah, semuanya bisa diatasi dengan membeli casing tambahan serta tempered glass. Saya sendiri sebenarnya nggak suka pakai casing ataupun tempered glass, lebih seneng sama estetika asli saat handphone ini di desain. Makannya, dulu di Note3 dan Note5, saya tidak berikan casing, tapi kasusnya berbeda untuk M30s ini.

ANTAR MUKA ONE UI YANG MINIMALIS NAMUN MANIS!

(Doc. Alma Hanifa)

Dulu, saya anti banget sama Samsung. Selain karena desainnya yang keliatan gitu-gitu aja dan kelihatan murah dengan plastiknya, saya juga nggak suka banget sama antar muka-nya. Kartun banget. Tapi, semuanya berubah saat Samsung ngeluarin Galaxy S6 dan Samsung Experience yang ngebuat saya malah suka sama Samsung.

Tampilan antar muka One UI ini cakep dan simpel banget. Animasinya nggak keliatan norak, navigasi yang mudah dioperasikan, serta rasanya premium banget. Jauh lebih bagus dibanding antar muka Samsung terdahulu, TouchWiz dan Samsung Experience. 

Versi One UI yang digunakan M30s ini sudah versi 1.5 dengan versi Android Pie alias Android 9, dan belum ada update apakah akan naik hingga One UI 2.0 yang menggunakan OS Android 10, OS paling terbaru dari Google. Selama satu bulan pemakaian saya belum pernah ngerasain lag pada One UI ini, smooth banget. Simpel namun nggak ngebosenin.

Kalau mau ke bagian menu banyak aplikasi tinggal swipe dikit ke atas atau ke bawah. Mau ke bagian setting handphone, tinggal swipe ke bawah dari bagian paling atas handphone. Pun, tampilannya bisa kamu kostumisasi, sesimpel ganti dari mode normal ke dark mode.

Filosofi dari One UI ini juga kerasa banget. Dari seri yang paling murah hingga Galaxy Fold  yang paling mahal bisa ngerasain antar muka yang ciamik ini. Plus, sesuai namanya, mudah dioperasikan hanya dengan satu tangan.

PERFORMA NGEBUT DI KELASNYA!

(Doc. Alma Hanifa)

Dibekali dengan prosesor yang sama dengan kakaknya Galaxy A50s serta Galaxy A51 dan dibanderol dengan harga relatif lebih murah, M30s yang sudah menggunakan chipset Exynos 9611 (10 nm) lebih kencang dari saudaranya yang seharga, yakni A30 dan A30s yang masih menggunakan prosesor Exynos 7904, bahkan dengan kakaknya Galaxy A50 yang masih menggunakan Exynos 9610. Dengan prosesor octa-core, RAM 4GB dan GPU Mali-G72 MP3 besutan Samsung, M30s ini ngasih kamu price to performance yang bagus banget. Nggak akan kamu nemuin ngelag saat ngejalanin multitasking.

Performa gaming-nya terbilang lumayan memuaskan. Saya coba memainkan Dynasty Warriors: Unleashed untuk gim berat dan langsung dapet setting grafik yang high, tidak ditemukan permasalahan yang mengganggu saat bermain. Saya juga mencoba di gim lainnya seperti Real Racing 3, Final Fantasy IV, The Sims Mobile, serta Mario Kart. Grafiknya juga cakep banget untuk ukuran mid-range, manjain mata. Yang paling penting, main gim lama nggak lagi kerasa panas di body-nya, hanya beberapa pernah panas tapi tidak parah.

Manajemen RAM-nya juga baik. Pernah beberapa kali saya sedang main gim dan harus membuka chat kemudian kembali bermain gim tetap terasa smooth.

Sesuai fungsi aslinya telepon genggam, yaitu untuk nelpon, suara yang dikeluarkan dari speaker nya bagus banget. Suaranya jernih. Bahkan, pakai layanan telepon gratis dari WhatsApp dan LINE aja masih berasa jernihnya. Ini komparasi yang nggak adil sih, tapi dibanding sang kakak Galaxy Note 3 dan Galaxy Note5 saya dulu, pengalaman  nelponnya lebih memuaskan di M30s ini. Plus, nggak panas saat nelpon.

Untuk urusan speaker utama di bawah sih ya, terbilang cukup oke, meski nggak bisa dikatakan bagus banget karena nggak didukung dengan speaker buatan AKG seperti seri flagship. Rasanya kurang clarity gitu. Kualitas suaranya lebih bagus dari Galaxy Note3 saya dulu, tapi masih di bawah Galaxy Note5 yang clarity-nya lumayan detail, jadi bisa ngasih separasi yang lebih oke, meski nggak pake earphone ataupun speaker eksternal.

Layar Galaxy M30s ini sudah dibekali dengan teknologi Super AMOLED-nya Samsung yang kayaknya nggak perlu dijelasin lagi deh bagusnya di mana. Pokoknya cakep banget, viewing angle dan reproduksi warnanya juga bagus banget, kontras yang baik, warnanya yang menurut saya nggak selebay Super AMOLED waktu zaman Galaxy S3 dirilis, nyaman banget diliat. Plus panel Super AMOLED terkenal mengonsumsi daya baterai yang kecil serta nggak bikin sakit mata. Enam tahun lalu, boro-boro mau ngasih Super AMOLED ke seri mid-range nya Samsung. Sekarang, banyak brand lain pula yang juga sudah memakai layar Super AMOLED seperti realme XT, realme X2 Pro, vivo V17 Pro. 

Untuk konsumsi media-nya jadi kerasa nyaman banget. Saya coba untuk main gim, nonton film (ya nonton film di HP, dulu aja saya nggak pernah), ngeliat foto, nonton YouTube, baca majalah, baca komik juga enak banget.

Dengan resolusi Full HD+ (1080 x 2340) dan kerapatan piksel sebesar 403 ppi di layar sebesar 6.4 inchi dengan rasio layar ke body ~84.2% ini rasanya kayak kamu pengen terus-terusan natap layarnya yang cantik banget ini. Nggak ada lagi tuh layar gede tapi pikselnya nggak rapet dan nggak bening di mata kayak Galaxy Grand dulu. Belum lagi kalau kamu lagi di bawah sinar matahari nggak usah takut layarnya nggak keliatan, karena kecerahan layarnya sudah mencapai 420 nits.

FITUR-FITUR

(Doc. Alma Hanifa)

Fitur pada Galaxy M30s ini termasuk cukup lengkap. Mulai dari finger print, face unlock, headphone jack, dark mode, hingga fitur reverse charging, yang membuat handphone ini bisa jadi power bank untuk device kamu yang lain. Dilengkapi dengan fitur dual SIM, Galaxy M30s ini juga tetap bisa menggunakan storage tambahan hingga 1TB, JoyFriends. Bahkan, masih dilengkapi dengan aplikasi radio bawaan. Hal lain yang saya suka adalah handphone ini bisa menggunakan satu aplikasi untuk dua akun. Contoh, aplikasi Facebook dan Facebook Messenger kamu bisa diisi oleh dua akun yang berbeda.

Sayangnya, Galaxy M30s ini belum dilengkapi dengan NFC, notifikasi LED dan on display fingerprint seperti kakaknya, Galaxy A50s. Yah, namanya juga lebih murah. Tetapi kalau itu bukan hal yang ngeganggu kamu, harusnya M30s udah bisa masuk jadi pilihanmu.

Sebenarnya saya kurang suka dengan penempatan fingerprint di bagian belakang. Pun kalau tanganmu sedikit saja berkeringat, kadang sulit terbaca. Face unlock-nya juga, kamu harus tetep mencet tombol powernya atau mengetuk layar dua kali, baru fitur ini bisa jalan. Terkadang juga masih harus di-swipe lagi. Saya paling kesel kalau handphone-nya ngebaca wajah dikira mau dibuka, layarnya jadi terang banget brightness-nya. Bikin sakit mata.

KAMERA UNTUK FOTO DAN VIDEO YANG OKE, DITAMBAH KUALITAS MIKROFON YANG OKE!

(Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Ini nih, fitur yang pasti ditunggu-tunggu banget karena ini jadi salah satu faktor orang mempertimbangkan membeli sebuah handphone.

Kalo dulu sering ngomong, “Maaf fotonya jelek. Maklum kamera hp.” Sekarang kata-kata itu udah kayak kurang relevan. Karena sekarang di kategori mid-range saja sudah mendapatkan kualitas kamera yang oke dengan tiga pilihan lensa yang rasanya dulu itu mustahil. Dukungan software maupun hardware nya sudah sangat mendukung.

Dengan desain kamera bump yang mirip dengan seri Google Pixel 4 dan iPhone 11, gimana sih hasil foto yang dihasilkan oleh kamera M30s ini?

(Doc. Alma Hanifa)

Kamera Galaxy M30s ini terdiri dari tiga buah lensa; 48 MP untuk lensa wide, 16 MP ultra-wide, 5 MP wide depth sensor untuk foto bokeh yang membuat bagian belakang foto yang kamu tangkap bisa ngeblur. Tapi apakah besaran piksel ngaruh ke bikin foto makin bagus? Jawabannya nggak terlalu ngaruh. Piksel besar hanya berpengaruh kalau fotonya kamu zoom, atau akan kamu cetak. Banyak hal lain selain besaran piksel yang membuat sebuah foto maupun video itu bagus: sensor, lensa, prosesor, dan software. Mereka itu saling berpengaruh satu sama lain, makannya dulu hTC pernah nantang dengan teknologi Ultra-Pixel 4 MP. Kalau sensor dan lensa sudah baik tapi software-nya jelek, hasilnya juga nggak akan maksimal. Ini banyak terjadi di handphone Sony Xperia yang ironisnya divisi kamera Sony Alpha sangat dipuji. 

Begitu pula dengan M30s ini. Digadang-gadang dengan 48 MP ini sebenarnya terkesan gimmick. Kameranya nggak jelek, tapi beberapa software harusnya bisa lebih dioptimalkan. Istilahnya nih ya kalau dipikir-pikir, S10+, Note10+, dan Galaxy Fold aja masih pake konfigurasi 12 MP dan 16MP. Kenapa nggak tiga flagship teratas itu pake 48MP? Terus segimana berfungsinya sih 48 MP ini? Nggak terlalu.

Camera user interface pada Galaxy M30s (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Pada interface kamera-nya pun cukup mudah dioperasikan, meski kamu baru pertama kali memakai Samsung. Ada mode Photo, Video, Pro, Super Slow-Mo, Slow-motion, Hyperlapse, Live Focus, Panorama, Night Mode, dan  Food Mode. Resolusi kamera 48 MP-nya ini baru bisa dipakai saat kamu menggunakan ukuran 3:4, dan tidak bisa digunakan untuk ukuran 16:9, 1:1, dan ukuran full, maupun mode-mode lainnya, bahkan di mode Pro yang notabene-nya lebih leluasa untuk mengatur segitiga eksposur. Pada banyak mode seperti Night Mode pun tidak bisa menggunakan kamera ultra-wide, hanya untuk foto dan video biasa saja. Sayang, perpindahan antar mode kamera terkadang terasa sedikit lama.

Berikut JoyPixel sajikan sampel foto hasil tangkapan Galaxy M30s dari masing-masing mode. Tentang ukuran yang saya pilih hanya untuk estetika semata.

Lensa wide outdoor dengan ukuran 16:9(Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Lensa wide indoor dengan ukuran 16:9 (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Foto lensa ultra-wide outdoor dengan ukuran 16:9 (Doc: JoyPixel/Iman Ramadhan)

Foto lensa ultra-wide indoor dengan ukuran 16:9 (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Foto mode Live Focus dengan ukuran 16:9 (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Foto mode Pro dengan ukuran 16:9 (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Foto Night Mode (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Hasil foto mode Panorama (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Foto tanpa Food Mode dengan ukuran Square 1:1. (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Foto dengan Food Mode ukuran Square 1:1 (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Foto dengan kamera depan dalam ruangan (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Foto dengan kamera depan di luar ruangan (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Hasil foto zoom 42MP (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Sampel video M30s (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Sampel Super Slow-Motion (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Sampel Slow-Motion (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Hal yang paling pertama saya notis ketika mengenakan mode ultra-wide adalah, M30s ini seperti kehilangan detail-detail, sedikit terasa stretch out, meski dynamic range-nya terasa lebih enak dilihat. Mungkin masing-masing lensa dan sensor kameranya juga berbeda.

Pada Food Mode, kurang lebih menggunakan metode yang sama dengan mode Live Focus, memberikan depth of field, juga background yang ngeblur. Sebenernya, saya sendiri kurang bisa ngebedain hasil dari Food Mode ataupun Live Focus, karena ya mirip-mirip, JoyFriends.

Night Mode-nya terlihat cukup memberikan efek yang signifikan dan terasa berbeda, tetapi ya rasanya nggak bagus-bagus amat. Nggak wah, sedikit washed out kalau tidak diatur. Jangan berharap bisa kayak seri S10, ataupun Note 10, deh. Tapi sedikit bisa kamu atur eksposurnya sehingga lebih enak dilihat.

Kamera wide-nya cukup asyik pada mode 16MP maupun 48MP. Sebenernya nggak terlalu keliatan berbeda kalau secara kasatmata. Tidak memberi dampak yang wah banget, hanya detail yang sedikit lebih baik. Misal, waktu lagi liat absen di papan tulis kelas, saya lebih suka foto dari bangku saya, dan dengan 48MP itu sedikit lebih keliatan  detail dari biasanya. Cuma ya itu, ngabisin memori dan motretnya lama.

Fitur Hyperlapse, Slow-Motion, dan Super Slow-Motion nya sendiri cukup bisa dibilang oke, nggak ada kendala berarti. Hanya saja sesuai teorinya; kalau mau menangkap gambar yang lama, kamu harus menaikan apertur, sehingga terasa sedikit gelap, karena sensor sedikit mengambil cahaya. Sayangnya untuk mode ini sama sekali nggak bisa di zoom kayak yang saya coba di Huawei Mate 20 Pro. Kecepatannya cukup bagus dan smooth terkecuali yang Super Slow-Motion.

Sektor kamera depan juga menjadi salah satu pertimbangan banyak orang saat membeli sebuah telepon genggam, karena budaya selfie kini semakin digemari. Dengan kamera 16MP-nya, kamera depan Galaxy M30s dapat menangkap foto dengan baik, di dalam maupun di luar ruangan. Detailnya cukup baik meski nggak maksimal, dynamic range-nya cukup oke. Kamu bisa menggunakan mode wide maupun ultrawide, meski bukan yang terbaik.

Memainkan fokus kamera pada M30s ini agak susah, karena sedikit lelet. Meski nggak fair untuk dibandingkan, saya lebih seneng mainin fokus di Galaxy Note5 saya dulu. Cepet banget. Bahkan sama Galaxy A6 2018 aja kencengan Galaxy A6 2018.

Kualitas videonya pun patut diacungi jempol. Meski bukan yang terbaik, kamera M30s ini stabil banget meski stabilizer-nya belum dinyalakan. Saat stabilizernya tidak dinyalakan, akan ada dua opsi lensa perekaman, wide dan ultra-wide. Tapi saat stabilizer-nya dinyalakan, sayangnya opsi yang tersedia hanya untuk lensa wide saja, kebalikannya seri S10. Pun, kalau dinyalakan seperti terasa banyak noise. Untuk perekaman kamera belakang kamu dapat menggunakan resolusi UHD, ataupun Full HD; sementara di kamera depan mentok hanya resolusi Full HD dengan opsi lainnya merekam dengan HD.

Dynamic range-nya termasuk cukup oke untuk rentang mid range. Saya pernah makai M30s ini untuk shooting tugas video untuk beberapa UAS kuliah teman saya, dan secara mengejutkan hasilnya bagus. Saat di-zoom dalam perekaman dalam keadaan cahaya tidak terlihat noise-nya. Namun berbeda kalau di dalam ruangan.

Contoh hasil video Galaxy M30s (Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Jujur aja, salah satu alasan keunggulan Samsung dibanding brand Android lainnya adalah kualitas sound yang dihasilikan oleh microphone bawaannya. Kualitas soundnya bagus banget, suara objek yang direkam jelas, terus kayak ada noise cancelling yang menghalau suara angin gitu. Jadinya nggak berisik kalau direkam, dan fokus; Cocok untuk kamu yang menginginkan untuk vlogging melalui device ini.

Selebihnya, untuk bagus atau nggak foto dan video dari Galaxy M30s ini, tergantung JoyFriends semua, silahkan dinilai sendiri hasilnya.

BATERAI AWET!

(Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Saat ngomongin baterai, ini juga salah satu pertimbangan yang sebenarnya harus kamu perhatikan, JoyFriends. Kayak buat apa punya handphone dengan sejuta fitur bagus kalau daya tahan baterainya itu nggak bagus, alias cepet banget abis. Sedikit ngurangin produktifitas karena harus dekat dengan colokan atau powerbank. Hal inilah yang nggak akan kalian temui di Samsung Galaxy M30s ini.

Sejak awal dirilis, bahan promosinya selalu mengandalkan aspek yang ini, seakan fitur inilah yang paling menonjol di headphone ini, dan menjadi pembeda dengan lawan mainnya. Lantas, gimana sih performa baterai M30s ini? Kakaknya terdahulu, M30 saja sudah memiliki baterai sebesar 5000 mAh, gimana M30s ini yang memiliki 6000 mAh.

Jawabannya jelas, awet banget, JoyFriends. Udah pake layar Super AMOLED, baterai dengan kapasitas 6000 mAh, manajemen baterai yang hemat daya dari prosesor Exynos-nya, belum kalau kamu pakai fitur dark mode.

Pemakaian seperti main sosmed, ngedit foto, video, maps, nulis di aplikasi Microsoft, bikin desain, denger lagu bisa tahan sampai 19 jam masih tersisa 20%. Kalau dipakai main gim berat bisa tahan sampai 10 jam lebih. Itu aja belum saya nyalakan mode hemat baterai. Ketika menggunakan medium battery mode untuk saya bawa jalan ke Kaki Gunung Salak dan jarang aliran listrik, baterai-nya juga mengagumkan, tahan hingga sehari lebih dua jam hingga 12%. Asik banget sih ini untuk jadi teman jalan-jalan, atau dalam kondisi mendesak nggak harus kehabisan baterai.

Intinya sih, baterainya ini juara banget. Kalau baterai jadi pertimbangan utama kamu, Galaxy M30s ini udah cocok banget. Meski sedikit menambah kegemukan dan berat handphone ini, tapi nggak sampe mengganggu banget seperti Energizer Phone.

HARGA DAN KETERSEDIAAN

(Doc. JoyPixel/Iman Ramadhan)

Seperti halnya seri M lainnya terdahulu, keberadaan smartphone ini hanya diperuntukan untuk toko  e-commerce, tidak ada di toko fisik, namun tidak sampai ghoib stok-nya. Untuk varian warna biru dengan internal 64GB serta RAM 4GB yang saya dapatkan seharga kurang lebih 2,800,000  di official store Samsung. Mungkin ini juga yang membuat harga Galaxy M30s ini relatif lebih murah dari kakaknya Galaxy A50, A50s, bahkan A51: ketersediaannya, memangkas budget yang lumayan banyak.

KONKLUSI

Meski baru berapa bulan rilis, Galaxy M30s dengan cepat hampir regenerasi dengan handphone Samsung terbaru seperti Galaxy A51, bahkan Galaxy M31. Meski begitu, handphone ini tetap memiliki competitive edge alias pembeda yang membuat Galaxy M30s ini tetap standout dibanding kompetitor maupun dari seri lain Samsung.

Di harga yang nyaris berbeda cukup jauh dengan Galaxy A51, kamu mendapatkan prosesor yang sama, konfigurasi kamera yang sama, dengan baterai yang lebih besar 1000mAh. Secara desain dan fitur-fitur juga nggak ketinggalan-ketinggalan amat.

Body-nya kokoh, menggunakan bahan glastic, kombinasi kaca dan plastik. Berkat baterainya yang besar membuat handphone ini sedikit berat dan bulky. Secara desain pun tidak sekeren saingannya seperti realme maupun Xiaomi. Tetapi, saya suka sih sama bump kameranya.

Sektor kameranya cukup oke untuk diandalkan meski bukan yang terbaik dari Samsung. Tetapi untuk kualitas mic-nya, saya wajib acungi jempol. Untuk nge-game berat juga cukup bisa diandalkan, baterainya awet dan nggak gampang panas. Ngedit video ataupun foto, nonton film juga nggak usah khawatir baterainya cepet habis.

Ketahanan baterai-nya sih yang asik banget. Saya termasuk pemakai berat, namun tetep tahan seharian, nemenin saya di segala kondisi. Saya cuma berharap ini handphone ada S-Pen nya biar makin produktif, hehe.

Paling, M30s ini ketinggalan secara fitur NFC, In Display Fingerprint, LED notifikasi, serta belum menggunakan One UI 2.0 dengan Android 10. Posisi speakernya entah kenapa gampang ketutup, padahal di Note5 nggak; pun kualitas speakernya bukan yang terbaik. Body-nya yang agak tebel dan berat juga mungkin kurang cocok untuk sebagian orang, tetapi kalau untuk saya pribadi sih nggak ganggu-ganggu amat. Charger yang dikasih pun terkesan sedikit murahan, serta nggak ada case bawaan.

Secara keseluruhan, Galaxy M30s ini cocok banget untuk kamu yang mau konsumsi media tanpa takut kehabisan baterai, temen jalan-jalan yang bisa diandelin, pokoknya sahabat dalam berbagai kondisi deh, JoyFriends!

Good
  • Baterai tahan seharian
  • Kualitas mic bawaannya
  • Layar Super AMOLED
  • One UI
  • Fitur-fitur
  • Kamera
  • Nggak gampang ngoleksi sidik jari di cover belakang
  • Nggak gampang panas
  • Ngebut prosesornya
  • Letak headphone jack, kabel charger, dan speaker yang berada di bawah, seperti seri flagship
  • Well build
  • Kualitas suara telepon yang sangat bagus
  • Manajemen RAM yang baik
  • Earbuds dengan sound quality yang bagus
  • Bisa jadi powerbank
Bad
  • Speaker bagus, tapi claritynya kurang
  • Pakai plastik, tapi lebih bagus dari plastik Galaxy S3 dan Note3 dulu, masih kerasa feel premiumnya
  • Tidak ada case bawaan, tidak seperti A30s
  • Tidak ada NFC
  • Desain fingerprint di belakang
  • Nggak ada lampu notifikasi LED, tapi bisa diatasi oleh always-on display
  • Lokasi tombol volume dan power yang di kanan semua,
  • Letak speaker yang terkadang tertutup kalau lagi main gim atau nonton video secara lanskap,
  • Software kamera, ultrawidenya jadi kurang detail dan nggak ada opsinya di night mode maupun di pro mode
  • Sedikit bulky dan agak berat untuk menopang baterainya
  • Fast charging yang belum sekencang VOOC milik OPPO, realme, dkk
  • Chargernya dikasih versi putih yang kesannya agak sedikit murah
Seorang mahasiswa yang hobinya kuliah sekaligus figuran di band @nextgentheband & @valdivieso_band | Gemar memotret di akun @ishoothem dan menulis gan

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.