Hunt for The Wilderpeople, Buah Jatuh Nggak Jauh Dari Pohonnya

User Rating: 6.5
Drama antara Ricky dan Hector memang panas dingin. Film Hunt for the Wilderpeople cocok buat yang suka humor dan cerita unik.

Buat Ricky Barker (Julian Dennison), hidup itu menikmati apa yang ia lakukan setiap harinya. Semenjak ditinggal pergi oleh ibu kandungnya, bocah gendut hobi makan yang ke mana-mana selalu menggunakan jaket bermotif segitiga iluminati dengan tas ranselnya ini, nggak bisa lari dari masalah.

Mulai dari mencuri sampai kabur dari rumah penampungan anak, semua dilakukan oleh Ricky yang selalu nggak puas dengan kehidupannya. Sikap liar ini membuat pemerintah yang menanggung hidupnya memutuskan untuk mencarikannya orang tua angkat. Tujuannya agar kelak hidup Ricky lebih baik.

Sayang, sepasang orang tua angkat yang tinggal di pegunungan nggak cukup buat Ricky. Suasana yang lebih tentram dan sederhana justru sulit buatnya meninggalkan kehidupan brutal ala gangster yang terus dibawanya dari kota. Sampai beberapa malam Ricky mencoba kabur dari rumahnya hanya demi mencari tantanga. Meskipun nggak pernah lebih jauh dari lembah di pekarangan belakang rumah.

Kondisi ini pun mempengaruhi hubungannya dengan kedua orang tua angkatnya. Pepatah legendaris yang berkata “Like father, like son” or maybe, “Like grandfather, like grandson” tampaknya nggak bakal berlaku bagi Ricky dan ayah angkatnya, Hector (Sam Neill). Dari awal, Ricky seakan nggak diterima oleh Hector yang memiliki latar belakang kriminal serius, membunuh.

Sikap dingin Hector nggak bisa menyatu dengan Ricky. Bahkan, saat sang bocah berulang tahun yang ke-13, meski nyatanya Hector dengan sedikit terpaksa menghadiahkannya seekor anak anjing yang diberi nama Tupac (Dipilih Hector karena dia ngefans banget sama Tupac, sang rapper legendaris). Adalah sang istri, Bella yang mampu melunakkan Hector di depan Ricky yang kian hari kian berontak.

Sayang, nggak lama usai hadirnya Ricky, Bella meninggal dunia, yang membuatnya galau lagi. Kondisi ini diperparah dengan kabar bahwa dirinya bakal dijemput oleh pemerintah lagi guna ditempatkan ke penampungan anak, yang dinilai Ricky membosankan. Alhasil, niat buat kabur dari rumah angkatnya pun kembali muncul dan semakin menggebu-gebu. Namun menyisakan konflik mendalam dengan Hector.

Petualangan sesungguhnya pun dimulai. Di pagi hari yang cerah, Ricky nekat kabur dengan membawa segala kebutuhannya, termasuk beberapa helai roti tawar di dalam tasnya. Memang dasarnya rebel, Ricky sempat membakar gudang miliki Hector sebelum memulai langkahnya menyusuri hutan belantara tanpa ada tujuan. Well, apakah Ricky dapat bertahan hidup? Atau justru Hector yang kembali rela berkorban menjemput sang anak angkat demi mendiang sang istri? You’ll have to find out!

Kadang Dingin, Kadang Hangat

Hunt for the Wilderpeople mungkin bukan film keluarga pertama yang mengangkat kisah hubungan kakek-cucu atau bapak-anak. Beberapa judul dengan bujet yang lebih besar seperti Dirty Grandpa (Robert DeNiro-Zac Efron), Bad Grandpa (Johnny Knoxville-Billy Nicoll) atau bahkan Back to the the Future udah lebih dulu menghiasi layar lebar di mana-mana.

Namun, film berdurasi 1 jam 40 menit ini menawarkan alur kisah yang lebih hangat dan bersahabat dari ketiga film tersebut. Konflik yang diciptakan terasa terbangun dengan perlahan dan baik, terutama di bagian tengah film saat Ricky dan Hector berbagi petualang di tengah hutan buas Selandia Baru. Celotehan dewasa nan kocak yang muncul dari bibir pedas Ricky saling terparkir jelas dengan tanggapan dingin dari Hector, yang berkali-kali dalam film enggan disebut “Paman” oleh Ricky.

Sayangnya, absennya rasa sentimen di kedua karakter pada beberapa adegan krusial membuat bumbu drama yang hadir seakan dipaksa untuk saling bertabrakan, meskipun momennya sudah pas. Namun, hal tersebut mampu ditangkal oleh banyolan-banyolan gila dan liar Ricky yang mampu melelehkan suasana. Terutama saat keduanya tersekap di sebuah rumah singgah para pemburu.

Yang makin bikin Hunt for the Wilderpeople menarik ialah sosok sang sutradara. Yap, usai sukses menahkodai mokumentari horor, What We Do in the Shadows, Taika Waititi juga resmi didapuk guna menggarap seri film terbaru Marvel, Thor:  Ragnarok yang bakal meluncur Oktober nanti. Namun satu hal, jangan berharap menemukan alur suspensif dalam film ini yang mungkin ditemukan di Thor, karena Hunt for the Wilderpeople hanya menawarkan kisah hangat dengan sedikit bumbu komedi khas Selandia Baru yang dingin dan enggan berhati-hati.

Writer : Adhie Sathya

NB: Penulis merupakan penikmat film layar lebar dan film series. Selain pernah menjadi penulis di majalah HAI, beliau juga beberapa kali turut serta menjadi penulis di beberapa media lain. Saat ini Ia masih menjadi penulis lepas di tengah kesibukannya bekerja di sebuah penyedia jasa travel online.

Summary
Film Hunt for The Wilderpeople nggak cuma sebuah film keluarga, tapi juga film dengan komedi yang khas dan cukup berbeda dari film bertema serupa.
Good
  • Nama besar Taika Waititi
  • Konflik yang terbangun secara perlahan
Bad
  • Bumbu drama seakan dipaksa untuk saling bertabrakan
  • Rasa sentimen kurang menonjol
6.5
Fair
Written by
I'm just a man who likes playing a game, watching movies, tv series, Dragon Ball, Digimon, Attack on Titan, and Kamen Rider.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.