24 Hours to Live – Review : John Wick Galau dengan Durasi

User Rating: 5
Kita tahu kamu pakai obat tapi nggak usah terlalu histeris gitulah. (doc. Thunder Road Pictures)

Gambaran orang awam kayak gimana seorang pembunuh bayaran atau assassin kelas atas beraksi sangat terbantu dengan film John Wick. Akan tetapi, melalui 24 Hours to Live, Ethan Hawke mencoba untuk menhadirkan kembali stereotype pembunuh kelas atas tersebut melalui sosok Travis Conrad. Seorang profesional lepas yang juga udah kehilangan keluarganya dan memutuskan untuk hidup biasa-biasa saja.

Sayang… Langganannya, korporat besar bernama Red Mountain, ingin dia kembali lagi melakukan satu tugas yang lumayan sulit dan tawaran uang 1 juta dolar selama satu hari kerja berat buat ditolak. Alhasil dia kembali bertugas dengan tingkat kegalauan tinggi karena masih kepikiran sama keluarganya. Kebimbangannya itu akhirnya ditebus dengan nyawanya.

24 jam untuk kesempatan kedua

Travis yang udah mati karena salah mengambil keputusan tiba-tiba membuka mata dan menemukan kalau dirinya hidup kembali. Sebuah prosedural nggak lazim dan dikatakan berbahaya oleh Red Mountain telah memberikan kesempatan kedua bagi Travis untuk menyebutkan informasi mengenai tugas yang diembannya. Sayangnya, usai membeberkan informasi tersebut, Travis harus kembali “dibunuh”. Nggak terima, Travis pun memakai kesempatan keduanya untuk menghajar balik korporasi tersebut dan melakukan satu tujuan yang paling sering diusung film bergenre seperti ini; balas dendam!

I’m a dead man …

Yak, sesuatu berjalan tidak seperti semestinya. Saya membayangkan 24 jam di kehidupan kedua Travis akan sebrutal John Wick dalam melakukan aksi balas dendamnya atas semua yang telah direnggutnya. Sayangnya, 24 Hours to Live nggak setegas itu. Sepertinya, karakter Travis memang dibuat sedikit empuk alias lebih punya hati. Malahan di film ini Travis sangat banyak pertimbangan meski tetap bisa membunuh tanpa ampun.

Pembunuh bayaran yang humanis

Ethan Hawke adalah salah satu aktor kawakan terkenal yang sangat menjiwai perannya. Saking totalnya, dia dinominasikan untuk Academy Awards baik sebagai aktor maupun sebagai penulis. Bahkan melalui Trilogi Before Sunset, dia meraih banyak sekali nominasi untuk penulisan skenario yang luar biasa halusnya.

Di sinilah sebuah ironi terjadi, bukan kepada kegagalan akting dari Travis, tapi lebih kepada benturan kedua unsur yang sama sekali nggak pas. Kelembutan seorang pria sebagai kepala keluarga harus dijejalkan ke dalam film aksi brutal beroktan tinggi. Harusnya film ini bisa menjadi perpaduan Crank yang bertempo cepat (ingat, waktu kamu 24 jam) dengan John Wick.

Sayangnya berkat akting total Ethan, Travis benar-benar menjadi pria yang galau terhadap semua penyesalannya akan keluarga, gamang dan sungguh terlihat kacau. Beberapa bagian film pun mendukung hal tersebut melalui flashback dan halusinasi yang terlalu masif, layaknya memori Frank Castle di Punisher yang tayang di Netflix. Tapi ingat, ini bukan film seri jadi malah bikin saya teriak dalam hati “Apa sih, buruan! nggak penting!”

Waktuku nggak banyak, jadi ayo buruan sampai ke konluksinya gimana!

Overall, 24 Hours to Live masih cukup menyenangkan untuk ditonton. Adegan aksinya cukup menegangkan, sound metal beradu dengan peluru asik didengarkan. Terlebih lagi aksi kebut-kebutannya, kapan lagi kamu bisa lihat kejar-kejaran berdarah dengan tembak-tembakan di dalam sebuah Avanza?

Summary
24 Hours to Live harusnya bisa mendapat skor lebih baik daripada ini kalau tidak terlalu serius memadukan unsur sentimenal ke dalam filmnya. Kami hanya perlu film aksi keren dengan tembak-tembakan yang seru!
Good
  • Akting Ethan Hawke Sebagai Seorang Yang Pake Morphin Bagus Banget
  • Aksi Kebut-Kebutan Pake Avanza Bikin Orang Indo Bangga
Bad
  • Pemberian Karakter Travis Sebagai Family Man Terlalu Membuang Banyak Waktu
  • Ada Beberapa Lubang di Cerita yang Lumayan Nggak Wajar
5
Average
Written by
"Witness me!" - Mad Max : Fury Foad (2015) is his inspiration for life. Grow with Japanese pop culture and finally decided to make a team of superhero. Follow his magnificent (odd) visual track on his instagram.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>