5 Fakta Seru Soal Film Aruna dan Lidahnya!

Siapa yang udah nonton film ini? Seru nggak? (doc. Aruna dan Lidahnya)

Belakangan seisi sosial media sempet rame sama trailer film Aruna dan Lidahnya. Gimana nggak, dari trailer-nya aja udah bikin laper. Belum lagi punchline khas Dian Sastro, “Ada apaaaa ya sebenarnya?”. Film ini bisa jadi salah satu film lokal yang paling ditunggu tahun ini. Ngeliat Dian Sastro dan Nicholas Saputra bareng di satu frame, tanpa ada scene drama “Rangga, yang kamu lakukan itu jahat,” jadi bikin penasaran gimana chemistry mereka sebagai sahabat.

Good news for you, film ini sedang tayang di bioskop. Film drama kuliner arahan Edwin (yang juga menyutradarai film Posesif) memberikan kesegaran untuk genre tersebut. Buktinya, banyak pujian yang mengalir terhadap elemen-elemen film. Film ini juga nggak cuma enak ditonton, tapi dibahas tuntas – ngelihat banyak juga fan theory yang membahas tentang film ini. Nih, JoyPixel kasih beberapa hal menarik yang bisa kamu discuss bareng sama teman-teman kamu setelah nonton film ini!

Aruna dan Mimpinya

Di film, ada dua adegan yang menampilkan mimpi Aruna. Pertama ketika Aruna membuka kulkas untuk mencicipi jeruk nipis, lalu ketika Aruna meminum air pantai. Di kedua mimpi tersebut, Aruna mengecap rasa yang tidak seharusnya ada. Sesudah kedua adegan itu, Aruna mengalami kesialan. Terutama berhubungan dengan Farish. Apakah ini penyebab lidah Aruna tidak dapat berfungsi dengan baik di sepanjang perjalanan?

Aruna dan Catur

Di satu kesempatan di Singkawang, Aruna dan Farish makan Choi Pan. Lalu pembicaraan mengalir dari keduanya, tentu masih seputar makanan. Aruna bercerita kalau ia pernah makan buah catur ketika masih kecil. Ternyata pengalaman ini benar terjadi di hidup Dian Sastrowardoyo. Maka menjadikan adegan ini makin terasa natural.

Misteri Pak Musa

Salah satu pertanyaan terbesar di film adalah keberadaan Pak Musa. Beliau pertama diperkenalkan terbaring di rumah sakit lalu dijenguk oleh Aruna dan Farish. Uniknya, ketika Bono dan Nad tersesat di pelabuhan Surabaya, mereka bertemu dengan sosok mirip Pak Musa yang mengajak masuk ke kapal yang menjadi klub dangdut. Di atas kapal tersebut juga dapat dilihat Pak Musa joget dengan perempuan yang tampak seperti istri di fotonya. Tak lama, Pak Musa yang terbaring di rumah sakit dikabarkan meninggal.

Kehadiran Pakar dan Pencinta Kuliner

Sebagai film tentang makanan yang diangkat dari novel seorang penulis kuliner rasanya nggak lengkap kalau film ini nggak memuat cameo dari sesama pencinta kuliner. Di akhir film dapat dilihat William Wongso dan Ade Putri tampak mendengarkan Bono yang menjelaskan makanan yang dihidangkannya. Selain itu jika jeli dapat juga dilihat orang-orang lain dari dunia kuliner, bahkan termasuk Laksmi Pamuntjak, sang penulis novelnya.

Hubungan Nad dan Farish

Sebagai film yang memuat persahabatan orang dewasa dengan bumbu romansa, film ini makin berwarna dengan hubungan yang dibangun antara Nad dan Farish. Keduanya dikenalkan Aruna di awal perjalanan. Lalu keduanya terhubung karena sebuah kebetulan: mengalami nasib yang sama sebagai seseorang yang mencinta dalam keadaan yang salah.

Mereka bukan sahabat, mereka nggak saling jatuh cinta, tapi dengan basis pengalaman yang sama mereka saling mengerti. Nad sudah menerima kalau dia ditakdirkan menjalani percintaan semacam itu, sementara Farish masih berusaha menyembunyikannya. Perlahan Nad membantu Farish jujur pada dirinya sendiri, walau secara nggak langsung. Bisa dibilang hubungan macam ini jarang ditampilkan di layar lebar Indonesia.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>