ALPHA – Review : Sebuah Kisah Tentang Bertahan Hidup

User Rating: 6.5
Keda (Kodi Smit-McPhee) with his father Tau (Jóhannes Haukur Jóhannesson) in Columbia Pictures and Studio 8's ALPHA.

Kamu pernah nggak dengar sebutan Alpha Male? Jika pernah berarti kamu sudah bisa memahami pesan yang disampaikan oleh film ALPHA ini. Jika melihat kembali cuplikan trailer-nya dapat disaksikan terdapat adegan antara manusia dan serigala, begitupun juga dengan filmnya yang kebanyakan hanya menceritakan keintiman dua makhluk hidup yang berbeda jenis, maka dari itu pemeran penting yang digunakan hanya sedikit, sisanya adalah pelengkap suku.

Pastilah setiap manusia memiliki cara untuk bertahan hidup dengan metodenya sendiri, ada yang mencari teman untuk bekerjasama, apalagi sekarang semua serba mudah untuk menjangkau apapun yang jauh. Namun keyakinan tersebut nggak berlaku bagi pemeran utama dalam film ini. Pasalnya, ia harus bertahan hidup di masa purba dengan seisi alam masih dikategorikan liar.

Keda (Kodi Smit-McPhee) with Alpha in Columbia Pictures and Studio 8’s ALPHA.

Film yang berlatar di jaman prasejarah ini berfokus pada kisah Keda (Kodi Smit-McPhee) yang berusaha bertahan hidup dengan keadaan support system yang minim, jauh dari keluarga dan nggak ada manusia yang bisa membantunya. Film ini juga diperankan oleh Tau (Johannes Haukur Johannesson) sang Ayah dari Keda yang tergabung dalam sebuah suku pada zaman dahulu yang pakaiannya sudah modis lengkap bersama scarf leher dan coat bulu-bulu.

Berlatar Eropa 20.000 tahun yang lalu, Albert Hughes sang sutradara juga pemilik cerita memberikan sentuhan dramatis setiap adegan dengan menggunakan footagefootage sinematik yang menggambarkan lanskap alam Eropa yang masih asri, belum ada rumah penduduk dan masih banyak hewan koloni berjalan kesana kemari.

Namun sangat disayangkan karena cerita yang disajikan bisa dibilang kurang memiliki nyawa yang sebanding dengan kekayaan alam yang disuguhkan. Sesaat alur cerita mudah ditebak, beberapa aksi dan dialog terasa familiar. Bahkan ada repetisi salah satu adegan yang durasinya cukup panjang. Nggak hanya ceritanya yang terasa kosong, namun konflik yang dihadirkan juga nggak jauh-jauh dari konflik manusia zaman dahulu kala yang bertahan hidup dengan berburu dan meramu seperti pada buku Sejarah saat sekolah.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah seluruh percakapan selama film berjalan menggunakan bahasa suku di Eropa kuno, begitupun juga percakapan Keda dan serigalanya yang hampir nggak menggunakan bahasa manusia, hanya bahasa isyarat. Namun nggak terlalu bikin pusing karena ada subtitle Indonesia dan juga Inggris.

Keda (Kodi Smit-McPhee) with Alpha in Columbia Pictures and Studio 8’s ALPHA.

LITERALLY TIME TRAVEL

Sekiranya menyaksikan tayangan berdurasi satu setengah jam bercerita tentang kisah berburu akan mendapatkan sesuatu yang baru dari latar cerita zaman dahulu, namun kenyataannya sedikit berbeda,  saya harus menikmati perjalanan yang benar-benar menghabisi pagi, siang, sore dan malam hanya dengan irama timelapse versi drone. Kegiatan yang dilakukan setiap malam pun rata-rata sama dan tidak ada sesuatu yang mencengangkan bahkan menitikkan air mata.

doc. Columbia Pictures

SEBUAH PESAN MANIS

Setelah satu jam berlalu, saya pun mulai menemukan titik terang dari film ALPHA ini, ada kode-kode tersembunyi sepanjang film yang tanpa sadar mengetuk hati nurani saya. Di tengah gembar gembornya masyarakat urban yang egois nan ingin menang sendiri untuk mencapai kehidupan yang hakiki, film ini bisa menjadi sebuah rujukan manis untuk disaksikan supaya bisa menyontek pola pikir Keda untuk diterapkan pada kehidupannya.

Secara keseluruhan, baik teknis maupun cerita, ALPHA sudah memberikan yang terbaik, namun sayangnya masih ada beberapa bagian yang kurang. Meski begitu nggak menutup kemungkinan untuk masuk ke daftar bucket list kamu! Bagi yang ingin menontonnya, ALPHA akan segera hadir di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 21 Oktober 2018.

Summary
Kalau kamu menonton film Alpha ini, memang mungkin akan lebih dimanjakan sama nuansa lingkungan atau alam sekitarnya. Namun untuk cerita kayaknya nggak begitu menarik perhatian kamu. So, jangan berekspektasi lebih untuk ceritanya.
Good
  • Ada pesan positif dari konflik yang disajikan
  • footage alam yang disuguhkan keren banget
Bad
  • Banyak repetisi adegan
  • Ceritanya kurang bernyawa
  • Konflik cenderung umum
6.5
Fair
Written by
die hard fans of unicorn, sushi, flamingo and rose gold thing.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>