Darkest Hour – Review : Don’t Judge Book by Its Cover

User Rating: 9

Kisah dalam film Darkest Hour dimulai ketika seorang sekretaris pribadi baru bernama Elizabeth Layton (Lily James) menapaki tangga kecil dan sedang ketar-ketir mendapat brief yang cukup aneh untuk calon bos barunya. Nggak biasa, udah banyak kandidat yang keluar karena nggak tahan mendapati perilaku eksentrik dari sang bos.

“Jangan pakai satu spasi,” jelas sang pemberi brief saat hampir membuka pintu di ruang tidur sang bos baru. Pintu dibuka, Layton dibuat sedikit shock mendapati ruangan yang sumpek karena asap rokok, seorang pria tua yang pendek dan gendut sedang dalam posisi tiduran mengecek surat kabar baru hari itu dan suaranya yang parau karena nggak kedengeran. Belum lagi menu sarapannya yang nggak lazim, karena pagi-pagi udah minumnya alkohol.

Ya, seperti kisah yang sudah-sudah, baru aja 10 menit bekerja, Layton sudah nggak tahan karena dibentak-bentak dan hampir mundur dari pekerjaannya, kalau nggak menerima surat penting yang berisi pengangkatan sang bos barunya menjadi Perdana Menteri Inggris. Winston Churchill (Gary Oldman) resmi dilantik menjadi orang paling penting kedua di Inggris Raya setelah Raja.

Perang dari Perspektif Berbeda

Kalau selama ini dunia film kerap disuguhkan dengan film perang yang seru dan berdarah-darah dari garda depan, kali ini sang sutradara Joe Wright mengambil langkah yang cukup unik. Perang Dunia ke-II diceritakan dari sudut pandang para petinggi negara, yang dalam hal ini Churchill, di mana dia dipilih oleh partainya menggantikan PM lama, Neville Chamberlain (Ronald Pickup) karena ketidaktegasannnya. Sayangnya, negara sedang berada dalam situasi genting di mana Eropa sedang diinvasi Jerman di bawah serdadu Nazi-nya Hitler dan mau nggak mau Inggris harus mengambil langkah diplomasi untuk masa depan negara mereka.

Churchill nggak cuma harus jadi pemerasatu bangsa, tetapi juga harus jadi pengobar semangat. | Foto : FOCUS FEATURES LLC

Di sinilah Darkest Hour mengambil latar belakang cerita dan pemusatan fokus penuh kepada pertimbangan Churchill untuk negaranya. Churchill pun bukan kandidat sempurna favorit semua orang karena dia juga terpilih karena disukai oleh oposisi. Partainya sendiri ragu karena dia pemabuk, cenderung nggak bisa diandalkan dan nggak disukai banyak orang. Sementara dari pihak sang Raja George VI memandang sebelah mata dirinya karena ada keputusan masa lalunya yang membuat Inggris kalah telak dalam perang.

Pertanyaan semua orang jelas hanya satu, bisakah orang seperti ini diandalkan untuk menentukan masa depan Inggris Raya?

Drama Perang Terbaik

Seperti yang udah saya jabarkan di atas, Darkest Hour bisa jadi film perang favorit kritikus di 2017 setelah Dunkirk yang telah rilis duluan. Pendekatannya yang unik dalam segi pengambilan keputusan bisa jadi oase di tengah kebosanan film perang yang itu-itu aja. Berterima kasihlah kepada semua cast karena mereka mampu melakukan tugasnya dengan baik dan membuat para karakter jadi hidup.

Keputusan besar lain yang harus diambil kala itu adalah tentang penjemputan pasukan Inggris di pantai Perancis. Kamu inget ini bakal nyambung ke film apa? | Foto : FOCUS FEATURES LLC

Oldman dengan sangat baik (atau malah dibilang nyaris sempurna) mampu menjadi Winston Churchill seperti apa yang dituliskan dalam sejarah. Gerak-gerik, perilaku, gaya bicara, semuanya sangat menyenangkan untuk dilihat kalau nggak bisa dibilang gampang banget bikin jatuh cinta. Seorang tipikal pemimpin yang bukan secara fisik menarik tapi mampu untuk mengobarkan semangat satu negara dengan kata-katanya.

Ya, kali ini bukan lagi peluru yang menjadi amunisi perang namun kata-kata. Sepanjang film kamu akan dibuat kagum dengan kepiawaian Oldman meramu kata-kata persis seperti Churchill lagi pidato di masa PDII. Sejatinya ini emang spesialisasi Oldman memerankan tokoh-tokoh yang tergolong “berat” dan “beragam” dalam hal karakter. Nggak heran berkat aktingnya di sini Oldman diganjar Golden Globe pertamanya dalam kategori Best Actor.

Sisi berbeda yang dimaksud di sini nggak cuma dari pihak cowok. Kamu bakal sadar juga di balik pria yang hebat pasti ada wanita yang kuat. | Foto: Focus Features

Darkest Hour sangat bisa jadi alternatif kamu para warhead yang sekali lagi harus melihat perang dari sisi berbeda. Sedangkan buat penonton lain yang suka film berkualitas, film ini jelas nggak bisa dilewatkan. Dialog yang apik dipadukan dengan gaya khas Wright mengambil gambar dalam membangun naratif visual cerita, persis banget kayak yang dia lakukan di Atonement atau The Soloist.

Sepanjang 2 jam lebih 5 menit kamu akan dibuat terpukau oleh kekomplitan sebuah film yang menceritakan sebuah kisah legendaris dalam sejarah dunia. Segera deh ke bioskop dan nikmati filmnya!

Summary
Darkest Hour adalah perspektif berbeda dalam film perang masa kini. Sebuah paket komplit yang bisa disajikan dengan Dunkirk apabila kamu mau menikmati film perang berkualitas anti mainstream.
Good
  • Akting Gary Oldman Patut Diacungi Jempol
  • Fokus Karakter Utama Tidak Mengurangi Karakter Lainnya
  • Scoringnya Asik dan Pas Banget Bikin Tegang
Bad
  • Nggak Cocok Buat Penggemar Film Aksi Yang Pengen Liat Perang Garis Depan
  • Bikin Kamu Jadi Penasaran Sejarah PDII
9
Amazing
Written by
Mulai mengenal pop culture dari manga Dragon Ball dan Doraemon, hingga dihancurkan secara mental dengan Evangelion. Head of Content at JoyPixel.id.

Is the Story Interesting?

0 0