Detroit – Review: Sisi Gelap Sang Kota Industri yang Mencekam

User Rating: 7.5
Sisi gelap kota industri di Amerika, Detroit, tertuang dalam film berjudul sama.

Mendengar kata Detroit, pikiran langsung tertuju pada kota industri dengan kemajuan sangat pesat. Menjadi salah satu kota penting di Amerika Serikat, Detroit adalah rumah bagi tiga perusahaan automobile kenamaan seperti General Motors, Ford, and Chrysler.

Terlepas dari fakta yang bersinar tersebut, Detroit belum mampu melepaskan diri dari jeratan masa lalu yang kelam, rasisme. Gerakan supermasi kulit putih pun nyatanya lahir di kota bagi 4,3 juta penduduk ini di awal 1920-an akibat migrasi besar-besaran warga kulit hitam.

Publik pun nggak akan melupakan apa yang terjadi pada 23 Juli 1967 saat Detroit Riot meletus. Terpilihnya walikota baru, Jarome Cavanagh yang sangat agresif terhadap isu ini menjadi pelecut komunitas kulit putih, termasuk dari kalangan pihak keamanan untuk membatasi ruang gerak bagi warga kulit hitam. Jam malam pun diberlakukan sepanjang tahun. Kesejahteraan bagi warga kulit hitam pun ditekan, dengan harapan Detroit bersih dari lingkungan yang kumuh.

Kepolisian Detroit, yang di-eranya penuh dengan warga kulit putih, turut berandil atas meledaknya kerusuhan di Detroit. Mereka nggak segan melepaskan timah panas bagi para kriminal kulit hitam apapun alasannya. 43 tiga warga Detroit tewas dalam kerusuhan berdarah tersebut. 33 di antaranya merupakan warga kulit hitam, termasuk Tanya Blanding, bocah empat tahun yang tewas diberondong peluru polisi karena disangka sniper.

Kekejian nggak berhenti di situ. Beberapa kasus penembakan serta pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga kulit hitam nyatanya belum tuntas hingga sekarang, termasuk insiden berdarah di Algiers Motel yang menjadi latar dari film Detroit.

Interogasi Mencekam

Adalah sutradara Kathryn Bigelow yang nekat untuk berada di balik kemudi dari film ini. Sukses dengan dua judul besar penuh penghargaan, The Hurt Locker dan Zero Dark Thirty, Bigelow nggak kapok buat menelusuri detik demi detik insiden Algiers Motel demi mendapatkan kisah yang pantas untuk disuguhkan.

Film ini sendiri mengisahkan momen mencekam “penyanderaan” yang dilakukan oleh Kepolisian Detroit terhadap 10 tamu Algiers Motel di malam pecahnya kerusuhan legendaris nan mecekam ini. Penyanderaan yang berbuntut dengan tewasnya tiga tamu yang tengah menikmati akhir pekan di kota Detroit.

Kedatangan polisi yang dikomandoi oleh Philip Krauss (Will Poulter) berawal dari laporan penembakan yang diduga dilakukan oleh sniper dari motel tersebut. Di lokasi yang bersamaan, dua personel band The Dramatics, Larry Reed (Algee Smith) dan Fred Temple (Jacob Latimore) memutuskan bermalam untuk menghindari kerusuhan yang merajalela.

Usai melakukan penggeledahan besar-besaran di motel tersebut, Philip beserta kawan-kawan memaksa 10 tamu hotel yang tersisa untuk mengaku dalam proses interogasi yang nggak manusiawi. Bermodalkan shotgun, mereka mengintimidasi baik secara psikis dan fisik hingga berunjung dengan kematian.

Saat proses interogasi yang menyiksa tersebut, hadir sosok Melvin Dismukes (John Boyega). Melvin seakan berada di persimpangan, melakukan tugasnya sebagai petugas keamanan atau menyelamatkan rekan-rekan kulit hitam dari perlakuan semena-mena para polisi.

Lemah Data

Hadir dalam durasi 143 menit, Kathryn Bigelow menyuguhkan film crime drama yang cukup menegangkan dengan narasi yang meledak-ledak. Penonton dipaksa untuk menghela nafas nyaris di setengah film lewat aksi brutal kepolisian menyiksa para korban.

Pemilihan angle kamera yang vintage serta bervariasi menambah kesan mencekam film yang satu ini. Penonton patut berterima kasih kepada sang cinematografer, Barry Ackroyd yang punya portofolio drama-drama historis seperti Parkland, Captain Philips hingga The Hurt Locker di mana ia bekerjasama dengan Bigelow.

Rapor baik Bigelow lewat Detroit makin didukung dengan penampilan menawan dari Will Poulter. Coba melepaskan imej remaja yang ia dapatkan dari The Maze Runner dan We’re The Millers, Poulter tampil bak kesurupan kala memerankan sang polisi penuh kebengisan, Philip Krauss, karakter yang dibuat berdasarkan kombinasi anggota Kepolisian Detroit di malam naas tersebut.

Menariknya, kamu nggak dapat dua karakter yang menyebalkan di film ini. Emosi makin dipanggang bahkan jelang akhir film di mana muncul sosok pengacara penuh intrik yang siap membuat kamu kesal bukan main.

Well, layaknya film based on true story ala Kathryn Bigelow lainnya, struktur storyline yang ditampilkan nggak kuat. Mulai dari data hingga fakta yang terdramatisir membuat Detroit terasa nanggung, khususnya di bagian puncak.

Maklum, lantaran perisitiwa ini masih menjadi misteri bagi kota Detroit, Bigelow hanya mampu menampilkan fakta berdasarkan pengakuan korban dan beberapa saksi mata. Sedangkan, kesaksian para pelaku, dalam hal ini Kepolisian Detroit, diabaikan.

Secara komersial, Detroit adalah sebuah flop di Box Office, di mana sang rumah produksi nggak mampu balik modal. Namun, film ini menjanjikan kisah yang klinis dan menarik untuk dilihat, mengingat isu ras justru makin menggila dewasa ini. Pada akhirnya, Bigelow bukan sutradara yang ingin meluruskan apa yang terjadi pada 1967 silam. Namun, lebih kepada sindiran jika isi rasisme nggak akan pernah hilang dari Negeri Paman Sam meski secara konsitutusi sangat diperangi.

Summary
Film ini bener-bener punya pesan moral yang sangat baik dan menggambarkan ulang peristiwa bersejarah menyangkut rasisme di Amerika Serikat. Detroit bener-bener jadi pilihan buat kamu yang memang suka sejarah, terutama yang berkaitan tentang rasisme di Amerika Serikat.
Good
  • Realisasi ulang sejarahnya cukup baik
  • Will Poulter bener-bener jadi sosok yang berbeda banget dan memiliki imej baru
  • Kondisi yang digambarkan, terutama kekejiannya, tergambar dengan baik
Bad
  • Sayangnya lemah data, hanya mengambil sudut pandang kulit hitam. Padahal baiknya diimbangi dengan sudut pandang kulit putih juga.
  • Filmnya termasuk flop
7.5
Good

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>