Hold Your Breath – Review : Kebanyakan Drama

User Rating: 7.5
Asap yang menutupi rumah warga dan sangat beracun di film Hold Your Breath. (doc. UniFrance)

Film Hold Your Breath garapan Daniel Roby ini sukses membuat saya terkesima dan ikut dibuat “menahan nafas” selama kurang lebih 89 menit. Film bergenre sci-fi ini jika dilihat dari posternya, akan berasumsi bahwa Hold Your Breath merupakan film bencana alam yang spektakuler macam 2012. Namun kenyataannya nggak demikian. Film tersebut lebih banyak mengangkat permasalahan keluarga yang cukup pelik dan penuh drama, bencana alam pun cuma sebagai bagian dari formula cerita di film ini.

Film asal Paris dengan judul asli Dans La Brume ini diperankan oleh Romain Duris (Mathieu), Olga Kurylenko (Anna), dan Fantine Harduin (Sarah). Kehidupan mereka berjalan mulus ketika Mathieu hendak mendarat di Paris dan mengabarkan pada Anna yang juga mantan istrinya, kalau ia baru saja menemukan prototype yang dapat membantu kelangsungan hidup anaknya, Sarah.

Ruang gelembung Sarah selama 12 tahun (doc. UniFrance)

Namanya orang tua, nggak mau anak semata wayangnya kenapa-kenapa. Segala macam upaya dilakukan hanya untuk melihat anaknya bertahan hidup. Dalam film tersebut diperlihatkan bagaimana Sarah tinggal disebuah ruang gelembung, karena mengidap gangguan imunodefisiensi, yakni kondisi tubuh dengan sistem imun yang lemah.

Nggak ada yang baik-baik aja ketika harus mengalami kebiasaan yang nggak pada umumnya. Seperti yang dialami oleh Mathieu dan Sarah, untuk bisa berkomunikasi mereka harus dibatasi oleh dinding kaca ruang gelembung, selama 12 tahun! Nggak ada yang namanya pelukan, hanya telapak tangan bertemu dengan telapak tangan dengan dinding kaca sebagai batasan.

Pun juga ketika Mathieu ataupun sang Ibu, Anna ingin memberi perbekalan untuk Sarah harus melalui sebuah kotak kecil di sudut kanan ruangan, semacam loket jual beli di pegadaian, di mana ruang untuk menjulurkan tangan hanya seukuran pergelangan tangan. Jika mereka di tempat yang berjauhan, telepon genggam bukanlah sebuah solusi, melainkan walkie talkie.

Meski terlihat aman-aman aja, tampaknya semesta nggak mengizinkan Mathieu untuk bernafas lebih lega. Sesaat setelah menghampiri Sarah di ruang gelembungnya yang berada di apartment Anna, ia kembali ke apartmennya yang hanya selangkah dari tempat menjenguk Sarah.

Di lantai paling atas merupakan tempat teraman jika ingin bertahan hidup (doc. UniFrance)

Seperti yang dapat disaksikan di trailer-nya, ia merasakan gemuruh cukup kuat yang menjatuhkan beberapa peralatan dapur di ruang apartmennya, kabut asap pun datang menerjang bagai tsunami. Tentu saja Sarah, sebagai anak yang tinggal sendirian dalam ruang gelembung, merasa khawatir dengan apa yang terjadi.

Drama semakin menjadi ketika asap misterius itu naik menutupi hampir seluruh perumahan warga setempat. Sebagai manusia biasa, menghirup asap yang berasal dari bawah tanah udah pasti “auto mati” beberapa detik kemudian. Namun perjuangan Mathieu dan Anna terus berlanjut, hingga numpang hidup sementara di kamar milik pasangan lansia, Lucien (Michel Rubin) dan Collete (Anna Gaylor).

Semua mesin mati ketika asap melanda Paris, sementara Sarah kebingungan karena kehidupannya bergantung pada baterai genset yang tersisa jika semua mesin mati. Sebab ruang gelembungnya perlu aliran listrik yang mumpuni untuk memperpanjang masa hidup Sarah.

Teknologi super kece!

Di menit-menit pertama mulai, kita udah disuguhkan teknologi yang canggih sedang dioperasikan oleh Anna ketika mengajar salah satu didikannya melalui bimbingan online virtual.

Ngga bisa dipungkiri, film Hold Your Breath ini ternyata nggak kalah dengan film-film Hollywood! Teknologi yang disuguhkan udah terbilang di luar ekspektasi ketika nonton, penataan ruang gelembung beserta isi-isinya bikin saya juga ingin merasakan rasanya berada dalam ruangan anti virus tersebut, nyoba doang tapi nggak sekalian sama sakitnya. Nggak cuma ruang gelembung yang bikin terkesima, beberapa tools yang digunakan ibunya Sarah juga membuat kerongkongan bergetar.

Konflik dibuat-buat

Banyak konflik yang terjadi saat kedua orang tua Sarah berupaya untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Namun ada beberapa konflik yang menurut saya terlalu dibuat-buat sehingga nggak make sense dan jadi bahan pikiran setelah nonton.

Bisa dibilang filmnya ini terlalu banyak dramanya juga. Jadi nggak terfokus pada bagaimana Mathieu, Anna, dan Sarah menghadapi bencana alam yang menjadi topik dari film garapan Daniel ini. Rasanya kalau dramanya seputar konflik menyoal gas beracun ini nggak apa-apa deh. Kalau masih seputar keluarga, kayaknya kurang asik aja.

Untuk filmnya sendiri murni menggunakan bahasa Prancis, tapi tenang aja karena sudah dilengkapi dengan subtitle bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris. Film ini sendiri udah tayang serentak di seluruh CGV Indonesia sejak 27 Juni guys. Kalau kamu penasaran bisa langsung tonton filmnya!

Summary
Meskipun memiliki kekurangan di bagian cerita, kita masih dibuat deg-degan soal gimana survive di tengah-tengah gas beracun. Kamu mesti nonton dan menahan nafas setiap para karakternya memasuki area beracun tersebut.
Good
  • Menyuguhkan teknologi kece yang nggak kalah canggih dari yang biasa ditampilkan film-film Hollywood
  • Menyodorkan kisah bencana yang nggak biasa dan mungkin belum diangkat Hollywood
Bad
  • Dramanya terlalu dibuat-buat
  • Fokusnya justru ke drama, bukan ke bagaimana survive di tengah bencana seperti film bencana lainnya
7.5
Good
Written by
die hard fans of unicorn, sushi, flamingo and rose gold thing.

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>