Insidious: The Last Key – Review : Semua Gara-gara Ayah yang “Gila”

User Rating: 6.5
Kayak gimana ya aksi terakhir Elise di film Insidious? (doc. Universal Pictures)

Setiap kali nonton film horor barat atau garapan Negeri Paman Sam, saya nggak pernah ngerasa takut apalagi nutup mata selama nonton filmnya. Kalau kaget sih ada lah beberapa kali, kayak film Insidious pertama, yang menurut saya lebih pumping dibandingkan film Insidious: The Last Key, yang tayang mulai 5 Januari ini.

Serius deh, kalau kamu nonton film Insidious: The Last Key sampai harus angkat kaki kamu ke atas atau nutupin muka pake tas atau tangan, kamu culun banget jadi orang. Ini film nggak ada serem-seremnya sama sekali dan layaknya film Insidious: Chapter 2 atau Chapter 3, bener-bener ngandelin “jurus mengagetkan” orang aja. Meskipun sekuel pertamanya saya suka sih, karena memang ceritanya berlanjut dari yang pertama.

Oke… ngomongin Insidious: The Last Key, lagi-lagi kita kembali diajak Elise Rainier (Lin Shaye) untuk melawan roh jahat alias iblis yang tahu-tahu nongol ke dunia manusia. Tapi bedanya, kita akan diajak flashback ke masa lalu Elise saat masih kecil dan remaja. Kita bakal bener-bener ngeliat gimana kehidupan Elise saat baru tahu memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap dunia roh.

Jadi tuh kita juga akan tahu siapa orang tua Elise dan juga apakah Elise punya adik maupun kakak di film ini. Bisa dibilang iblis yang kali ini dilawan Elise, merupakan iblis atau roh jahat pertama yang pernah ditemuinya. Di mana kalau di trailer-nya kamu melihat jari-jarinya itu kunci semua. Si iblis satu ini juga bisa dibilang sebagai “musuh” pertama Elise dalam franchise film yang pertama kali dimulai sejak 2010 lalu.

Menariknya, iblis yang dihadapi ini ternyata memang jadi salah satu yang paling kuat. Bayangin, dia bisa langsung nyerang ke sejumlah orang bahkan yang udah mati atau ada roh nyasar pun langsung dibikin bener-bener diem, nggak bisa bicara. Lalu gimana cara Elise ngalahin iblis satu ini? Nonton di bioskop guys kalau mau tahu lengkap ceritanya, hehehe…

Nuansa tegang yang nggak berasa

Kayak yang udah dibilang di awal, bagi saya film Insidious: The Last Key yang saya tonton first screening-nya pada Kamis (28/12) lalu di Epicentrum XXI, bareng The Sacred Riana (yang aslinya cantik guys!), nggak ada apa-apanya kalau dibanding yang pertama. Cuma bikin kaget dua-tiga kali, dan kalau kamu sampai teriak-teriak, wah emang culun banget sih kamu.

Salah fokus sama mbaknya yang ingin diajak dinner ini (doc. Universal Pictures)

Anyway, berbeda sama yang pertama maupun kedua, dan tentu yang ketiga, nuansa tegang di film ini nggak berasa. Kalau di dua film pertama dari awal judul aja udah dibalut dengan scoring yang seram dan menggelegar, nah di The Last Key ini kayak loyo gitu lho. Untuk membangun nuansa horor sebelum penampakan sang iblis keluar juga nggak ada serem-seremnya. Makanya itu iblis muncul cuma sekelebat dan lagi-lagi pake jurus mengagetkan orang aja.

Di sisi lain, ceritanya sih jadi drama keluarga banget. Karena akan melibatkan sosok ayah Elise yang menurut saya “gila” dan justru “melahirkan” iblis yang harus dihadapi oleh Elise. Udah begitu, sosok ayah ini juga bisa dibilang psycho dan paranoid sama sang anak perempuannya sendiri yang punya sixth sense ini. Plus sang ayah ini freak!

Tapi memang sang ayah di sini jadi karakter yang justru saya lihat menjadi sosok biang kerok atas segala hal yang dialami Elise selama hidupnya. Kamu bakal kesel sih sama sang ayah ini nantinya.

Alhasil, setiap kali ada penampakan iblisnya, saya ketawa-ketawa sendirian aja di saat yang lain pada teriak ketakutan. Karena memang nggak ada serem-seremnya sih buat saya. Nggak tahu kalau kamu ya…

Kalau diliat lama-lama males juga sih fotonya, hehehe… (doc. Universal Pictures)

Komedi yang mungkin receh

Kamu tahu kan kalau Elise itu punya asisten, Tucker dan Steven “Specs”? Nah mereka berdua di film ini bener-bener punya porsi yang cukup banyak di layar lebar. Saking punya screen time yang lebih banyak, saya jadi lebih menarik ke bagaimana mereka berdua lebih jauh terlibat di film ini. Apalagi mereka berdua menghibur banget, meskipun kayaknya sih gayanya receh ya.

Tapi serius deh, kamu bakal dibikin tertawa sama Tucker dan Specs di film ini, meskipun salah satunya akan melakukan aksi yang cukup heroik dalam membantu pekerjaan Elise.

Nah, karena aksi mereka berdua juga lah yang semakin membuat saya melihat kalau Insidious: The Last Key ini jadi film horor yang nggak horor. Jadi biasa aja gitu…

Nyambung dengan film pertama

Menariknya sih buat saya, setelah nonton film ini kamu jadi pengen nonton film pertamanya. Soalnya akan nyambung kok ke keluarga Lambert. Apalagi di sini kamu akan bertemu dengan “pintu merah” yang muncul di film-film sebelumnya. Jadi kamu pasti bakal nonton lagi film pertamanya.

Gimana? Nggak serem kan? (doc. Universal Pictures)

Loh kok bisa nyambung? Ya mungkin karena namanya The Last Key, jadi ini adalah sebuah epilog untuk franchise Insidious. Intinya awal film Insidious pertama itu dimulai dari akhir film terakhir Elise ini.

Daripada kamu penasaran, mending langsung aja guys nonton di bioskop rame-rame! Kan kalau kamu takutan, bisa ada yang nemenin tuh. Ya nggak?

Summary
Meskipun bagi saya Insidious: The Last Key nggak ada apa-apanya dibanding yang pertama, film ini tetap menghibur dan patut kamu tonton awal tahun 2018 ini kok.
Good
  • Penampakan iblis di film terakhir ini cukup keren dan sangar
  • Akhir dari aksi Elise yang ditutup dengan cukup dramatis
Bad
  • Ada komedinya, jadi makin bikin horornya kurang banget
  • Horornya nggak berasa
6.5
Fair
Written by
I'm just a man who likes playing a game, watching movies, tv series, Dragon Ball, Digimon, Attack on Titan, and Kamen Rider.

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>