Inuyashiki – Review: Kritik Sosial Dalam Bungkus Science-Fiction

User Rating: 8

Udah menjadi sebuah kelaziman dalam sebuah cerita bila tokoh baik melawan tokoh jahat, biasanya tokoh baiknya diwakili oleh seorang pemuda/pemudi yang bersemangat, sedikit selengekan atau malah anak yang cuek. Lawannya pun seringkali dihadapkan kepada orang-orang yang lebih tua, berpengalaman dan you-know-it all, semua diarahkan ke kesimpulan bila anak-anak muda bisa membawa perubahan.

Namun di film live-action Inuyashiki, kita nggak bakal diajak untuk berpikir demikian lagi melainkan dibawa dalam sebuah pemahaman baru yang sebetulnya terjadi di masyarakat.

Noritake Kinoshi sebagai Ichiro Inuyashiki

Orang  Tua vs Anak Muda

Seorang pekerja kantoran yang selamanya berkubang dalam karir kelas bawah (hirashain), Ichiro Inuyashiki (Noritake Kinashi ) adalah tokoh utama kita di film ini. Dia udah tua, disepelekan, dan tidak dihargai. Citra diri seperti itu udah diperlihatkan sejak awal film dimana Inuyashiki sama sekali nggak dianggep oleh anak-anaknya, dimarahi istri dan dibentak-bentak ama bos di kantor.

Keadaan bertambah buruk dan suram saat surat dari rumah sakit datang. Diagnosa dokter adalah kanker stadium 4. Karena sikap keluarganya yang apatis, dia cuma bisa sedih sambil ngajak anjing buangan yang mampir ke rumahnya, Hanako, jalan-jalan.

Saat jalan-jalan itulah dia dan seorang remaja sekolahan bernama Hiro Shishigami (Takeru Satoh) dan terkena sebuah ledakan. Tanpa disadari, tubuh mereka berdua sudah berubah menjadi cyborg, lengkap dengan persenjataan dan kemampuan menyembuhkan.

Inuyashiki kebingungan menanggapi kekuatan tersebut sementara Shishigami asyik mencoba kekuatannya secara destruktif. Di sinilah antitesis terjadi dimana sang remaja akhirnya kehilangan akal sehat dan mengacau Jepang.

Down-to-Earth dan Konflik yang Realistis

Inuyashiki merupakan film yang diadaptasi dari manga karya Hiroya Oku, di mana nuansa fiksi ilmiah Jepangnya sangat kental terasa. Kamu mungkin bisa merasakan vibes yang serupa dengan Gantz atau Parasyste karena memang itu semua dibuat oleh Oku .

Namun Inuyashiki bisa dibilang lebih down-to-earth karena emosinya lebih kerasa. Berterima kasihlah kepada sutradara Shinya Tsukamoto yang sanggup menghidupkan ini. Film ini sangat kental dengan kefrustrasian hidup Inuyashiki, kekecewaan Shishigami terhadap ayah kandungnya yang meninggalkan Ibunya dan teror yang terjadi ala-ala Death Note ( meski lebih gamblang terlihat ).

Ayaka Miyoshi sebagai Mari Inuyashiki, anak perempuan yang kesal terhadap sikap lemah ayahnya.

Akting yang Ciamik

Saya sungguh terhibur saat melihat film ini karena mampu menunjukan sisi gelap kehidupan Jepang dimana tuntutan ekonomi mampu mengubah karakter manusia. Akting para aktor dan aktris yang ciamik sangat membantu menunjukan hal tersebut.

Contohnya ketika diperlihatkan bahwa Mari, putri Inuyashiki, menganggap ayahnya sebagai sebagai figur yang tidak dapat dicontoh. Dia pun menolak untuk mendaftar universitas karena melihat kegagalan dalam diri sang ayah yang hanya menjadi seorang hirashain. Di lain pihak, Shishigami pun tidak kalah frustrasinya karena kehidupan dia dan Ibunya pas-pasan sedangkan ayahnya bergelimang harta dengan istri barunya yang lebih muda.

Semua diperlihatkan dengan jelas dengan durasi 127 menit dan tidak lupa menyertakan adegan aksi berantem ala-ala Dragon Ball yang epik. CGI Inuyashiki tampak mewah untuk sebuah film rilisan Jepang, dengan beberapa scene sungguh memanjakan mata meski kadang masih terlihat seperti efek murahan sinetron Indonesia.

Kritik sosial terhadap masyarakat yang nggak lupa menyertakan pesan terselubung terhadap kecanggihan teknologi yang bisa buat orang menjadi sangat tidak punya perasaan. Apakah kita dipaksa untuk menganggap rendah generasi tua dan bersikap sadis terhadap setiap kejadian dengan berkomentar julid seperti para netizen saat ini? Inuyashiki tampaknya bisa menjawab pertanyaan ini melalui ke-absurb-an fiksi ilmiah Jepang yang tidak ada duanya.

Summary
Inuyashiki adalah sebuah kritis sosial terhadap masyarakat Jepang yang dibungkus dalam dark comedy dan sains fiksi. Konfliknya yang cukup realistis ditambah dengan akting yang keren bikin versi live-action sangat greget!
Good
  • Akting ciamik setiap karakter, castingnya keren!
  • Ambience horror dan terror bisa jelas kerasa, bikin filmnya dark
  • Kurang lebih berhasil menunjukkan sisi gelap kehidupan di Jepang
  • Adegan action yang keren
Bad
  • CGI-nya sebenernya udah diatas rata2 film Jepang, sayangnya nggak kosisten
  • Durasi kelamaan, tipikal film drama Jepang
8
Great
Written by
Being adult with the spirit of Samurai X and Neon Genesis Evangelion, this man now decided to make a team of superhero like Avengers. Moviegoers and you can follow his visual track on instagram.

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>