Kelly Marie Tran: Aku Tidak Akan Tersingkirkan oleh Online Harassment

Kelly Tran justru menjadi sasaran orang-orang rasis setelah berperan di The Last Jedi (Sumber: starwars.com)

Beberapa waktu lalu, jagat internet sempet gonjang-ganjing waktu tau Kelly Marie Tran menghapus semua post di akun Instagramnya. Hal ini tentunya masih nggak jauh-jauh sama online bullying yang kerap dia terimaBullying tersebut muncul gara-gara para fans hardcore Star Wars nggak suka dengan aksinya sebagai Rose Tico dalam Star Wars: The Last Jedi.

Kalo dulu, Kelly Marie Tran sempat lempeng dan menganggap ‘angin lalu’ mengenai bullying yang ia terima – kesini-kesini mungkin dia memang menutup jalan untuk mendengar negative thought dari Maha Benar Netizen. As you can see, she deleted all of her Instagram Post.

Setelah sekian lama Kelly Marie Tran berdiam soal bullying yang ia terima, Kelly membuka suara. Aktris yang berperan di Star Wars: The Last Jedi ini membuat pernyataan dalam The New York Times. Melalui tulisannya, Kelly menyatakan bahwa ia nggak akan tersingkirkan oleh pelecehan online.

“Perkataan mereka (para bully) kayak menegaskan bahwa bagaimana seorang wanita dan manusia ‘berwarna’ – bahwa aku memang harus tersingkirkan, dan hanya bisa memerankan karakter minor di berbagai cerita.”

Kelly sendiri sudah berhenti berbicara bahasa Vietnam sejak umur sembilan tahun karena ia lelah jadi bahan bercandaan dan society selalu beranggapan bahwa dia hanya bisa menjadi karakter pendukung – tidak mungkin menjadi hero. Menurutnya, ia sendiri sudah di-brainwash untuk percaya bahwa kapasitas yang pantas ia dapatkan hanya untuk ‘hal-hal remeh’ – simply just because she was born that way.

“Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai menyalahkan diri sendiri. Aku sering berpikir, ‘seandainya aku lebih kurus’, atau ‘mungkin seharusnya memanjangkan rambut’, atau yang paling parah, ‘seandainya aku bukan (keturunan) Asia’. Aku sempat membenci diriku sendiri dalam waktu yang lama, di mana akhirnya aku memasukkan kata-kata mereka di atas harga diri aku,” tulisnya.

Kelly juga berpendapat bahwa dia bukanlah orang yang pertama yang harus mengalami tekanan itu – terutama di lingkungan ‘orang berkulit putih’. Pada akhirnya, dia merasa malu – bukan dengan dirinya sendiri. Tapi dengan dunia tempat dia tumbuh sekarang.

“Aku ingin hidup di dunia yang di mana anak-anak dengan kulit berwarna tidak perlu menghabiskan waktunya hanya untuk berharap mereka memiliki kulit putih. Aku ingin hidup di dunia di mana perempuan tidak menjadi subjek dengan penampilan mereka, atau kegiatan mereka, atau sesimpel keberadaannya. Aku ingin hidup dimana orang dengan berbagai ras, agama, status sosial, orientasi seksual, identitas jenis kelamin – semuanya terlihat sebagaimana mereka harusnya terlihat. Manusia.”

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>