Lady Bird – Review: Bukan Sekedar Drama ABG Biasa

User Rating: 8
Lady Bird, film drama soal ibu-anak yang harus kamu tonton. Soalnya bukan drama ABG yang biasa kamu tonton guys...

Drama yang mengangkat isu dalam keluarga kayaknya lagi nge-trend belakangan ini. Salah satunya, film Lady Bird yang kemarin baru memenangkan piala Golden Globe Awards. Sebenarnya, sebelum film ini masuk ke dalam nominasi Golden Globe Awards, udah ada beberapa teman yang menyarankan saya untuk menonton film ini.

Melihat posternya yang kelihatan serius membuat saya agak mikir-mikir, nonton atau nggak ya? Terlebih kepadatan kegiatan menjelang akhir tahun, bikin males nonton film berat. Well, ternyata film ini nggak seberat kelihatannya!

Mood warna dari film ini mengingatkan saya dengan film Moonrise Kingdom­-nya Wes Anderson (inget, warnanya doang ya). Selain itu, Greta Gerwig berhasil menyentil kegelisahan remaja cewek melalui film  pertamanya sebagai penulis skenario sekaligus sutradara. Lady Bird sendiri diperankan dengan sangat baik oleh Saoirse Ronan yang seenggaknya udah memenangkan 52 penghargaan dan masuk ke-122 nominasi penghargaan film.

Persepsi kehidupan remaja yang lebih real

Nice to know that finally there’s another perception of teenager’s life. Nggak ada geng cewek populer yang naksir cowok idola, perselisihan antar geng yang mondar-mandir dengan mobil bagus atau tampilan yang sangat stylish dan hobi belanja. Christine “Lady Bird” McPherson mewakili abege-abege yang memiliki karakter kuat, tetapi masih naif dengan standar idealisme yang mereka bentuk sendiri.

Tumbuh sebagai remaja cewek di keluarga sederhana, membuat Lady Bird ingin segera keluar dari Sacramento, California. Mengambil latar tahun 2002,sedikit banyak film ini menyentil kejadian 9/11 yang terjadi pada 2001. Jokes kayak “Jangan jadi Republikan,” atau “Penulis Connecticut atau New Hampshire tinggalnya di hutan.” Well, local jokes indeed. Tapi once you saw this movie, you’ll get into their jokes.

Drama antara ibu dan anak gadisnya membuka film ini dengan sangat cantik sekaligus intim ini menyentil penonton. Rasa-rasanya pasti pernah sekali seumur hidup di mana Mama negur kita karena baju yang berantakan di kamar, realita itu juga yang dihadirkan di sini. Melalui film ini juga mungkin akhirnya kita paham kegelisahan orang tua yang khawatir sama anaknya – sampai akhirnya Marion, sang mama, membatasi ambisi Christine sendiri.

Bukan cuma hubungan ibu dan anak

Nggak melulu soal hubungan mother-daughter, film ini juga diselingi dengan drama-drama di sekolah seperti cinta pertama di sekolah (yang emang hampir selalu nggak mulus), berantem sama sahabat, mencoba masuk ke geng populer di sekolah – yang ternyata nggak seasik yang dibayangin, sampai ngerjain suster di sekolah (sekolah cewek ‘jagoan’ kita ini sekolah Katolik yang cukup konservatif, by the way) dengan nempel tulisan “Married to Jesus” lengkap dengan ronce-an kaleng kayak newly wed. Funny things, The Nun not even mad!

Kayaknya cuma di film ini, ngisengin mobil Suster di sekolah tapi nggak dikasih hukuman.

Despite of all, doesn’t matter how mad you are to your mom, you know she’s the one you can rely on every time you feel down. Rasa-rasanya kalimat ini yang bener-bener menggambarkan film ini.

Summary
Film drama yang menarik dan bener-bener menggambarkan kehidupan remaja sesuai realitanya. Bukan yang lebay atau mewah, tapi bener-bener sesuai seperti kehidupan kita. Lady Bird ini worth banget buat kamu tonton, apalagi kalau suka drama remaja yang emang rada "dodol".
Good
  • Menggambarkan kehidupan remaja sesuai realitanya
  • Drama yang mungkin kelihatan berat di trailer, tapi kenyataannya nggak tuh
Bad
  • Ada beberapa jokes yang mungkin sulit dimengerti orang pada umumnya
8
Great

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>