Maipa Deapati dan Datu Museng – Review : Kisah Panglima Makassar

User Rating: 7
Sejarahnya cukup kental, aksinya juga nggak kalah keren. Nggak ada salahnya kamu nonton nih film. (doc. Ar2tonic)

Buat kamu yang sedang atau udah belajar sejarah, atau memiliki tempat tinggal di Makassar bagian pesisir pantai Losari, pasti pernah kenal dengan nama Datu Museng. Sosok pejantan tangguh sederhana yang kental akan sisi romantisnya kepada sang istri, Maipa Deapati, anak dari Sultan Sumbawa, Pangeran Mangalasa. Kisah mereka pun baru-baru ini tayang di bioskop lewat judul Maipa Deapati dan Datu Museng.

Kalau di Makassar terdapat tugu wajah menyerupai Maipa Deapati dan Datu Museng, kini setidaknya kamu akan merasa puas dengan segala kisah yang ada di film besutan sutradara, Rere Ar2tonic ini. Dengan menerapkan latar tempat pada masa lalu dan beberapa dialog menggunakan bahasa asli Belanda dan Makassar, membuat saya semakin yakin kalau film ini seharusnya menjadi film sejarah yang dapat dinikmati orang banyak.

Film ini menceritakan tentang Datu Museng (Shaheer Sheikh) yang merupakan pria sederhana, lahir di Gowa (salah satu dataran di Sulawesi Selatan), yang akhirnya terjadi konflik serta perpecahan karena penjajahan Belanda, lewat VOC pada 1760-an. Sehingga saat itu Datu Museng harus mengungsi ke pulau Sumbawa, di mana di tempat tersebut ia bertemu dengan Maipa Deapati (Fildzah Burhan) dan menjadikannya istri.

Penjajahan Belanda, yang di pimpin oleh Tomalopoa (Hans de Kraker) semakin mengkhawatirkan keadaan Sulawesi Selatan pada saat itu, hingga pria utusan Mangkasara (Makassar) datang kepada Datu Museng dan meminta untuk menyelamatkan kembali Mangkasara biar nggak dijajah Belanda. Demi harga diri dan melindungi rakyat di sana, Datu Museng diizinkan Sultan Sumbawa untuk membantu melindungi dan memperjuangkan tanah Mangkasara melawan Belanda dengan membawa serta pasukan perang, Maipa Deapati, dan ketiga penjaganya.

Siapa sangka, saat perang dimulai ternyata kekuatan Datu Museng nggak terkalahkan oleh apapun, bahkan ditembak dengan ratusan peluru pun nggak akan mati, begitu juga dengan pasukannya. Ada juga sebaliknya, Datu Museng melawan musuhnya hanya dengan satu tusukan, tujuh orang lainnya mati. Entah itu keris terbuat dari apa, yang dibunuh siapa yang mati siapa. Mungkin inilah yang menginspirasi developer mobile game bergenre perang untuk mengaplikasikan jurus satu serangan combo, beberapa orang sekitarnya tumbang.

Baca juga : Susah Sinyal – Review : Tinggalkan HP! Maknai Waktu Bersama Keluarga

Nggak cuma tentang peperangan, film ini juga kental akan sisi drama romantikanya. Datu Museng ini sangat mencintai dan menghormati istrinya dan sebaliknya. Sehingga ke manapun salah satu dari mereka pergi, mereka nggak akan dan nggak boleh terpisahkan. Mau ada rintangan seberat apapun melanda Datu Museng, ia akan terus memperjuangkan harga dirinya dan juga keselamatan Maipa Deapati.

Pertama kali saya tonton di lima menit pertama cukup menggugah, karena jujur aja ada sebuah kata pengantar sebelum masuk ke tayangannya mampu menghipnotis saya, dan animasi yang disajikan cukup menarik serta transisi antara animasi dan latar tempat asli itu blending-nya smooth banget! Di after credit-nya pun ternyata ada sesuatu yang bikin saya ingin ke Makassar dan ngobrol banyak tentang Datu Museng di sana.

Ada romantisnya juga kok nih guys,nggak cuma action! (doc. Ar2tonic)

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari film ini, selain menambah wawasan akan adanya Datu Museng dan Maipa Deapati. Saya sendiri setelah nonton ini langsung membatin, ternyata sesulit ini perjuangan pria jantan pada 1760-an yang memperjuangkan harga diri dan prinsip hidupnya, serta kehormatan wanita yang sangat dijunjung tinggi oleh para pria pada masanya.

Namun melihat sosial media, begitu banyak wanita mengumbar tubuh, lelaki yang nggak bertanggung jawab, bahkan nggak jarang yang dihadapkan dengan masalah, lebih banyak yang lari. Rasanya miris, seperti masih ada penjajahan moral. Semoga dengan adanya film ini, nggak hanya menambah koleksi tiket bioskop, tapi juga dapat menerapkan sisi positif dari Datu Museng dan Maipa Deapati dalam kehidupan pribadi.

Summary
Overall ini bagus, hanya pengemasannya masih kurang greget, akan lebih baik kalau totalitas untuk mengisahkan tahun 1760-an dengan perbanyak kosakata asli Makassar maupun Belanda, agar sisi sejarah yang ditampilkan juga mampu menghipnotis khalayak luas.
Good
  • Memiliki pesan moral yang bagus
  • Kemampuan akting Shaheer Sheikh memberi dampak positif bagi film yang disajikan
  • Kaya akan sejarah
Bad
  • Scoringnya kurang pas
  • Saking jernihnya audio sampai suara langkah kaki dan benda bergerak terdengar sangat jelas
  • Tutur bahasa yang digunakan pemeran pemimpin Belanda lebih mendominasi gaya bahasa masa kini, kurang tegas dan lawas
7
Good
Written by
die hard fans of unicorn, sushi, flamingo and rose gold thing.

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>