Maze Runner: The Death Cure – Review: Hidangan Penutup di Awal Tahun

User Rating: 6.5
69C-4a_2880x1620_R_CROP (L-R) Thomas (Dylan O’Brien), Newt (Thomas Brodie-Sangster), Cranks leader Jorge (Giancarlo Esposito), Frypan (Dexter Darden) and Brenda (Rosa Salazar). Photo credit: Courtesy Twentieth Century Fox

Usai The Hunger Games dan Divergent mengakhiri seri distopia, kini giliran Maze Runner. Lewat Maze Runner: The Death Cure, film yang diadaptasi dari novel karya James Dashner ini pun mampu memberikan the grand finale yang cukup mengesankan di awal tahun.

Wes Ball lagi-lagi dipercaya berada di balik kemudi. Ragam aktor remaja beranjak dewasa seperti Dylan O’Brien, Will Poulter hingga Thomas Brodie-Sangster kembali memancing animo besar para penggemar yang sempat melupakan Maze Runner: The Death Cure.

Maklum, jadwal rilis film ini harus mundur hingga setahun lantaran tragedi yang menimpa O’Brien di sela-sela syuting. Ia harus menjalani proses rehabilitas selama enam bulan usai mengalami gegar otak parah akibat tertabrak kendaraan stunt.

Alhasil, sepanjang 2017, fans Maze Runner: The Death Cure dibuat lupa jika rumah produksi masih berhutang film terakhir. Film yang menutup tirai pertempuran antara para Gladers dan WCKD, organisasi pemerintah dengan segala intriknya.

Antara Sahabat dan Cinta

Maze Runner: The Death Cure membuka layar dengan set kejar-kejaran antara mobil dengan kereta. Jika kamu pernah menonton Fast Five, ini adalah adegan yang serupa meski misinya nggak sama.

Dipimpin oleh Thomas (O’Brien), para Gladers yang tersisa, dibantu oleh Brenda (Rosa Salazar) dan Jorge (Giancarlo Esposito), berusaha membebaskan rekan mereka, Minho (Ki Hong Lee) yang disekap oleh WCKD pada film sebelumnya, The Scorch Trials.

Well, usaha mereka nggak semudah itu. Pasalnya, meski berhasil membajak salah satu gerbong kereta, Thomas, Newt (Thomas Brodie-Sangster) dan Frypan (Dexter Darden) nggak menemukan Minho.

Nyaris putus asa, ketiganya nekat untuk menerobos masuk ke kawasan The Last City, kota di mana WCKD berdomisili. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan sosok nggak terduga, Gally (Will Poulter) yang dinyatakan tewas pada film pertama.

Kabar baiknya, Gally tergabung dalam kelompok pemberontak yang memiliki akses langsung menuju markas dari WCKD. Tempat di mana pemerintah menyekap Minho dan puluhan remaja bahan percobaan antivirus Flare.

Situasi makin pelik saat Thomas diharuskan bertatap muka dengan mantan kekasih di dua film pertama, Teresa (Kaya Scodelario) yang bekerja untuk WCKD. Meski, ia masih sakit hati saat Teresa berkhianat dan memilih untuk bersama WCKD pada The Scorch Trials.

Pertanyaannya adalah, akankah Thomas mampu menyelamatkan Minho? Atau ia justru nekat menyebrang untuk bersatu dengan WCKD demi cinta abadinya kepada Teresa?

Nyaris Berantakan

Sang sutradara, Wes Ball tahu untuk memberikan penutup yang apik, ia wajib memberikan sentuhan yang epik pula. Ini yang berhasil ia lakukan lewat The Death Cure.

Dalam durasi dua jam 20 menit, bola mata dipaksa untuk menyaksikan film yang intense lengkap dengan fighting dan explosion scene yang solid dan halus.

Meski secara lanskap lebih sempit dari The Scorch Trials, The Death Cure mampu tampil dengan paket sinematografi oleh Gyula Pados terbilang matang dan nggak nanggung seperti di film pertama.

Adegan lari-larian pun dikurangi. Para karakter pun lebih mudah dibekali dengan senjata api di mana Ball pun berani mengambil banyak framing zoom in dan out demi menciptakan efek ril yang menyentak detak jantung.

Sayangnya, soal cerita, The Death Cure bukan film yang sempurna untuk mengakhiri semuanya. Beberapa adegan dengan penyelesaian masalahnya mampu terbaca bahkan sebelum sang karakter beraksi.

Plotnya sendiri nggak terlalu rumit. Tapi, The Death Cure kerap kehilangan fokus lantaran terlalu banyak materi yang disampaikan, memaksa penonton berpikir keras, mengorek kronologi yang sudah ada jauh di belakang dan terlupa.

Dengan durasi film yang 140 menit, The Death Cure cukup melelahkan buat diikuti. Ujung-ujungnya, kata “Nggak penting” bakal muncul di beberapa adegan jelang ending.

Makin parahnya, Ball langsung melepas film ini dengan kasar, khususnya saat opening. Jadi, bagi kamu yang nekat nonton The Death Cure tanpa menyelesaikan dua film pertama, dijamin tersesat 20 menit setelah film berjalan.

Soal karakter, nggak perlu diragukan lagi. Baik Dylan, Will maupun Thomas Brodie sudah hafal dengan penempatannya masing-masing.

Positifnya, kamu bakal tetap menikmati film ini karena The Death Cure menghadirkan dua klimaks yang nggak boleh dilewatkan. Keduanya memberikan kesan jaw-dropping, sehingga sulit buat mengeluarkan kata-kata.

 

 

 

 

 

6.5
Fair

Is the Story Interesting?

0 0