Midnight Sun – Review: Drama Super Receh Spesialis DVD

User Rating: 5

Hollywood nggak ada habisnya menelurkan berbagai judul drama romantis yang receh abis! Tentu kita masih ingat bagaimana dunia dibuat galau dengan kisah cinta Hazel Grace dan Gus Waters dalam The Fault in Our Stars. Atau The Notebook yang lebih serius lagi. Kolaborasi Rachel McAdams dengan Ryan Gosling mampu membuat hati ini terasa, kalau kata remaja millennials, terpotek-potek. Nah, kesuksesan dua film drama romantis tersebut coba diikuti oleh Midnight Sun.

Mendaur ulang film dengan judul serupa yang dirilis Jepang, 2006 silam, sutradara Scott Speer (Step Up: Revolution, Step Up: All In) coba mengangkat sebuah kisah kasih yang nggak berujung ke level baru.

Aktris handal jebolan Disney Channel, Bella Thorne ditunjuk sebagai “pengerah massa” utamanya. Ia berbagi peran dengan anak legenda film dunia, Arnold Schwarzenegger, Patrick Schwarzenegger yang cukup minim jam terbang. Dengan paket talent yang cukup mixed-up, Midnight Sun diharapkan menjadi referensi drama romantis receh yang segar. Well, ternyata nggak sama sekali!

Soal Xeroderma Pigmentosum

Tersaji ringkas 91 menit, Midnight Sun membuka tirai dengan kehidupan yang fana bagi Katie Price (Bella Thorne). Remaja berusia 17 tahun ini nggak bisa hidup normal layaknya remaja seusianya. Ia didiagnosa mengidap xeroderma pigmentosum. Sebuah kelainan genetik yang memaksa pengidapnya memiliki keterbatasan dalam menerima sinar ultraviolet dari Matahari.

Penyakit yang diderita oleh Katie sangatlah serius. Sekali terpapar sinar ultraviolet, luka bakar yang tercipta di kulit dapat membangunkan sel kanker yang berujung kepada kematian. Sehingga, sejak kecil, Katie harus terus tinggal satu atap dengan sang ayah, Jack Price (Rob Riggie). Ia mendapatkan penanganan spesial dari rumah sakit setempat hingga kamar tidur di rumah dengan fasilitas jendela anti sinar ultraviolet.

Nggak heran sih kalau Katie hanya memiliki satu orang sahabat, Morgan (Quinn Shephard) yang setia main di rumahnya. Keduanya nggak cuma berbagi keluh kesah tentang pelajaran sekolah, tetapi juga soal dunia percintaan. Hidup Katie berubah drastis saat ia bertemu dengan Charlie (Patrick Schwarzenegger), cowok tampan yang selalu ia puja dan dambakan sejak kecil meski hanya dari balik jendela kamarnya. Well, itu pun nggak sengaja!

Momen pertemuan keduanya datang saat Katie ngamen di sebuah stasiun dekat tempat tinggalnya. Charlie, yang kebetulan tengah galau karena urusan sekolah dan status hubungan dengan kekasihnya, menangkap pancaran sinar terang dari Katie. Awkward, pertemuan pertama mereka pun berlangsung singkat lantaran Katie memilih untuk meninggalkan Charlie.  Namun saat pertemuan kedua kalinya, keduanya pun sulit dipisahkan, layaknya Bumi dan Bulan.

Charlie, yang nggak tahu kalau Katie tengah sakit, yakin kalau cewek yang ia kenal ini sebagai jodohnya. Sebaliknya, Katie justru takut jika Charlie hanya kasihan kepadanya saat ia tahu tentang kondisi kesehatan yang kian hari kian memburuk.

Fokus di premis, payah di plot

Layaknya The Fault in Our Stars, Midnight Sun menjadikan sebuah penyakit sebagai topik pembicaraan. Dialog yang dibangun pun terasa menjadi premis yang cukup baik, mengingat penyakit ini termasuk langka (Hanya ada 1 dari 1 juta orang yang mengidap di dunia).

Nggak heran, kesan never giving up on your dreams adalah premis yang cukup kuat dihadirkan oleh Midnight Sun. Bella Throne, cukup mampu memperlihatkan penderitaan yang dirasakan oleh pengidap Xeroderma Pigmentosum pada umumnya, meski beberapa hal terasa berlebihan.

Patut disayangkan, nggak seperti The Notebook atau The Fault in Our Stars, Midnight Sun hadir dengan plot yang sangat lemah dan nggak berkarakter. Parahnya, film ini menanggalkan twist-twist ringan yang biasanya bikin penonton meleleh, demi penyampaian premis utama di ujung. Jumpy sih nggak. Tetapi, ada beberapa adegan yang seharusnya dapat ditampilkan lebih menggigit karena itulah tujuan utama dari sebuah drama romantis.

Jadi, alurnya pun terkesan ringkas, di mana penonton kurang dapat menangkap latar belakang dua karakter utama. Bumbu romantis yang ditabur oleh karakter Thorne dan Schwarzenegger nggak bisa dibilang menjual, termasuk beberapa kissing scene yang terasa maksa.

Meski demikian, Midnight Sun tetap hadir sebagai drama romantis yang menghibur. Setidaknya lewat candaan-candaan ringan serta sisi polos sang karakter utama, Katie Price yang mungkin bisa kamu sandingkan dengan Hazel Grace di The Fault in Our Stars.

So, jika kamu berpikir Midnight Sun pantas mendapatkan rilisan layar lebar, we don’t think so. Cukup nonton di DVD deh!

Summary
Memang lebih baik kamu nonton film ini di DVD atau kalau udah keluar rilisan digital resminya deh. Apalagi kalau pengennya nonton drama-drama receh.
Good
  • Setidaknya mengangkat tema penyakit langka
  • Premisnya oke
Bad
  • Terkesan maksa karena plot payah
  • Nggak ada twist ringan yang biasanya terjadi di film drama yang serius
  • Ceritanya terlalu cepat
  • Perkembangan karakter nggak oke
5
Average

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>