MUSE: Drones World Tour – Review: Efek Memukau Dengan Kualitas Gambar Tak Sebagus Dahulu

User Rating: 8.5

Bukan Muse namanya jika tidak menggelar sebuah konser spektakuler dari berbagai aspek. Hari Kamis, 12 Juli 2018, saya berkesempatan untuk turut ambil bagian menjadi saksi hidup proyek ambisius yang ditayangkan di layar lebar hanya sehari saja serentak di seluruh dunia.

Jika sebelumnya film konser Muse: Live at Rome Olympic Stadium dan Muse: H.A.A.R.P Tour hanya terletak di satu titik saja, kini dalam film konser Muse: Drones World Tour, Muse menggabungkan tiga konser di tempat yang berbeda dari rangkaian konser Drones World Tour yang mengenakan konsep panggung 360 derajat, yaitu: Amsterdam, Milan, dan Berlin.

BEGITU TERKONSEP

Muse terkenal dengan konser yang begitu terkonsep dan megah dari segala aspek: desain panggung, sound yang megah dan aneh-aneh, tata lampu, multimedia serta aksi panggung yang memukau. Mereka seakan mengerti kalau dalam konser itu seharusnya tidak hanya memainkan musik dan aksi panggung saja, tetapi harus ada unsur campuran audio-visual yang juga mendorong keberlangsungan konser yang begitu entertaining.

Dalam konser Muse: Drones World Tour, Muse mengusung desain panggung 360 derajat. Meski bukan band pertama yang mengusung konsep panggung seperti ini, tapi panggung Muse kali ini cukup atraktif serta minimalis, meski kadang terasa sepi dibandingkan dengan film konser Muse sebelumnya, Muse Live at Rome Olympic Stadium ataupun dvd konser lamanya, Muse: H.A.A.R.P Tour; Atau jika dibandingkan dengan panggung 360 derajatnya U2, panggung Muse kali ini serasa kurang megah. Atribut yang begitu menarik dari panggung kali ini adalah bola-bola yang terbang serta pesawat terbang mini sebagai bagian dari konser ini.

Tidak hanya itu, hal yang membuat panggung minimalis ini begitu menarik adalah panggungnya memutar! Kemudian dalam lagu The Globalist, kamu dapat melihat Grand Piano itu turun dari panggung dengan suspensi, atau saat pembukaan dengan lagu Psycho, kamu dapat melihat Matt Bellamy datang dari bawah dengan perlahan; layaknya film konser dvd pada band lain, di mana banyak angle yang lebih dapat ‘depth’-nya dibanding konser biasa meski dengan kualitas Pro-Shoot.

EFEK VIDEO YANG MEMUKAU

Untuk sebuah film konser, efek yang digunakan dalam film ini terasa begitu mewah dan kaya. Kamu serasa menikmati film konser dengan efek-efek yang sering kamu tonton dalam film superhero Marvel, ataupun film-film aksi lainnya.

Kamu begitu dimanjakan dengan berbagai efek visual yang begitu memukau; serasa kamu benar-benar hadir di tengah keramaian penonton dan menyaksikan visual yang selalu membuat konser Muse semakin terasa terkonsep dan memanjakan mata. Tetapi kamu mungkin dapat melihat dengan jelas beberapa transisi yang begitu terasa perpindahan tempat konsernya.

TONE YANG BEGITU ‘DARK

Entah ini satu hal yang baik atau buruk. Di awal, tone yang gelap ini membawa para penonton benar-benar seperti sedang menonton sebuah film layaknya film layar lebar biasa, bukan film konser. Terlebih, penjelasan oleh para personil Muse di awal film mengenai makna album Drones yang berkesinambungan membuat begitu masuk akal untuk mengusuk tone yang dark layaknya film DC, mengingat topik yang dibahas dalam album Drones begitu gelap dan berat.

Meski tone yang dark ini memberi efek sinematik yang lebih mantap, di beberapa bagian tone gelap ini justru membuat film konser terasa tidak kaya akan warna dan tidak se ‘fun’ konser-konser Muse terdahulu. Warna monokrom begitu menonjol, ditambah sedikit warna-warna biru saat efek visual muncul.

KUALITAS VIDEO TIDAK SEBAGUS DAHULU

Ini mungkin yang banyak dipermasalahkan para penggemar MUSE. Meski tidak jelek-jelek banget—dan terbilang masih keren—tetapi tidak sebanding jika dibandingkan dengan konser Muse: Live at Rome Olympic Stadium yang menggemborkan teknologi 4K pertama dalam film konser musik di sinema. Meski diganti dengan efek visual yang keren dan memanjakan mata, namun kejernihan kualitas 4K memang tak bisa bohong.

SETLIST YANG TERASA KURANG DINAMIKA

Patut diakui ada beberapa lagu yang jarang sekali dibawakan seperti Take a Bow, The Globalist, memberikan kejutan yang membuat film konser ini memang layak ditunggu. Di satu sisi, lagu hits seperti Plug In Baby mulai hilang dipangkas, beserta lagu-lagu seperti Stockholm Syndrome.

Namun, pemilihan susunan lagunya terasa kurang dinamika, tidak seperti pendahulunya yang begitu rapih memainkan emosi para penontonnya. Kali ini, mereka seperti terus menggebu, kemudian mengubah mood menjadi lagu pelan meski hanya satu lagu, kemudian kembali kencang, dan kembali pelan lagi. Tetapi setidaknya, Muse: Drones World Tour ini ditutup dengan lagu Knight of Cydonia yang terasa meriah, tidak seperti Live at Rome Olympic Stadium yang menutupnya dengan lagu Starlight.

Meski ini bukan film produksi Marvel yang terkenal dengan post-credit scene-nya, tetapi dalam film konser ini ada baiknya kamu menonton post-credit scene-nya juga; karena Muse mengadakan sedikit pengumuman serta klip pendek dari single terbarunya mendatang: Something Human, setelah sebelumnya meluncurkan single Dig Down dan Thought Contagion.

Pendistribusian dan pemasarannya pun terasa sukses, hingga tiga tempat di Indonesia menambahkan jam tayangnya karena begitu penuh penonton; Salah satunya CGV Grand Indonesia, Cinemaxx Kalibata City dan Cinemaxx Istana Plaza Bandung. Dilansir dari komentar Instagram Feat Pictures, film ini akan kembali tayang semalam pada awal Agustus nanti.

Summary
Untuk Muse: Drones World Tour ini, meski dari beberapa sisi tidak semewah film konser terdahulu, tetapi tetap saja, Muse beserta tim kreatif dan tim produksi di belakang film ini wajib diacungi jempol. Begitu kamu keluar dari studio, kamu dapat merasakan sesuatu yang cocok dengan satu kata penutup yang dapat mengakhiri tulisan ini dengan indah dan megah: Epik. Ternyata ada satu ucapan yang tak bohong dari sang poster iklan: “The Greatest Show on Earth” – Q Magazine.
Good
  • Terkonsep dengan bagus
  • Efek video yang memukau
  • Tone yang dark
Bad
  • Kualitas video nggak sebagus film konser sebelumnya
  • Setlist yang kurang dinamis
8.5
Great
Seorang mahasiswa yang hobinya kuliah sekaligus figuran di band @nextgentheband & @valdivieso_band | Gemar memotret di akun @ishoothem dan menulis gan

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>