Papillon – Review : Remake Kelebihan Dosis

User Rating: 7.5

Pencarian sebuah kebebasan kerap menjadi tema film. Sebut saja salah satu judul yang dianggap sebagai salah satu film terbaik di dunia, The Shawshank Redemption, di mana tagline harapan selalu digaungkan, “Hope is a good thing, maybe the best of things, and no good think ever dies.” Namun sejauh apakah sebuah harapan untuk kembali menghirup udara bebas mampu dieksploitasi dalam film berlatar belakang sama; Papillon?

Henri Charriere adalah seorang penjahat karismatik di Perancis. Karakter yang diperankan Charlie Hunnam ini lihai banget ngebobol brankas, menjadikan dirinya mempunyai reputasi ternama di kalangan dunia hitam. Sayangnya, semua nggak berjalan lancar. Baru saja dia menolak ajakan kekasihnya, Nenette ( Eve Hewson) untuk hidup di kampung aja sambil nyari kerja yang bener, paginya Henri udah digrebek polisi dan dituduh melakukan pembunuhan seorang germo.

Hukuman bagi para pembunuh dan pidana-pidana berat pada waktu itu di Perancis cukup menyakitkan. Mereka dibuang dari negaranya dan ditempatkan sebagai pekerja-pekerja di koloni. Dalam waktu itu, Henri, yang selanjutnya kita panggil dengan Papillon, dikirim bersama dengan ratusan tahanan lainnya ke Guyana Perancis, sebuah titik kecil di Amerika Selatan. Belum juga sampai, Papillon udah berpikir pulang dengan bantuan dari Louis Dega yang diperankan oleh Rami Malek.

Dega adalah seorang jutawan yang dipenjara karena memalsukan surat-surat. Nggak heran posisinya di masyarakat sebagai elitis dan intelektual membuatnya tetap arogan di penjara. Sampai ada satu napi yang mati di depan matanya demi uang, Dega pun sadar kalau butuh perlindungan sehingga ia menerima tawaran Papillon untuk menjaganya. Gantinya, ia memberikan uang yang diperlukan Papillon untuk kabur dari Guyana.

Cerita perjuangan mereka di penjara pun dimulai, dan kerap menumpahkan darah karena incaran sesama napi dan perlakuan sipir-sipir di sana. Dari situlah Dega sadar dia juga harus ikutan kabur karena nggak bakal bisa bertahan sendiri. Mampukah mereka berdua menemukan kebebasan dengan harapan yang semakin terkikis dari hari ke hari?

Remake Dobel Porsi

Sejatinya, versi 2017 ini adalah film remake berjudul sama yang dirilis di 1973, selang hanya satu tahun setelah Papillon yang sebenarnya meninggal. Ya, ini adalah kisah nyata dari pria yang berhasil menceritakan seluruh kisahnya di penjara hingga memperoleh kebebasannya di Venezuela. Seperti namanya, Papillon yang berarti kupu-kupu benar-benar sanggup terbang jauh. Sayangnya, versi modern ini lebih terlihat brutalnya dibandingkan ceritanya.

Secara visual, sutradara Michael Noer sangat jelas memberikan gambaran seperti apa kehidupan di penjara dan kerja paksa di camp-nya. Sayangnya, semua terlihat berlebihan dibandingkan dengan apa yang pernah ditampilkan di film pertamanya. Terutama di bagian perkelahian yang ditampilkan lebih sadis dari apa yang bisa dibayangkan. Belum lagi bumbu-bumbu gross yang diberikan seperti detil bagaimana Dega menyimpan semua uang di tubuhnya. Nggak heran kalau banyak sekali adegan yang dipotong dan dimodifikasi dari film yang harusnya dikasih rating R (Restricted) ini.

Tapi ya itu, sepertinya semua hanya jadi pemanis visual tanpa meninggalkan kesan lebih di mata penonton. Mungkin buat mereka yang pernah melihat versi klasiknya, pasti bakal teringat penjelasan lokasi pulau-pulau yang sebenarnya saling berdekatan, detail-detail bangunannya, kondisi rawa-rawa yang becek, lembab dan hujan sampai ke adegan buayanya. Bagi saya atmosfir itulah yang malah hilang akibat terlalu berkonsentrasi pada visualnya. Seperti seorang body builder yang terlalu memaksa membentuk tubuhnya dengan steroid hingga lupa dengan prinsip-prinsip olahraganya.

Untungnya, hal tersebut pun tidak menjadikan film ini buruk sama sekali. Visual yang sudah saya kritik pun bisa jadi nilai plus di mata orang-orang yang memang mendambakan penggambaran lebih raw. Namun yang jadi penyelamat di sini adalah kesungguhan akting Hunnam yang rela melepaskan berat badannya dan dikurung dalam sel beneran demi adegan isolasi yang memukau.

Ekspresi dan perasaan yang hampir gila sungguh jelas terlihat. Terlebih di sini sebagai partner, dia dan Malek pun mampu menggambarkan dua orang yang sukses membangun hubungan. Dari sekedar bisnis untuk keuntungan masing-masing hingga benar-benar menjadi sahabat.

Sekuat apakah bentuk harapan Papillon yang mampu membuat dia melewati semua ini? Kalau jantungmu kuat, versi 2017 ini bisa cukup sangat menghibur.

Summary
Berbeda dengan film pertamanya, Papillon versi baru ini terlalu berfokus dengan adegan-adegan yang terbilang ekstrim. Alhasil, banyak adegan yang dihilangkan demi bisa lulus sensor di negara kita ini, Joyfriends. Meski begitu, akting Charlie Hunnam dan chemistry-nya dengan Rami Malek udah lebih dari cukup untuk membuatmu bertahan nonton film ini sampai habis.
Good
  • Akting Hunnam yang totalitas baik mental maupun fisik patut diapresiasi
  • Visual di darat dan laut memanjakan mata
Bad
  • Terlalu ekstrim, mungkin banyak yang nggak tahan meski udah disensor banyak di Indonesia
  • Durasi yang terlalu panjang rentan bikin orang nggak sabar
7.5
Good
Written by
Being adult with the spirit of Samurai X and Neon Genesis Evangelion, this man now decided to make a team of superhero like Avengers. Moviegoers and you can follow his visual track on instagram.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>