Peter Rabbit – Review : Hewan Jahil Berhati Pahlawan

User Rating: 6.5
Si Peter ini bikin kita berimajinasi kalau pelihara kelinci, eh, bisa ngomong. (doc. Sony Pictures)

Peter Rabbit merupakan salah satu film 3D live action/animasi petualangan komedi berbasis CGI, yang disutradarai dan diproduseri langsung oleh Will Gluck dan juga Zareh Nalbandian. Kisah ini diadaptasi dari cerita Peter Rabbit milik Beatrix Potter. Inilah yang menjadi alasan mengapa Will Gluck pada akhirnya membuatkan film berjudul Peter Rabbit.

“Ketika aku kecil, Ayahku menceritakan buku Peter Rabbit, jadi aku merasa punya ikatan dengan dia. Dan ketika aku punya anak, aku juga menceritakan mereka tentangnya,” kata Gluck.

Meskipun sempat menuai banyak kontra, tapi pada akhirnya film ini dapat dinikmati selayaknya bagaimana menonton film animasi komedi yang dikombinasikan kehidupan manusia. Layaknya Alvin and The Chipmunk, bedanya ini kelinci.

Peter, si jail nan cerdik (doc. Sony Pictures)

Berawal gara-gara jantung!

Basically, film ini menceritakan tentang keluarga Peter (James Cordon) yang tadinya bergerilya dapat memakan makanan yang ada di lahannya, namun entah datang dari mana, ada manusia yang singgah di pedesaan itu. Ialah kakek McGregor (Sam Neill), membeli sepetak tanah yang dibangun rumah dengan taman lengkap dengan buah-buahan serta sayuran. Si Kakek ini memiliki standar emosi yang tinggi.

Orang waras kalau lagi di warung nasi pecel terus di ganggu kucing pasti risih kan, tapi paling cuma mengngusirnya secara halus. Nah kalau kakek McGregor ini jiwanya terlatih “militer” banget, setiap ada yang merusak lahannya dia habisi. Literally dia pembunuh hewan berdarah dingin pada masanya dan korbannya adalah ayahnya Peter.

Peter tinggal dengan para saudara dan saudarinya, yakni Flopsy (Margot Robbie), Mopsy (Elizabeth Debicki) dan Cotton-tail (Daisy Ridley), mereka kembar tiga, dan juga Benjamin Bunny (Matt Lucas) akhirnya diadopsi oleh Bea (Rose Bryne). Kehidupan begitu tenang dan kembali bergerilya menyambut hari kesejahteraan, ketika mengetahui kakek McGregor meninggal beberapa detik setelah bertatap muka dengan Peter. Entah ada guna-guna apa di mata Peter sampai McGregor meninggal. Iya, padahal serangan jantung.

Namun kebahagiaan mereka berlalu sangat cepat sekali, entahlah kenapa kebahagiaan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan sedikitpun kata perpisahan. Ialah Thomas McGregor (Domhnall Gleeson), ponakan Kakek McGregor yang sama sekali nggak akrab dan nggak pernah tahu kalau mereka berdua adalah satu keluarga. Dia datang untuk menjenguk tanah warisan kakek McGregor, lalu akhirnya menetap tinggal di pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Peter Rabbit (James Corden) in Columbia Pictures’ PETER RABBIT.

Semakin geram lahan Peter dan geng diambil alih oleh Thomas McGregor, dengan kekuatan super serta kelicikan Peter akhirnya terjadilah perang yang menyelakai Thomas. Dan baru kali ini nonton perkelahian antara umat manusia dan hewan bisa segembira ini hati saya.

Memang plot yang disajikan ringan banget dan terkesan klise, seperti dongeng animasi pada umumnya, yang udah ketebak bakal kayak gimana ending-nya. Dibilang bisa ditonton untuk anak kecil, masih agak nggak tega karena ada adegan dewasanya, dan beberapa jokes yang disajikan, saya kira masih sulit dicerna untuk usia anak di bawah 13 tahun.

(L to R) Mopsy, Flopsy, Peter Rabbit (James Corden), Benjamin and Cottontail in Columbia Pictures’ PETER RABBIT.

Terlalu sederhana

Ceritanya terlalu sederhana, tapi karena dibantu dengan esensi humor yang mencelakai orang, dan saya suka bahagia melihat orang menderita, begitupun juga orang-orang yang ada di bioskop saat menonton film ini, jadi ya cukup menghibur selama dua jam duduk di dalam bioskop sewaktu screening di Kota Kasablanka beberapa waktu lalu.

Ada satu hal yang bikin gengges, yaitu scene di mana saya ingin berkata-kata. Scoring-nya astaga, terbesit di pikiran “kenapa soundtrack-nya ini sih, kan ada lagu lain”, pikiran kaya gitu masih jadi momok penting bagi diri saya sendiri. Entahlah, mungkin karena saya nggak suka lagunya, atau mungkin ada yang merasa gengges juga. Tapi beneran deh, kalo bisa soundtrack-nya diganti, asli mending ganti aja. Kesannya yang ngedit jadi kayak cuma ngerjain buat tugas kuliah aja gitu, nggak mikirin penontonnya bakal bereaksi gimana.

Bridging pas ngenalin siapa itu Thomas McGregor juga dadakan banget, rasanya tuh kayak lagi makan es krim rasa strawberry terus disuruh makan ayam geprek. Nggak berkesinambungan dengan scene sebelumnya. Terlalu tiba-tiba dan kaget aja gitu kenapa harus ada dia dengan backsound yang bawaannya pengen joget dalem bioskop.

But overall kalau buat refreshing, ini seru sih. Karena ringan dan ketawa terus tiap nonton. Sesedih-sedihnya plot tetep aja ketawa karena acting-nya Peter yang rada imbisil itu.

Summary
Overall bagus, tapi kalau emang udah nggak ada film yang mau di tonton ya nonton ini aja. Seru kok.
Good
  • Humor nya receh banget, seneng liatnya
  • Menghibur hati yang lara
  • Ada pesan moral dari cerita
Bad
  • Scoringnya gengges
  • Plotnya ringan banget, klise
  • Ada scene yang nggak semestinya ditampilkan
6.5
Fair
Written by
die hard fans of unicorn, sushi, flamingo and rose gold thing.

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>