IT – Review : Remake Horror yang Nggak Mengecewakan

User Rating: 9
Yuk lah nonton film IT, lagi hype banget nih guys!

Setelah lebih dari satu dasawarsa menghilang, cerita adaptasi novel laris karya Stephen King, IT kembali datang untuk menakuti penonton masa kini di bioskop. Namun apakah kali ini film remake yang tayang mulai 8 September di Indonesia melakukan tugasnya dengan benar?

Well, cerita klasik ini tentang sekumpulan anak-anak cupu yang tergabung dalam “Klub Pecundang”, di mana mereka menghadapi teror makhluk aneh berbentuk badut di kota kecil Derry, Maine mendapat perhatian yang cukup detil oleh sutradara Andry Muschietti.

Dengan sabar dia secara runtut menceritakan apa aja masalah yang dihadapi masing-masing dari anak di klub tersebut, lengkap dengan ketakutan pribadi mereka. Namun dalam lingkup luas, latar belakang penduduk dan sikap orang dewasa di kota tersebut juga mendapat porsi yang walau sedikit mampu menjelaskan kenapa selalu hadir masalah yang nggak dapat diselesaikan.

Saya cukup suka bagian-bagian di mana sang sutradara, Andres Muschietti, mampu mengambil sisi konyol anak-anak berikut gurauan mereka. Walau di beberapa sisi ada beberapa hal tersebut terdengar dewasa, tapi percakapan itu sesuai dengan ruang lingkup yang anak-anak pahami.

Bagaimana mereka berinteraksi, komedi romantis sampai adegan perkelahian, semua diceritakan dengan sangat menyenangkan. Sepertinya hampir sebagian besar dari durasi film yang panjang ini lebih mengekspolari masing-masing dari ketakutan per anak dan membuat hampir semua karakter mereka kuat.

Hadirnya anggota tambahan, Beverly, yang notabene satu-satunya cewek di kelompok tersebut, juga menambah seru jalan cerita. Bagaimana lingkungan keluarganya, kepribadiannya, dan trik liciknya menhadapi masalah juga harus diacungi jempol.

Di sini dia datang nggak cuma sebagai penyeimbang agar ceritanya berjalan romantis dengan cinta monyet ala anak-anak masa kini, tetapi dia juga mendapat porsinya dengan pas. The rest of it kamu bisa dapatkan dalam cerita di filmnya nanti.

Untuk soal menakut-nakuti, film ini memang menghadirkan jumpscare tapi nggak lebay dan menjadi eksploitasi utama. Saya suka di mana bagian-bagian horrornya lebih mengeksploitasi suasana seram yang pastinya ditakuti oleh anak-anak. Jumpscare yang nggak murahan dan badut Pennywise yang cukup mengerikan.

In the end…

Biasanya remake film horror datang dengan cukup mengecewakan, tapi IT mampu membungkam stigma negatif itu dengan karya yang patut diacungi jempol. Kudos untuk Muschietti dan semua aktor yang terlibat di dalamnya, mereka mampu melakukan semua tugasnya dengan nilai hampir sempurna.

Walau ini film remake jaman sekarang, tapi kamu masih akan dapat merasakan aura 1980-an yang kental dan itu nggak cuma datang dari warnanya, tapi juga dari semua elemen-elemen yang bisa kamu temukan di dalamnya.

Oh ya kabar baiknya adalah ini akan menjadi adaptasi novel yang cukup adil, karena semua nggak akan berhenti hanya di sini. Jadi kamu bakal bisa melihat semuanya secara utuh! Sekuelnya mungkin?

Summary
Remake film horor yang melakukan tugasnya dengan benar dan tidak mengecewakan. Sangat suka mendengar kabar baik bila cerita penuh ini akan dibagi menjadi dua bagian.
Good
  • Adaptasi novel yang pas
  • Casting yang baik walau semua masih anak-anak
  • Horor yang tidak murahan
  • Durasi yang lama tetapi tidak bosan
Bad
  • Masih ada beberapa misteri yang belum terungkap, mungkin sengaja disimpan untuk chapter 2
9
Amazing
Written by
Mulai mengenal pop culture dari manga Dragon Ball dan Doraemon, hingga dihancurkan secara mental dengan Evangelion. Sekarang mencoba bermain secara lebih kreatif di Joypixel.id.

Is the Story Interesting?

2 0

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.