The Girl in the Spider’s Web – Review: Buah Perombakan Cast Setelah 7 Tahun!

User Rating: 7.5

Setelah The Girl with the Dragon Tattoo rilis dalam bentuk film di tahun 2011, akhirnya kisahnya berlanjut di tahun ini, Joyfriends. Ya, sekuel yang berjudul The Girl In the Spider’s Web ini resmi rilis tanggal 9 November kemarin. Berselang tujuh tahun, film ini merombak total para pemerannya, di mana peran Lisbeth yang sebelumnya diperankan oleh Rooney Mara kali ini dilanjutin oleh Claire Foy, dara yang pernah berperan sebagai Queen Elizabeth II di serial Netflix The Crown. Begitu pun Daniel Craig yang cabut dari perannya sebagai Mikael Blomkvist, dan digantiin sama aktor asal Islandia, Sverrir Gudnason.

Saya bakal cerita gimana experience yang saya dapet abis nonton film ini. Tapi sebelumnya, saya mau ngasih tahu; nggak bosen-bosennya buat ngasih tahu kali review ini saya sebuat se-mini spoiler mungkin. Jadi nggak pake ba be bo lagi, langsung aja kita bahas abis film yang diadaptasi dari novel karya David Lagercrantz ini!

INTENS. PAKE BANGET.

Pertama, saya mau cerita dikit soal plot dari film ini. Jadi dalam The Girl in the Spider’s Web, selain bertugas sebagai ‘eksekutor’ buat para lelaki yang suka nyiksa perempuan, Lisbeth Salander (Claire Foy) kali ini dapet misi yang untuk nganterin sebuah program peluncur senjata yang bernama Firefall ke Frans Blader (Stephen Merchant), yang berniat buat ngehapus program tersebut, once and for all. Namun, ketika Lisbeth udah berhasil ngehack itu program, ia diserang orang sebuah komplotan nggak dikenal yang ternyata juga ngincer program Firefall tersebut. Nah, dengan bantuan dari Mikael Blomkvist (Sverrir Gudnason), Lisbeth akhirnya harus berhadapan dengan komplotan tersebut, yang ternyata berkaitan dengan masa lalu dari Lisbeth itu sendiri.

Saya senang sama tingkat intensitas yang dikasih sama film ini. Bener-bener bikin sport jantung di setiap action yang disuguhin. Durasi 1 jam 58 menit di film ini berasa seperti berhari-hari. Itu karena intensitas ketegangan yang diracik sama sutradara Fede Alvarez ini bikin saya kepo dengan apa yang bakal terjadi abis satu konflik dan seterusnya. Wah, kalau kamu demen sama film-film kriminal dengan intensitas yang tinggi, kamu kudu nonton film ini sih.

Baca juga: The Grinch – Review : Animasi yang Cukup Menyenangkan

SIBLING RIVALRY TERBAIK?

Nah, saya mau cerita tentang bagaimana film ini bisa saya bilang jadi salah satu kisah sibling rivalry terbaik saat ini. Saya lupa kasih tahu kalau masa lalu yang datang ke misi Lisbeth ini nggak lain adalah adiknya sendiri yakni Camilla Salander yang diperankan oleh Sylvia Hoeks. Saya malah suka sama karakter macem Camilla ini. Gimana dinginnya karakter Camilla digambarin, pembawaannya di setiap scene, justru bikin saya sampai gregetan sendiri karena aktingnya. Akan tetapi, kalau mau dibandingin sama Thor dan Loki, John dan Fredo Corleone, dll, masih jauhlah levelnya. Namun penggarapan konflik antara dua saudara ini patut diacungi jempol.

Baca juga: Tengkorak – Review : Suguhan Esoterisme Berbalut Kearifan Lokal

THE PACE IS TOO SLOW.

Walaupun The Girl in the Spider’s Web dipenuhi sama konflik yang bagus, banyak plot twist, dan juga intensitas yang apik, namun ternyata ada masalah yang nampak di film ini. Menurut saya, pace-nya terlalu lambat dari konflik satu ke konflik yang lainnya. Memang sih, pace yang lambat bikin intensitas yang ditampilin di film ini jadi bikin kita pengen tahu apa yang bakal kejadian sebelumnya, namun buat sebagian orang ini bakal jadi hal yang ngebosenin.

Selain itu ada beberapa potensi konflik yang bisa dibilang kurang dieksekusi dengan baik, seperti misalnya potensi konflik antara Lisbeth sama Edwin Needham (LaKeith Stanfield). Abis itu, penyelesaian konfliknya bisa dibilang agak kentang dan nanggung sih. Kayak ‘lah, gitu doang?’ begitu.

Summary
The Girl In the Spider’s Web bisa bikin kamu tegang sepanjang film. Saya akui, konflik yang disajikan di film ini dieksekusi secara intens dan apik. Namun, apabila pace-nya nggak dibikin terlalu lama, film ini bisa nyusul kesuksesan predecessornya, The Girl with the Dragon Tattoo.
Good
  • Aksi Sylvia Hoeks yang bikin karakter Camilla super savage.
  • Intensitas konflik yang apik.
  • Banyak plot twist yang nggak terduga.
Bad
  • Pace yang terlalu lambat.
  • Ada potensi konflik yang nggak dikembangkan.
  • Klimaksnya kentang.
7.5
Good
Written by
An electronic music enthusiast. An avid WWE observer. An amateur photographer. You can check his photo journal on his Instagram.

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>