The Killing of a Sacred Deer – Review : Absolutely Freak Show of 2017

User Rating: 8.7
Ketika seorang yang percaya banget ama sains dihadapkan ama sesuatu yang mistis, masihkah dia bisa melawan? Foto : Element Pictures

Kamu bakal dibikin ternganga dan mungkin bakal berkata “gila” buat film The Killing of a Sacred Deer, film besutan sutradara asal Yunani, Yorgos Lanthimos. Film ini bener-bener freak dan kamu akan dibawa ke mana emosinya, selama film ini berputar di layar lebar.

“Ini adalah satu-satunya cara yang bisa aku pikirkan yang paling mendekati keadilan,” kira-kira begitulah ucapan Martin (Barry Keoghan) sambil mengunyah lahap spaghettinya dan menatap Anna (Nicole Kidman), seorang ibu yang menanyakan kenapa kedua anaknya harus mendapat penyakit aneh yakni kelumpuhan secara tiba-tiba bak dapet ‘kiriman santet’ di film ini. Absurd memang kayak film misteri Indonesia jaman dulu dan nggak masuk logika, terutama buat penonton Eropa, tapi itulah cerita yang ditawarkan film ini.

The Killing of a Sacred Deer adalah kasus misteri terburuk yang bisa datang ke sebuah keluarga bahagia nyaris tanpa cela. Perkenalkan, Steven Murphy (diperankan Colin Farrell), seorang dokter bedah jantung yang kaya, ternama sampai jadi pembicara di forum-forum dokter, punya rumah mewah di lingkungan bagus dengan dua anak yang cakep-cakep, Kim (Raffey Cassidy) dan Bob (Sunny Suljic).

Perkenalkan satu lagi Martin, seorang remaja cowok 16 tahun dengan tatapan sering kosong, tinggal di lingkungan yang nggak bagus-bagus banget, dan hidup dengan single mother yang ternyata cukup freak. Keduanya bertemu di sebuah kedai dan berbicang-bincang yang kayaknya udah pada akrab banget. Steven pun ngasih kado jam tangan mahal kepada Martin dan peluk-pelukan sayang terjadi. Itulah pembuka film ini di 15 menit pertama yang udah absurd banget.

Hubungan antara keduanya memang tidak lazim dan itulah yang bakal terjadi sepanjang film ini. Foto : Element Pictures

Senggol-senggolan penonton sambil bisik-bisik pun dimulai dengan beragam spekulasinya masing-masing tentang arah film ini. Mulai dari dugaan yang paling mesum sampai ke spekulasi si Martin bakal jadi kelinci percobaannya si Steven. Waduh!

Tapi tenang, ceritanya nggak serumit itu, karena The Killing of a Sacred Deer sejatinya cuma adaptasi modern dari mitologi Yunani berjudul “Ifigeneia dari Aulis” karya dramawan Euripides. Kisah tentang hukuman dewi Artemis kepada raja Agamemnon, karena Agamemnon telah membunuh seekor rusa di hutan suci ( atau rusa suci, sama ajalah) dan menyombongkan diri sebagai pemburu yang lebih hebat dari Artemis. Ketika hendak menyerang Troya, armada Agamemnon terperangkap di Aulis karena Artemis menghentikan angin (atau mengirimkan angin ribut) di sana. Kalkhas sang peramal kemudian memberitahu bahwa satu-satunya cara menenangkan Artemis adalah dengan mengurbankan Ifigeneia, putrinya. Dilema pun terjadi antara tujuan bangsa dan kepentingan keluarga.

The Killing of a Sacred Deer adalah “Ifilgeneia dari Aulis” dalam kehidupan Steven, di mana dosa masa lalu mengejarnya. Sayangnya dia adalah seorang dokter di masa modern jaman sekarang di mana kisah tentang dewa-dewi dan segala magisnya bagai terdengar sebagai kisah pengantar tidur si Bob.

Attempt of engagement terbaik

Seperti yang udah dibilang di awal, 15 menit pertama film ini bakal ngasih kesan kalau film ini bakal absurd banget. Ya, bener, treatment Lanthimos bakal bikin penonton nggak nyaman dari menit pertama. Coba bayangkan, opening scene udah dikasih adegan pembedahan jantung yang masih berdetak, berdarah dan dikorek-korek. Berlanjut dialog yang monolog dan kaku banget ala-ala nonton teater dengan bahasan nggak umum kayak gimana tali jam yang bagus dan menstruasi pertama.

via GIPHY

Hebatnya kamu akan terbiasa dengan semua keanehan itu selama 2 jam lebih walau perasaanmu dibuat campur aduk karena alur yang tertata dengan rapi. Apalagi penokohannya fokus dengan sumber masalah ada di Martin. Asiknya point of view dari empat karakter lainnya, si dokter, Anna, Kim dan bob tetap terjaga.

Feel so Classic

Satu lagi yang cukup menyenangkan dari The Killing of a Sacred Deer adalah visual dan musikalitas yang ditampilkan. Pemilihan angle kamera yang asik dan ngalir banget serasa kamu nonton film horor era 70 – 80’an macem The Shining atau The Exorcist. Semuanya dibalut dengan backsound orkestra yang beneran nyiksa dan parah banget sampai bikin beberapa penonton kejang-kejang dan ketakutan sebab nempatin musiknya di adegan-adegan yang bikin kita bayangin yang nggak-nggak. Poinnya adalah feels ketakutan murni yang dihadirkan melalui visual dan musik yang saling bersinergi satu sama lain.

via GIPHY

Oh ya, satu hal yang perlu kamu perhatikan adalah jangan pernah mencari jawaban dari 5W1H di film ini semua bakal menelantarkan kita dalam fantasi pikiran. Just enjoy the experience and feel the fear itself

 

Summary
Film ini memang bener-bener bikin mind blowing kamu. Bukan soal hantu atau orang kerasukan, tapi bener-bener ada kesan horor yang mungkin nggak kamu bayangkan sebelumnya di The Killing of a Sacred Deer ini.
Good
  • Nostalgia horor era 80'an. Saatnya nostalgia
  • Akting Barry Keoghan sebagai Martin yang stunning
  • Membuat rasa takut tanpa jumpscare. Langka di horor jaman now
Bad
  • Background musik memang memperkuat atmosif horor tapi di beberapa bagian cukup memekakkan telinga
  • Film yang nggak bakal cocok buat semua orang
  • Terlalu banyak unsur horor jadul yang dimainkan, jatuhnya nothing spesial just remake
8.7
Great
Written by
"Witness me!" - Mad Max : Fury Foad (2015) is his inspiration for life. Grow with Japanese pop culture and finally decided to make a team of superhero. Follow his magnificent (odd) visual track on his instagram.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>