The Nightshifter – Review: Masih Mau Adu Domba?

User Rating: 7

Buat kamu yang familiar dengan serial lawas Ghost Whisperer yang dibintangi oleh Jennifer Love Hewitt, bisa dibilang film The Nightshifter hadir dengan kemasan yang kurang lebih hampir sama dengan serial besutan ABC Studios tersebut. Film karya Dennison Ramalho ini sejatinya udah rilis di Brazil dari tahun lalu, hingga review ini ditulis, tercatat film ini sukses masuk nominasi dalam beberapa festival film bergengsi, di antaranya Galacticat, Mostra de Cinema Fantàstic i de Terror de Ponent 2019, dan juga Sitges – Catalonian International Film Festival 2018.

Nah, The Nightshifter sendiri bakalan ikut meramaikan bursa film horor internasional di Indonesia mulai 2 Oktober nanti. Tentunya nggak ada salahnya buat saya untuk spill the tea mengenai film ini, agar kamu semua tergugah buat nonton. Tapi, seperti biasa layaknya review JoyPixel pada umumnya, saya nggak henti-hentinya ngingetin kalo review ini mungkin mengandung mini spoiler. Kagak usah pake lama, kita langsung bahas film ini ampe akar-akarnya!

Pace-nya Lambat, Tapi Efektif.

Image result for the nightshifter trailer

Jadi, film dengan judul asli Morto Nao Fala ini bercerita tentang seorang petugas koroner yang bernama Stenio (Daniel de Oliviera) yang setiap malam selalu aja dapet tugas buat otopsi. Saking seringnya, doi jadi punya kemampuan buat ngobrol sama setiap jenazah yang doi tanganin. Pekerjaannya sebagai petugas koroner ternyata bikin polemik sendiri dengan keluarganya, terutama ngefek sama hubungan doi dengan istrinya, Odete (Fabiula Nascimento).

Nah, usut punya usut, ketika Stenio lagi ‘ngobrol’ sama jenazah yang doi tanganin, ternyata ia menemukan fakta bahwa istrinya selingkuh sama pemilik bar langganannya yang bernama Jaime (Marco Ricca). Ngidelah si Stenio ini buat ngejebak Jaime dengan mengadu domba doi dengan salah satu geng kriminal di Brazil, dengan ngasih info yang didapet dari salah satu jenazah yang doi tanganin bahwa Jaime-lah yang mengkhianati geng tersebut. Siasat adu domba ini nggak disadarin membuat hidup Stenio dan keluarganya dalam bahaya dengan teror-teror yang datang. Intinya karmanya cepet dah.

Film ini saya akui memang tergolong punya pace yang lambat, namun ternyata sang sutradara, Dennison Ramalho dapat manfaatin pace-nya menjadi seefektif mungkin. Hasilnya? Sensasi menegangkan dari film ini berasa banget mulai dari inciting incidents hingga akhir film. Selain itu, pace dari film ini juga diayun dengan sangat apik sehingga tanpa jumpscare yang banyak pun The Nightshifter bisa membuat suasana yang nggak kalah mencekam layaknya film horor pada umumnya.

Unsur Psikologis yang Kental.

Image result for the nightshifter trailer

Ngeliat kenyataan bahwa Stenio bisa ‘ngobrol’ sama jenazah, membuat The Nightshifter saya akui punya unsur psikologis yang kental banget. Buktinya, akting dari Daniel de Oliviera di film ini sukses meyakini penonton bahwa beban psikologis yang dialami oleh Stenio tuh banyak banget, mulai dari rumah tangganya yang carut marut, hingga karma yang harus doi hadapin karena praktek adu domba yang doi lakukan. Selain itu, emosi yang dimainkan para pemainnya juga bikin kita ikut was-was soal teror apa lagi yang bakal dihadapi sama si Stenio ini. Istilahnya dia yang dapet karma, kita yang uring-uringan gitu.

Plot-nya Questionable.

Kekurangan yang bisa saya notice dari The Nightshifter adalah plotnya yang cenderung mencla-mencle, sehingga bikin sebagian ceritanya jadi questionable. Terlebih ketika lagi klimaks-klimaksnya. Mulai dari kenapa tulang belakang yang ilang di kamar jenazah tempat Stenio bekerja bisa nyampe ke kadonya Edson hingga detil kecil kayak kenapa ada scene pengusiran setan padahal mah nggak kepake juga. Selain itu peran Lara (Bianca Comparato) selama film ini berjalan terlihat nggak terlalu convincing sebagai sidekick-nya si Stenio, malah lebih terlihat sebagai nanny-nya Edson dan Cica. In conclusion, banyak banget masalah plot yang harusnya bisa lebih dikembangin lagi sama Dennison Ramalho agar cerita The Nightshifter bisa lebih greget seramnya.

Summary
The Nightshifter bisa jadi pengalaman baru buat kamu untuk merasakan bumbu-bumbu baru dari film horor, akan tetapi jangan terlalu bergantung pada alur plot-nya berjalan karena film ini cenderung kayak kutu loncat.
Good
  • Pace yang efektif
  • Akting tiap pemain yang rata-rata convincing semua
  • Unsur psikologisnya megang banget
Bad
  • Plot-nya terlalu loncat loncat jadinya ninggalin banyak pertanyaan
  • Peran sidekick-nya kurang kuat
7
Good
Written by
An electronic music enthusiast. An avid pro-wrestling observer. An amateur photographer. You can check his photo journal on his Instagram.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>