The Possession of Hannah Grace – Review: Clickbait!

User Rating: 3

Menjelang akhir tahun, Sony Pictures bekerja sama dengan Screen Gems kembali merilis film horor terbarunya, The Possession of Hannah Grace. Lewat tangan seorang Diederik van Rooijen, film ini diharapkan bisa menjadi suguhan horor untuk menutup tahun 2018 ini. Kalau cuma lihat judul, mungkin orang bakal ngira film ini merupakan sekuel The Possession yang rilis di tahun 2012 lalu, tapi ternyata film ini punya cerita yang jauh berbeda dari film karya sutradara Ole Bordenal tersebut.

Sebelum saya membahas lebih jauh mengenai film yang dibintangi oleh Shay Mitchell (Pretty Little Liars) ini, saya berkali-kali mau ngasih tahu bahwa review ini mengandung mini spoiler, jadi kalau kamu penasaran sama filmnya tapi juga mau tahu gimana pendapat saya soal film ini, take it with your own risk.

Baca juga: The Witch in the Window – Review: Mencekam dan Menggemaskan!

PACE JUMPSCARE & JOKES YANG LUMAYAN MUMPUNI

Jadi, film ini bercerita tentang seorang mantan polisi bernama Megan Reed (Shay Mitchell) yang baru aja diterima jadi penjaga kamar mayat berkat bantuan dari temannya, Lisa Roberts (Stana Katic). Satu waktu ia menerima sebuah mayat dari seorang EMT bernama Randy (Nick Thune) yang teridentifikasi sebagai Hannah Grace (Kirby Johnson). Namun sejak kehadiran mayat Hannah Grace di kamar mayat tersebut, banyak banget kejadian aneh yang terjadi dan juga ternyata Hannah Grace ‘tidak benar-benar mati’.

Positifnya dari film yang disutradarai oleh Diederik van Rooijen ini, jumpscare-nya dieksekusi dengan bagus. Saya masih bisa merasa kaget ketika jumpscare-nya bermunculan, meskipun bukan karena sosok hantunya. Selain itu sosok Dave yang diperanin sama Max McNamara ini mampu jadi ice-breaker biar kamu-kamu nggak terlalu tegang pas nonton film ini. Akan tetapi…

BAGAIKAN KEMASAN SNACK JAMAN SEKARANG

The Possession of Hannah Grace bisa saya ibaratin kayak kemasan snack jaman sekarang: kelihatannya full-package banget, tapi pas dibuka isinya malah dikit banget bahkan kosong melompong. Begini, saya tahu kamu-kamu kalau nonton film horor pasti ngincer jumpscare-nya, tetapi storyline tetap adalah kunci. Di awal cerita pas Hannah Grace-nya dieksorsis saya berpikir film ini bakal jadi film yang bisa saya rekomendasiin buat kamu yang demen sama horor bernuansa keagamaan macem The Nun, The Conjuring, The Possession, dan lain sebagainya. Namun, seiring berjalannya film ini yang saya rasain cuma kaget-kaget lucu doang, malah terasa hambar dari segi cerita secara keseluruhan.

Baca juga: Sebelum Iblis Menjemput – Review: Nggak Cuma Modal Jumpscare

MISLEADING

Ya, film ini terasa misleading menurut saya. Here are the reasons why: melihat judulnya, saya pikir Hannah Grace bakalan jadi sudut pandang utama di film ini, nggak tahunya cuma di awal doang, sisanya nggak ada nyambung-nyambungnya soal kehidupan dia sebelum dia kerasukan.

Nggak cuma itu, film ini lebih condong ke drama ketimbang horornya. Bagaimana tidak? Yang sering disorot cuman masalah si Megan sama mantan pacarnya, terus konflik batinnya dalam usahanya buat bersih dari obat-obatan, dll. Macem FTV di Lifetime Channel aja gitu.

Plus nggak seperti layaknya film surup-menyurup yang lainnya, peran karakter eksorsisnya juga minim. Muncul di awal doang, abis itu udah; kagak ada campur tangannya lagi. Mungkin yang nulis skrip film ini emang segan buat ngehadirin karakter eksorsis lain karena iblis dalam Hannah Grace tuh kuat banget. Eh, justru dengan ngasih judul The Possession of Hannah Grace bikin saya berekspektasi buat ada karakter eksorsis yang bisa ngasih klimaks yang epic buat film ini. Ternyata nggak ada loh. Sakit akutu.

Summary
Saya kehabisan kata-kata seiring dengan ‘ajaibnya’ The Possession of Hannah Grace. I mean, kalau aja isi film ini relevan sama judul filmnya, pasti bakalan menarik. Namun yang saya rasain malah sebaliknya.
Good
  • Jumpscare yang unexpected
Bad
  • Plothole-nya banyak
  • Hannah Grace cuma jadi pemanis doang, nggak jadi sudut pandang utama
  • Drama banget
  • Judul sama isi film hampir nggak ada relevannya sama sekali
3
Bad
Written by
An electronic music enthusiast. An avid WWE observer. An amateur photographer. You can check his photo journal on his Instagram.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>