The Predator – Review: Fiksi Klasik Treatment MCU!

User Rating: 7
Predator kali ini tampil lebih beringas! (doc. 20th Century Fox)

Predator kembali menyerang Bumi! Makhluk extra terrestrial jahanam ini punya misi baru di film The Predator, yaitu merusak ekosistem dan kedamaian di Bumi yang diambang kehancuran akibat pemanasan global. Di saat yang bersamaan, seorang mantan tentara berpangkat tinggi, Quinn McKenna (Boyd Holbork) mengetahui kedatangan sang Predator. Ia bahkan harus kehilangan kedua rekannya saat berusaha melawan tamu tak diundang tersebut.

Sayang, bukannya diapresiasi, Quinn justru dianggap gila oleh para petingginya, yang berusaha menyembunyikan fakta soal Predator. Bahkan, ia dimasukkan ke dalam grup yang berisikan para mantan tentara yang mengalami gangguan jiwa. 

Makin pelik, ia harus melibatkan putra tercinta, Rory (Jacob Tremblay) yang menerima paket berupa topeng Predator dari sang ayah. Ia bahkan mampu mempelajari teknologinya, yang membuat sang Predator tertarik untuk menculiknya.

Tentara gila atau alig nih? (doc. 20th Century Fox)

Dikemas dalam horror action berdurasi 107 menit, The Predator adalah sajian klasik dengan sentuhan modern yang wajib kamu saksikan di layar IMAX. Apalagi, seorang Shane Black (Iron Man) ada di balik proyek terbaru 20th Century Fox ini. 

Dibalut dengan humor segar

Sejak menit awal, The Predator menggeber tensi dengan cepatnya. Para penonton bakal disajikan non-stop action dengan banyak ledakan hingga desingan peluru. Pun demikian dengan dialog yang dipenuhi humor segar khas black comedy. Beberapa adegan serius sukses diredam dengan candaan konyol para karakter yang notabene merupakan “orang gila”.

Decak kagum muncul di beberapa adegan yang melibatkan dialog santai di tengah medan perang, pendekatan yang nyaris selalu dilakukan oleh film-film Marvel Cinematic Universe. Ini yang nggak sama sekali terlintas di pikiran para sutradara terdahulu. 

Nilai plus lain jatuh pada seni grafisnya. Di mana, The Predator menyuguhkan salah satu grafis terdinamis dalam sebuah film fiksi action tahun ini. CGI terlihat halus tanpa celah, membuat penampakan para Predator terlihat mencekam. 

Hilang solid

Sayang, layaknya film franchise, harus ada yang dikorbankan. Untuk The Predator, alur cerita yang solid menjadi sebuah hal yang hilang dalam film ini. Kisahnya nggak terbangun dengan baik, membuat kebingungan tersendiri menyambut bait demi bait adegannya. Pengenalan karakter baru yang terburu-buru, tanpa ada sentimen lebih membuat film terbaru Predator ini terasa mentah.

Di mana monster itu!? (doc. 20th Century Fox)

Hanya sosok Olivia Munn yang memerankan seorang ilmuwan, Caset Bracket yang memberikan cahaya kehidupan di film ini. Tampil seksi namun gagah, Munn pantas menyandang “Girl on Fire” dalam film ini.

Dengan budget sebesar USD 88 juta, The Predator cukup mampu melewati dua suksesor sebelumnya, soal pendekatan humor yang segar. Namun, untuk mendekati prestasi film perdananya yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, rasanya mustahil. 

Summary
The Predator jadi salah satu film yang wajib kamu tonton. Tegang, seru, tapi humor yang segar ala MCU bakal bikin kamu menikmati film ini. Tampilan grafis dan CGI yang halus, membuat para Predator hadir seakan-akan nyata!
Good
  • Humornya segar dan mampu membuat tensi yang tinggi jadi santai
  • Dialog santai di tengah situasi genting mampu bikin mood kita nggak tegang-tegang amat
  • Grafisnya ciamik dan halus banget
Bad
  • Cerita kurang solid
  • Perkenalan karakter terlalu cepat dan pengembangan karakter yang tidak teratur
7
Good

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>