Tiga Alasan Kenapa DC Extended Universe Kalah Jauh dari MCU

Menurut kamu, DCEU bakal bisa mengejar kesuksesan MCU nggak sih? (doc. Warner Bros.)

Marvel Cinematic Universe kembali menghentak dunia dengan merilis Black Panther di pertengahan Februari kemarin. Film perdana sang Raja Wakanda kabarnya udah meraup uang sebesar $192 juta atau sekitar Rp2,7 triliun, cuma dari tiga hari pertama penayangannya! Dan itu baru angka dari Amerika Serikat aja lho, belum dari seluruh dunia. Kesuksesan ini jelas jadi tekanan buat DC dan Warner Bros. dengan DC Extended Universe milik mereka!

Tekanan tersebut semakin besar, apalagi tahun ini DCEU cuma ngerilis satu film, yaitu Aquaman, di akhir 2018 nanti. Sementara MCU bakal ngerilis dua film lagi setelah Black Panther, yaitu yang paling akbar tentu aja Avengers: Infinity War, dan kemudian disusul Ant-Man and the Wasp.

Mungkin Joyfriends penasaran, apa sih sebenarnya yang bikin DCEU tertinggal jauh dari MCU? Ini dia tiga alasannya menurut kami. Check it out.

via GIPHY

Telat mulai

Alasan pertama adalah DC Extendend Universe kalah start dari Marvel Cinematic Universe. Saat DCEU dimulai pada 2013 dengan Man of Steel, MCU udah memasuki Phase 2 dengan Iron Man 3 dan Thor: The Dark World.

Start lebih awal juga bikin para penonton kasual jadi lebih terbiasa dengan konsep film superhero yang dibuat oleh Marvel: Ringan, penuh komedi sarkastik, tapi di saat yang sama memiliki cerita dan karakterisasi yang kuat. Sementara itu DC mengusung konsep yang sebaliknya, serius, kelam, minim lawakan. Konsep ini jelas asing bagi penonton awam yang udah terbiasa nonton film superhero ala Marvel.

Simpelnya, di saat DCEU baru mulai, MCU udah jadi patokan film superhero bagi penonton awam di mindset mereka. Dan nggak mudah buat “menggoyang” konsep yang dimiliki MCU. Apalagi saat ini tengah memasuki fase-fase film kritis, di mana setelah 10 tahun MCU bakal memasuki babak baru lagi.

via GIPHY

Buru-buru

Ketinggalan lima tahun tampaknya bikin DC dan Warner Bros rada panik. Dari Man of Steel, mereka “ujug-ujug” bikin Batman v Superman: Dawn of Justice, yang sesuai judulnya, mempertemukan dua superhero top tier DC. Itu baru film kedua DCEU, dan tiba-tiba penonton udah disuguhi konflik antara Batman dan Superman.

Film itu juga jadi debut bagi Batman baru yang diperankan oleh Ben Affleck, dengan kisah latar belakang yang juga baru: Udah aktif selama 20 tahun, Jason Todd udah dibunuh, dan moral code-nya udah nggak sama dengan Batman yang kita tahu dari komik. Fakta-fakta tersebut jelas terlalu banyak dan terlalu asing buat penonton awam. Man, berapa banyak sih orang awam yang tahu kalau ada lebih dari satu Robin dan salah satunya pernah mati di tangan Joker?

Nggak cuma itu, di film tersebut kita juga bisa melihat Wonder Woman, Aquaman, Cyborg, dan The Flash sebagai cameo untuk pengantar film Justice League yang baru aja tayang November kemarin. Bayangkan, tanpa ada film solo or at least pengenalan karakter yang lebih dalam di film-film sebelumnya (kecuali Wonder Woman tentunya), Warner Bros. dan DC berani bikin Justice League. Sebuah langkah yang berani kalau bukan nekat.

Bagi para fans, jelas hal itu nggak masalah, mereka tentunya udah kenal karakter-karakter tersebut. Tapi penonton kasual? Selain Trinity, paling cuma kenal The Flash, itu juga gara-gara serialnya di CW atau nonton di Netflix.

Padahal kalau DC mau “berjalan” dengan sedikit lebih pelan dan hati-hati, konsep kelam dan serius yang mereka usung itu bisa jadi senjata pamungkas untuk mengimbangi MCU saat ini. Kita udah lihat sendiri bagaimana Captain America: The Winter Soldier yang tone-nya mirip dengan film-film DCEU disebut-sebut sebagai film terbaik MCU. Hal ini membuktikan kalau sebenarnya film superhero yang serius memiliki tempat di hati para penonton.

Tapi balik lagi, MCU udah memiliki konsep dan karakterisasi yang jelas dari awal. Hal yang nggak dimiliki oleh DCEU bahkan sampai detik ini.

via GIPHY

Nggak ada planning yang jelas

Dari poin sebelumnya kita bisa menyimpulkan kalau DC dan Warner Bros. tampaknya nggak punya planning yang jelas terkait DCEU. Ingat waktu Harley Quinn mendadak ngetop pasca Suicide Squad?

Nggak lama setelah itu muncul wacana kalau bakal ada film solo tentang Harley Quinn. Wacana itu kemudian berubah lagi, film Harley Quinn nggak jadi, jadinya Gotham City Sirens. Itu pun sekarang nggak jelas nasibnya gimana. Belum lagi film-film lain yang nasibnya nggak jelas seperti Flashpoint, Cyborg, Green Lantern Corps, dan tentu saja yang paling fenomenal, The Batman.

DC dan Warner Bros. seakan-akan nggak pede dengan universe yang mereka buat sendiri, literally penuh ketidakpastian sampai hampir nggak ada berita terkait DCEU yang nggak cuma rumor.  Begitu nggak pede, hingga suara fans dan kritikus tampaknya bisa begitu berpengaruh terhadap pengambilan keputusan mereka. Justice League adalah contoh terakhir bagaimana DC dan Warner Bros. berusaha menuruti pendapat penonton dan kritikus dengan membuat film tersebut lebih ringan dan “cerah”.

Bandingkan dengan Marvel, mereka begitu percaya diri dengan konsep dan cerita yang mereka usung, sampai-sampai berani mengangkat Guardians of the Galaxy, tim superhero “kelas 2” yang sebelum filmnya tayang bahkan nggak banyak penonton awam yang tahu. Hasilnya? Sukses besar.

Itulah tiga alasan utama kenapa DCEU tertinggal dari MCU menurut kami. Setuju dengan apa yang analisis kami? Atau Joyfriends mungkin punya pendapat lain? Silahkan sampaikan di kolom komentar ya!

Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

4 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>