Midnight Diner: Tokyo Stories – Review: Cerita Makan Malam

User Rating: 8

Kalo kamu nyari tontonan yang ringan dan nggak perlu mikir, yakin deh Midnight Diner: Tokyo Stories adalah salah satu tontonan yang bisa kamu nikmati. Dengan genre slice of life, kamu bisa nonton serial ini nggak berurutan. Serial ini bukan tv show baru sih karena rilisnya aja tahun 2016, tapi dengan ceritanya yang sederhana dan timeless membuat Midnight Diner: Tokyo Stories tetep bisa kamu nikmati.

The night begun after midnight clock passed. Kayaknya frase ini cocok banget buat Midnight Diner: Tokyo Stories. Setiap episode diawali dengan dialog The Master (koki sekaligus pemilik tempat makan), “when people finish their day and hurry home, my day starts.” Dilengkapi pula dengan kesibukan Tokyo di malam hari – the city that never sleep.

Bercerita soal tempat makan malam yang baru buka dari jam 12 malam sampai jam 7 pagi, ternyata cerita dari setiap pengunjungnya pun beragam. Per-episodenya yang cuma sekitar 24 menit, dan menawarkan 10 episode di setiap musimnya – makanya kamu bisa nonton ini di sela-sela jam makan siang kamu tanpa buru-buru. Apalagi di setiap episodenya kamu juga disuguhi makanan-makanan Jepang yang mouth watery.

Ada Cerita di Setiap Masakan

Nggak ada menu khusus yang disediakan oleh The Master. Selama dia punya bahannya, mau seaneh apapun makanan yang diminta konsumennya, dia akan buatkan. Se-ekstrem bahkan ada dua episode dimana pengunjungnya sampai membawakan bahan sendiri. Di setiap episodenya pun, setiap menu memiliki cerita dengan pemesannya. Ada yang mengantarkan ibu dan anak yang lama terpisah, menyatukan sepasang suami istri yang lagi berantem, and so on, and so on, and so on.

Keberagaman pengunjungnya pun juga menjadi daya tarik dari serial ini, terutama dengan berbagai problematika yang akhirnya mengalir begitu saja di sela-sela makan. Once my uncle says, that food is universal language. You can start a friendship, a story, a war – all over food. Bahasa universal dari makanan ini juga yang akhirnya meruntuhkan segala boundaries, dan The Master menampung semua cerita tadi.

Summary
Dengan cerita yang sederhana tapi tetap humanis, kamu nggak cuma dikenalin dengan makanan-makanan khas Jepang. Tapi bagaimana kearifan lokal disana, lengkap dengan jokes-jokes yang mudah dimengerti.
Good
  • Cerita yang ringan
  • Durasi yang nggak terlalu panjang
  • Menu-menu yang ajaib buat inspirasi makan malam kamu
  • Nggak harus ditonton continuously.
Bad
  • Beberapa episode ceritanya terlalu lambat
  • Ada karakter yang juga terlalu absurd yang bisa bikin kamu mengernyitkan jidat.
8
Great

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.