The End of The F***ing World – Review: Calon Bonnie Clyde

User Rating: 8.5
Coba bayangin gimana jadinya kalau dua remaja ini berusaha untuk keluar dari zona nyaman remaja pada umumnya. Nonton makanya! (doc. Netflix)

Kayaknya saya masih inget banget sekitar awal tahun ini salah satu temen baik saya mengirim pesan tengah malam, isinya cuma link YouTube serial The End of The F**king World dan pesan dibawahnya, “LO HARUS NONTON!”. Singkat, nggak basa basi. I asked him, what’s so good on this series – yet he said “WATCH IT YOURSELF”. Iya, pakai caps lock. Masalahnya, teman saya ini bukan tipikal yang rajin ngobrol di chat. So that I know it is THAT important to watch this series.

Nonton The End of The F**king World sebenernya nggak kerasa lama,karena satu episode cuma sekitar 20 menit, beberapa malah kurang. Total hanya 8 episode, daripada nonton series rasanya malah kayak nonton film panjang. You better put all the episode on one playlist, so it won’t waste your energy.

Asalnya saya mengira serial ini rasanya sama seperti 13 Reasons Why. Latarnya anak sekolahan, temen juga cuma sedikit. James, our hero here, tipikal cowok awkward yang punya jalan pikirannya sendiri. James sendiri self claim kalo (mungkin) dia adalah psikopat karena selalu ada hasrat ingin membunuh yang besar. Alyssa, tipikal cewek (mencoba) nakal tapi masih naif. Tapi ternyata, perkiraanku salah! Bisa dibilang, rasanya seperti nonton Bonnie sama Clyde kalo mereka ketemu masih SMA.

Nggak ada yang biasa aja dari series Netflix ini. (doc. Netflix)

Kegelisahan ABG yang mencari jati diri, dengan hasrat you and I, we rule the world kental banget di serial ini. Tapi nggak lupa diselipin isu-isu sensitif yang disampaikan secara cerdas. Isu-isu besar seperti pedofilia, depresi, sexual harassment, semuanya disampaikan secara sederhana dan lugas, nyentil tapi dalam – semuanya tanpa menghilangkan unsur humor di dalamnya.

Nggak banyak series yang absurd tapi bisa bikin emosi saya campur aduk sepanjang season (masalahnya satu season juga durasinya pendek banget sih). Mulai dari yang nggak simpatik, berubah simpatik, berubah lagi senang, berubah lagi sedih, semuanya di 160 menit. Dark humor ala british yang dimasukkan juga nggak terkesan maksa, semuanya ngalir gitu aja. Kamu bisa aja langsung suka sama satu karakter, bisa juga langsung benci sama karakter yang lain. But no, no with James and Alyssa.

via GIPHY

Sebenernya ada banyak banget yang pengen saya komentarin, tapi saya nggak mau nge-spoiler terlalu banyak. Pesan saya sebelum nonton ini, rules­-nya mirip nonton Game of Thrones. Jangan pernah nebak what will happen next. Hampir semuanya out of the box. Durasinya emang singkat, tapi menurut saya justru disitu nilai plus-nya.

Nggak ada basa basi busuk yang sekedar nambah-nambahin durasi. Jadinya malah saya ngarep, pengen Netflix mempertimbangkan season 2-nya, simply because I want to know what will James do next. I’m tired of expecting something, please surprise me.

Summary
Nggak ada yang biasa aja dari The End of The F**king World. Tempo yang cepat, perkembangan karakter yang ngena, sekaligus menyentil berbagai isu sensitif.
Good
  • Durasinya yang nggak lama, nggak bikin jebol jam tidur
  • Semua karakter di sini kuat, tapi nggak saling nimpa satu sama lain
  • Banyak kejutan yang bisa bikin kamu terbengong-bengong waktu nonton
Bad
  • Mungkin buat beberapa orang, series ini terlalu freak dan bikin nggak nyaman waktu nonton
8.5
Great

Is the Story Interesting?

10 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>