Tengkorak – Review : Suguhan Esoterisme Berbalut Kearifan Lokal

User Rating: 8.5
Penemuan tengkorak setinggi 1.8 kilometer menggugah rasa penasaran dunia. Apakah kita ingin tau lebih dalam?

Bagi saya dan Arfindra, melihat hadirnya film bergenre fiksi ilmiah buatan indonesia saja sudah sangat girang. Apalagi dengan judul yang mirip-mirip film horror, Tengkorak menyajikan premis tidak biasa yakni “penemuan sebuah tengkorak manusia setinggi 1.8 kilometer di Jogja”. Ini jelas-jelas sangat menarik dan bikin penasaran.

Apalagi dalam awal-awal penayangan, film karya sutradara Yusron Fuadi ini menggegerkan publik setelah sukses menembus festival film Jogja Netpac Asian Film Festival 2017 dan menjadi film spesial galanya. Nggak berhenti di situ, respon baik tersebut dilanjutkan dengan diikutkannya ke Cinequest Film VR Festival 2018 yang diadakan pada awal tahun 2018 ini di San Hose, California. Beberapa bulan setelahnya, Balinale Film Festival 2018 menjadikannya Official Selection.

Rasa penasaran kami berdua pun terbayar setelah Tengkorak secara resmi boleh diputar secara komersil (walau terbatas) di bioskop seluruh Indonesia pada bulan Oktober ini. Di hari kelima saja sudah sukses meraup 19,670 penjualan. Keluar dari gedung bioskop pun kami berdua sepakat untuk bilang kalau film ini EDAN.

Dengan mengambil tema reassesing, rethinking, dan rediscovering humanity, Tengkorak menceritakan tentang umat manusia yang menemukan fosil tengkorak setinggi 1.850 meter yang telah berumur 170 ribu tahun di pulau Jawa. Penemuan menggegerkan ini bisa dimungkinkan akibat gempa di Jogja pada tahun 2006. Hal ini membuat bingung pemuka agama dan para ilmuan atas temuan ini, dengan spekulasi yang macam-macam. Saking liarnya, pemerintah pun menutup situs tersebut dan mengkarantina lokasinya. Nggak ada info dari dalam bisa keluar, mengingat masyarakat sekitar juga nggak begitu melek teknologi dan serangan terbesar tentu datang dari luar.

Cerita dimulai saat seorang gadis yang magang di Balai Penelitian Bukit Tengkorak (BPBT), Ani ( Eka Nusa Pertiwi ) tengah diancam nyawanya oleh pembunuh tidak dikenal. Untungnya, dia diselamatkan oleh pria misterius bernama Yos ( Yusron Fuadi ). Ternyata Ani menyimpan kunci misteri di balik penemuan fosil tengkorak tersebut. Mampukah mereka mengungkap rahasia tersebut sembari berpacu dengan orang-orang yang menginginkan rahasia tersebut tertutup rapat?

Tengkorak menarik dalam banyak sisi. Pertama bisa kita ulas dari premis ceritanya itu sendiri. Meski terdengar aneh, tapi penemuan tengkorak setinggi 1.8 kilometer itu luar biasa. Misal aja ada penemuan kerangka manusia purba setinggi 2 meter, itu udah lazim. Cuma ini 1.8 kilometer yang bisa berarti banyak hal, termasuk kita bukanlah satu-satunya makhluk superior di atas dunia. Pertanyaannya adalah maukah kita mencari kebenarannya?

Demi mempelajari tengkorak, pemerintah Indonesia membuka Balai Penelitian Bukit Tengkorak (BLBT) yang diisi oleh ilmuan banyak negara, kecuali Amerika.

Narasi itulah yang awal-awal diceritakan melalui montase-montase laporan media, wawancara narasumber internasional, budayawan, sampai ke wong alit. Kita bisa dengan cepat memahami apa yang terjadi, lengkap dengan semua asumsi masyarakat. Dari sini saya mengapresiasi bagaimana cepatnya cerita dijabarkan dengan sangat meyakinkan, sebab tidak hanya gaya pengambilan gambar, sampai bahasa pun diperhatikan. Sangat menyenangkan rasanya melihat ada wawancara dari ilmuwan Perancis diikuti wawancara dari masyarakat bawah seperti tukang baso tusuk dengan guyonan khas masyarakat Jawa.

Nampaknya pendekatan dengan kearifan lokal itulah yang menjadikan Tengkorak berdiri sebagai film fiksi ilmiah yang menyenangkan. Buat saya pribadi, cerita fiksi ilmiah dengan tensi tinggi dikemas dengan budaya Jawa itu sungguh sebuah hiburan. Melihat Yos mengumpat dalam pisuhan (maki-makian) Jawa berbalas-balasan dengan Ani adalah sebuah kelangkaan dalam industri film sekarang.

Meski demikian, Tengkorak bukan hadir tanpa celah. Banyak yang menyayangkan inskonsistensi cerita yang sudah terbangun kuat moodnya di awal menjadi film yang campur aduk antara aksi, cinta dan komedi. Sebenarnya bisa saja film ini dibangun di atas semua itu asalkan dibarengi dengan eksekusi yang matang. Sayangnya, dalam beberapa babak kami masih menemukan kelemahan dan kurangnya chemistry antar tokoh-tokoh utama.

Bukannya tidak suka, tapi sayangnya chemistry antara Ani dan Yos tidak terjalin rapih.

Lubang-lubang logika untuk hubungan antar manusia yang seharusnya masih bisa digali di awal-awal film menjadi sirna digantikan dengan potongan-potongan adegan yang seharusnya tidak patut diberikan. Dari sini terlihat kurangnya kualitas editing dan penanaman emosi. Maka jangan kaget kalau tiba-tiba di tengah film Ani dan Yos udah berantem layaknya mereka udah kenal selama 3 bulan lebih.

Untungnya saya bisa menerima kekurangan ini mengingat Tengkorak adalah proyek pribadi Yusron Fuadi. Seorang dosen di sekolah vokasi yang berada di bawah naungan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Selain menjadi sutradara, penulis dan pengarah adegan, beliau juga menjadi salah satu aktor utama di film ini. Sebuah proyek yang bisa dibilang menguras tenaga dan perhatian di tengah kesibukannya mengajar, sebuah kewajaran. Nggak heran film yang diproduksi sejak 2013 ini baru bisa dinikmati sekarang.

Bagi Arfindra, film ini termasuk film introspeksi diri, karena membawa berbagai tema dari tema religius, aksi, politik, pembunuhan, dan esoterik tingkat tinggi. Karena itu film ini bisa jadi ambivalen buat penontonnya. Dalam artian Tengkorak bisa menjadi bagus karena pemahaman penonton yang mendalam dari temanya, atau bisa menjadi dangkal karena tidak pahamnya dengan tema esoterik dari kehidupan, kematian, dan kemanusiaan.

Secara personal, Arfin menganggap Tengkorak adalah film yang life-changing, dia bisa dibikin ketawa, menangis, takut, bahagia dan marah selama 2 jam penayangan. Semua pengalaman tersebut sudah cukup menjadikan film ini sebagai salah satu favoritnya, apalagi dengan ending yang sangat dhuaaarrr sekali. “Saya pikir kamu harus nonton deh, nggak bakal rugi, trust me,” yakinnya.

Ulasan ini dibuat bersama dengan Arfindra, penulis Joypixel yang artikel-artikelnya bisa kamu baca di sini.

Summary
Tengkorak membuktikan film Indonesia mampu memproduksi genre fiksi imliah yang berkualitas dengan tidak melupakan unsur-unsur pendukung yang sangat melekat dan membumi. Mind-blowing and must see!
Good
  • Suguhan eosterisme mumpuni, sangat memancing unsur penasaran
  • Soundtrack sesuai, nggak norak dan mampu membangun mood
  • Tidak monoton, berterima kasihlah kepada selipan dialog yang sangat njawani
Bad
  • Banyak bagian pendukung yang tidak diceritakan, membuat lubang di jalan cerita utama
  • Khemistry antara Yos dan Ani yang tidak dapat terbangun sempurna menjadikan beberapa bagian di film ini aneh
  • Beberapa footage yang diambil cukup asal, lebih baik dikurangi daripada dihadirkan tapi merusak mood
8.5
Great
Written by
Being adult with the spirit of Samurai X and Neon Genesis Evangelion, this man now decided to make a team of superhero like Avengers. Moviegoers and you can follow his visual track on instagram.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>