Film Gundala – Review: Secercah Harapan untuk Film Indonesia

User Rating: 7.5
Film Gundala ini memang jadi film yang wajib kamu tonton guys! (doc. BumiLangit)

Film Gundala memang mencuri perhatian masyarakat Indonesia saat ini. Saat membayangkan berbagai hal tentang superhero, hal yang mungkin hampir ada di benak banyak orang adalah karakter-karakter dari komik Marvel, maupun DC. Pun, ketika banyak perusahaan komik lain membuat karakter superhero kemudian hadir dalam dunia sinema, kerap kita membanding-bandingkan dengan dua legenda produksi karakter superhero itu.

Tidak terlepas dengan film Gundala, superhero asal Indonesia buatan komikus Harya “Hasmi” Suraminata yang filmnya digarap oleh sineas kenamaan Joko Anwar, JoyFriends. Joko Anwar membuat kejutan dengan memperkenalkan sebuah dunia baru dalam perfilman superhero di Indonesia: BumiLangit Cinematic Universe. Keren kan? Dari namanya pun mungkin membuat kamu langsung membanding-bandingkan dengan produksi film dari Hollywood.

Mula-mula kamu dikejutkan dengan aktor dan aktris top tier yang mengisi BumiLangit Cinematic Universe yang ramai di dunia maya, belum lagi produksi film ini pun terbilang sangat niat, bahkan dari segi pendanaan, sponsor, dan media yang terlibat membuat ekspetasi banyak orang tinggi terhadap film manusia listrik ini. Dari sini, Joko Anwar sudah membuat hype yang sangat baik. Belum lagi, Gundala menjadi film Indonesia pertama yang didukung oleh teknologi suara Dolby Atmos! Keren banget, kan?

Waktu premierenya kemarin nih. (photo by Iman Ramadhan)

Booth merch Gundala

Yang kerennya lagi, saat Press Conference dan Media Screening pada Rabu (28/08) kemarin, Universe yang dibangun Joko Anwar ini sangat menjanjikan. Sudah ada vendor yang membuat action figure Sang Putra Petir dengan beberapa skala. Sudah ada merch yang terbilang lengkap.

Film ini menceritakan perjalanan Sancaka kecil (Muzzaki Ramdhan), seorang anak kecil yang tinggal bersama ayah (Rio Dewanto), dan ibunya (Marissa Anita) di daerah suburban, hingga  menjadi seseorang yang memilki kemampuan super listrik. Dalam perjalanannya, Sancaka besar (Abimana Aryasatya) bertemu dengan Wulan / Merpati (Tara Basro) yang membuatnya melawan preman pasar hingga bertemu orang di baliknya, Pengkor (Bront Palarae) beserta asistennya Ghazul (Aryo Bayu).

Pembukaan pada film ini mengingatkan penulis akan film-film produksi Marvel. Hal ini langsung terlintas ketika melihat bumper awal BumiLangit Cinematic Universe yang menampilkan tokoh-tokoh superhero serta pembawaan tone yang ala Marvel. Desain karakternya pun sekilas mengingatkan akan karakter The Flash dari DC.

Tentu ada hal-hal pada film ini yang membedakan dari komik aslinya, maupun filmnya yang hadir di tahun 1981. Well, namanya juga adaptasi. Meski ada beberapa bagian dari film ini yang membuat referensi dan penghormatan kepada komik aslinya, sang sineas kemudian menambahkan semacam skena ‘what if’s’ yang menjadi plot utama film. Kalau di komiknya, sang tokoh utama Sancaka bekerja sebagai ilmuwan dan insinyur, di film adaptasi ini ia menjadi seorang…… Tonton saja sendiri, JoyFriends! Takut spoiler hehehe.

Hal itu pula yang membuat asal muasal kostum Gundala ini ada menjadi sedikit berbeda, meskipun pada akhirnya cara kostum tersebut tercipta terlihat masuk akal. Tidak ada dunia Kaisar Kronz yang dalam komik membuatnya memiliki kostum dan kekuatan petir saat Sancaka sedang ingin membuat serum anti petir.

Dari segi villain-nya pun terkesan lebih ‘merakyat’, lebih realistis dan dekat dengan keadaan di Indonesia, meski sama-sama orang yang punya kuasa dan menyalahgunakan kekuasaannya. Hal ini menjadi poin tersendiri yang membuat penonton merasa sangat berhubungan dengan keseharian di Indonesia.

Konflik yang disajikan sedari awal juga sangat dekat dengan realita di Indonesia. Konfliknya sangat lekat dengan kaum proletar dan pemilik modal. Bahkan konfliknya sebenarnya cukup kompleks: kaum proletar melawan kaum yatim… didikan Pengkor.

Scoring dan Sinematografinya nggak usah diragukan!

Soal tone, sinematografi, reasoning dalam cerita, kemampuan Joko Anwar nggak usah ditanya lagi, deh. Semuanya dilibas dengan baik oleh sang sineas dengan bantuan Ical Tanjung sebagai seorang sinematografer. Namun bukan berarti film ini nggak ada kekurangan sama sekali, JoyFriends.

Kekurangan utama dalam film ini adalah CGI yang masih kelihatan kaku, kurang smooth, dan kurang natural. Namun, untuk ukuran film Indonesia oke lah, meskipun tiga poin tersebut memang cukup mengganjal. Tapi jangan bandingkan dengan Marvel atau DC juga ya. Ada tiga bagian yang sangat penulis perhatikan saat menonton premiere-nya. Hal yang paling penulis lihat adalah adegan berantemnya, serta saat Gundala akhirnya memiliki kekuatan petirnya.

Rame nih yang dateng ke premiere kemarin. (photo by Iman Ramadhan)

Keramaian saat Premiere Gundala

Seperti tulisan saya sebelum-sebelumnya, saya selalu menyebut dan memperhatikan sebuah humor pada film. Suka tidak suka, humor adalah bagian penting yang membuat penonton merasa relate dan enjoy, karena humor adalah komunikator handal. Begitupula pada film Gundala ini, humornya pun sangat baik dan menghibur. Tidak terkesan dipaksakan atau terkesan cheesy.

Scoring dan soundtrack-nya juga cukup sangat baik. Namun ada satu bagian adegan fighting yang terasa scoring-nya kurang cocok. Ini pendapat pribadi penulis saja sebenarnya. Kemudian lirik pada soundtrack pun harusnya bisa lebih bervariasi. Tapi yah, itu selera pribadi sih.

Awal yang baik untuk era baru film Indonesia

Pada akhirnya, Gundala dan BumiLangit Cinematic Universe cukup memberi angin segar dalam perfilman Indonesia. Film ini terbilang ‘lumayan’, dan menurut pendapat pribadi penulis, adalah awal yang sangat baik dari berbagai aspek. Mendapat tema film baru, pembuktian bahwa Indonesia juga bisa menciptakan film superhero, juga secercah harapan dalam dunia perfilman serta dunia editing CGI. Film ini adalah salah satu film Indonesia yang eksekusi dan pemasaran yang sangat baik, yang akan sendirinya didukung oleh khalayak tanpa embel-embel ‘karya anak bangsa’, karena film ini memiliki kualitas sendiri.

Asal kamu nggak berekspetasi lebih Gundala akan seperti film-film karya Marvel Cinematic Universe maupun DCEU, film ini sudah cukup lumayan bisa dinikmati. Kan kemakan ekspetasi nggak enak hehehe… Tapi, sang Putra Petir ini adalah secercah harapan. Sebuah batu loncatan untuk era baru perfilman Indonesia.

Seperti kata Pengkor, “Harapan adalah candu, dan candu itu bahaya.” Tapi candu harapan pada film ini sebagai batu loncatan nggak bahaya kok, JoyFriends.

Di akhir film Gundala menyajikan kejutan-kejutan lucu yang pastinya bikin kamu gemes dan gregetan sendiri. Penasaran? Langsung aja nonton filmnya di bioskop-bioskop terdekat mulai 29 Agustus, JoyFriends!

Summary
Meskipun kendala CGI nampak sulit untuk dihindari, tapi film Gundala ini benar-benar jadi sajian yang fresh dan menjadi nafas baru untuk perfilman Indonesia. Langsung nonton yuk di bioskop!
Good
  • Sebuah awal yang baik dan memiliki harapan ke depannya
  • Sinematografi, scoring, dan ceritanya diramu dengan apik
  • Terasa realistis dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia saat ini
Bad
  • CGI yang masih kaku, kurang smooth, terlihat dibuat-buat banget
7.5
Good
Pemain bass di sonicwaves | Gemar memotret | Menulis di JoyPixel dan blog pribadi | Demen musik, film, series, game, komik, gadget dan banyak hal lainnya, makannya cocok kan di JoyPixel.

Is the Story Interesting?

2 0

Film Gundala – Review- Secercah Harapan untuk Film Indonesia

Written by
I'm just a man who likes playing a game, watching movies, tv series, Dragon Ball, Digimon, Attack on Titan, and Kamen Rider.

Is the Story Interesting?

0 0